Catatan Cak AT:
Video itu berlangsung di tempat yang nyaris tak memiliki kesan sakral. Bukan di masjid dengan kubah menjulang, bukan pula di ruang kuliah dengan podium dan papan tulis. Ia direkam di jalan samping gerbang Washington Square, New York.
Tampak seorang lelaki berjas dan berdasi berjalan bersama Sneako, pembuat konten kontroversial yang dikenal luas di internet. Lelaki itu Jiang Xueqin. Di dunia maya, orang mengenalnya sebagai Prof Jiang, pengajar sejarah dan geopolitik.
Hari itu, percakapannya dengan Sneako tiba-tiba berbelok ke agama. “Man, we need an Islam. It’s the only solution.”
“Yep. That’s right,” jawab Jiang sambil terus melangkah cepat.
Lalu, masih sambil berjalan, Sneako memintanya mengulang baca dua kalimat syahadat. Jiang mengikuti, kata demi kata, dengan pelafalan masih terbata-bata: Asy-hadu an la ilaha illallah, wa asy-hadu anna Muhammadan rasulullah. Setelah itu, Sneako mengucapkan, “Allahu Akbar.”
Namun, yang menarik bukan hanya momen pengucapan itu. Sneako masih meminta kepastian: apakah Jiang memahami makna kalimat yang baru diucapkannya? Jiang menjawab bahwa “kalimat itu indah”. Tak ada penjelasan lebih jauh.
Ketika ditanya apakah ia percaya Muhammad adalah utusan Tuhan, ia menjawab, “I believe Muhammad is the messenger of God. Yes.” Ia juga menyetujui bahwa tidak ada yang berhak disembah selain Tuhan.
“Alhamdulillah,” kata Sneako. Kemudian banyak potongan video ini beredar di berbagai platform media, yang menyebut Prof. Jiang telah masuk Islam. Tapi, ada juga yang meragukannya.
Begitulah sebuah peristiwa besar kadang muncul tanpa tata upacara yang megah. Ia menyelinap di antara langkah kaki, percakapan spontan, dan suara kendaraan kota besar New York, Amerika Serikat. Ia cukup direkam, mungkin dengan kamera biasa, lalu dunia tahu.
Tetapi justru karena itulah, kita perlu membacanya dengan kepala dingin. Kita tak perlu tergesa-gesa menjadikannya tontonan spektakuler yang beredar begitu luas di internet, tetapi juga tidak buru-buru mengecilkan maknanya.





