Jiang telah membicarakan Islam sebelum video syahadat itu beredar. Ia tidak tiba-tiba menemukan agama ini dari sebuah percakapan singkat di jalan. Dalam kuliah-kuliahnya, ia sudah menganggap Islam sebagai salah satu kekuatan besar yang membentuk sejarah manusia.

Ia melihat Islam sebagai kelanjutan kisah kenabian, sebagai agama yang membawa gagasan tentang Tuhan lebih dekat kepada kehidupan manusia, dan sebagai kekuatan yang mendorong umatnya membangun dunia.

Dalam penjelasannya, ia bahkan menghubungkan beberapa gagasan Islam dengan perkembangan modernitas Eropa, termasuk gagasan tentang hubungan personal manusia dengan Tuhan dan dorongan untuk memperbaiki dunia.

Pembacaan itu tentu dapat diperdebatkan. Sejarah Reformasi Protestan, misalnya, memiliki konteks sosial, politik, dan teologis yang kompleks. Tidak tepat menyederhanakannya sebagai akibat langsung dari Islam.

Demikian pula, modernitas memiliki banyak akar yang saling bertaut. Tapi justru di situlah pentingnya membaca Jiang secara serius. Kita tak usah menelan seluruh kesimpulannya, melainkan memahami pertanyaan yang ia ajukan.

Mengapa Islam, yang sering digambarkan dalam narasi populer sebagai agama masa lalu, justru pernah menjadi motor kemajuan intelektual?

Mengapa tauhid yang tampak sederhana dapat melahirkan konsepsi tentang ilmu, hukum, tanggung jawab, dan peradaban?

Mengapa hubungan dengan Tuhan tidak harus menjauhkan manusia dari dunia, tetapi dapat mendorongnya mengolah dunia?

Pertanyaan-pertanyaan itu lebih berharga daripada sekadar menjadikan Jiang sebagai “orang terkenal yang masuk Islam”.

Tentang status keislamannya, M. Hijab —dalam tanggapan yang dikutip dalam video yang beredar— memberikan penjelasan yang cukup hati-hati. Ia mengatakan, secara teknis, orang yang mengucapkan syahadat dan menyatakan mempercayai maknanya dapat dihukumi sebagai Muslim.

Namun, ia juga menilai akan lebih baik jika Jiang menjelaskan secara lebih terperinci apakah ia menerima Al-Qur’an sebagai firman Allah, meyakini kenabian Muhammad, dan memahami dasar-dasar Islam.

Pandangan itu masuk akal sebagai ajakan untuk membedakan dua hal: hukum lahiriah dan kedalaman perjalanan iman. Dalam tradisi Islam, seseorang yang mengucapkan syahadat dengan keyakinan yang benar telah memasuki Islam.

Adapun kadar pemahaman, keteguhan, dan perjalanan spiritualnya merupakan perkara yang terus berkembang. Kita tidak perlu menuntut seorang yang baru bersyahadat langsung menjadi ulama, apalagi lulus ujian komprehensif akidah di trotoar Manhattan.

Tetapi kita juga tidak perlu menjadikan momen itu sebagai bukti bahwa seluruh persoalan keislaman Jiang telah selesai. Syahadat adalah pintu, bukan garis finis.

Setelah pintu terbuka, ada perjalanan panjang. Mulai dari belajar Al-Qur’an, mengenal sunnah, memahami ibadah, membangun akhlak, hingga menguji keyakinan melalui kehidupan nyata.