Di era media sosial, setiap peristiwa mudah berubah menjadi bendera kelompok. Seseorang mengucapkan syahadat, lalu berbagai pihak berlomba mengklaim: siapa yang berhasil mengislamkannya, siapa yang paling berjasa, siapa yang paling berhak menjelaskan maknanya.
Padahal, Islam tidak membutuhkan kemenangan humas dari setiap orang yang masuk Islam. Hidayah bukan trofi yang boleh dipajang di etalase organisasi. Ia amanah yang menuntut tanggung jawab.
Yang lebih penting dari siapa yang menuntun Jiang membaca syahadat ialah apakah ia menemukan komunitas yang membantunya belajar dengan tenang. Apakah ia bertemu Muslim yang memperlihatkan keindahan akhlak, keluasan ilmu, dan kedalaman ibadah?
Kita berharap ia menemukan bahwa tauhid bukan hanya teori yang indah dalam kuliah, tetapi juga kekuatan untuk berlaku adil, jujur, rendah hati, dan tidak menyembah kepentingan diri.
Sebab, jika Islam disebut sebagai revolusi intelektual, revolusi itu tidak boleh berhenti di kepala. Ia harus turun menjadi cara hidup.
Tauhid yang benar semestinya membuat manusia lebih merdeka dari kesombongan, bukan lebih sombong karena merasa memiliki kebenaran.
Tauhid semestinya melahirkan ilmu yang bermanfaat, bukan kebanggaan kosong atas kejayaan masa lalu. Ia semestinya mendorong perbaikan dunia, bukan sekadar nostalgia tentang zaman keemasan.
Jiang mungkin baru saja mengucapkan syahadat. Kita belum tahu sejauh mana perjalanan keagamaannya akan berkembang. Dan kita tidak perlu mengarang bab-bab yang belum ditulisnya.
Tetapi percakapan itu mengingatkan kita pada sesuatu yang sering luput. Islam bukan hanya kumpulan jawaban ritual, melainkan juga tawaran mendasar tentang bagaimana manusia memahami realitas. Tauhid menyatukan langit dan bumi, ilmu dan tanggung jawab, kebebasan dan penghambaan.
Di tengah dunia yang semakin ramai oleh berhala-berhala baru, mungkin itulah alasan kalimat yang paling sederhana masih memiliki daya gugah yang begitu besar: La ilaha illallah. Tidak ada yang berhak disembah selain Allah.
Kalimat pendek, tetapi cakrawalanya luas. Ia dapat menjadi awal perjalanan seorang akademisi.
Ia juga dapat menjadi cermin bagi orang-orang yang sudah lama mengaku beriman: apakah benar hanya Allah yang kita sembah, atau diam-diam kita masih bersujud kepada kekuasaan, uang, popularitas, dan ego sendiri?
Cak AT – Ahmadie Thaha | Kolumnis




