Jiang Xueqin bukan nama baru dalam dunia pendidikan dan analisis sejarah. Ia lahir di Guangdong, Tiongkok, pada 1976, kemudian keluarganya bermigrasi ke Kanada. Ia menyelesaikan pendidikan sarjana sastra Inggris di Yale University pada 1999.
Setelah itu, ia kembali ke negara kelahirannya. Ia berkecimpung dalam dunia pendidikan di Tiongkok, antara lain melalui program sekolah eksperimental dan pembaruan pendidikan.
Pada 2014, ia menerbitkan Creative China, buku yang mengkritik sistem pendidikan yang terlalu mengandalkan hafalan, ujian, dan kepatuhan mekanis. Menurutnya, sekolah harus melahirkan manusia kreatif yang mampu berpikir kritis, bukan sekadar mesin penghasil jawaban benar.
Jadi, sebelum menjadi komentator geopolitik, Jiang lebih dahulu merupakan pendidik. Ia pernah terlibat dalam pengembangan sekolah dan menulis tentang bagaimana pendidikan dapat membentuk manusia yang lebih mandiri.
Profilnya sebagai pengajar juga dikonfirmasi oleh wawancara Ian Johnson di The New York Review of Books pada 2014, ketika Jiang terlibat dalam reformasi pendidikan di Tiongkok.
Popularitasnya melonjak melalui kuliah-kuliah tentang sejarah peradaban, strategi, dan geopolitik. Ia mengembangkan pendekatan yang disebut predictive history.
Ia membaca pola sejarah, struktur kekuasaan, psikologi elite, serta teori permainan untuk memperkirakan arah peristiwa. Seperti Ibnu Khaldun, ia melihat sejarah dari perspektif luas perkembangan sosial.
Dalam praktiknya, Jiang kerap membandingkan konflik modern dengan peristiwa masa lampau. Ia, misalnya, menggunakan Ekspedisi Sisilia Athena pada 415 SM sebagai analogi untuk menjelaskan risiko operasi militer Amerika Serikat terhadap Iran.
Ia juga menggabungkan sejarah dengan gagasan psychohistory dalam novel Foundation karya Isaac Asimov. Tapi tentu, itu bukan sebagai ilmu yang sudah mapan, melainkan sebagai inspirasi untuk membayangkan bagaimana perilaku masyarakat dapat dibaca melalui pola.
Pendekatan itu membuatnya menarik sekaligus kontroversial. Para pengikutnya melihat keberanian membuat prediksi yang dapat diuji. Para pengkritiknya mengingatkan bahwa sejarah bukan mesin fotokopi.
Pola lama tidak otomatis menghasilkan peristiwa baru yang sama. Terlalu banyak variabel, terlalu banyak kemungkinan, dan terlalu mudah bagi manusia untuk hanya mengingat prediksi yang kebetulan benar.
Namun, terlepas dari soal akurasi ramalannya, ada satu hal yang membuat Jiang relevan dalam percakapan tentang Islam. Ia tak memandang agama semata-mata sebagai urusan ritual privat. Ia melihat agama sebagai kekuatan intelektual yang pernah membentuk cara manusia memahami dunia.
Dalam salah satu kuliahnya yang berjudul The Golden Age of Islam, Jiang menyampaikan gagasan yang cukup berani. Modernitas, katanya, tak lahir begitu saja dari Eropa. Menurutnya, banyak fondasi intelektual yang kelak menopang modernitas telah tumbuh dalam peradaban Islam.
“The problem though is it’s too simple and clear to say that modernity began in Europe,” katanya. “We forget that Islam really built the basis for modernity.”
Pernyataan itu tentu tidak boleh dibaca sebagai penghapusan kontribusi Yunani, Romawi, India, Tiongkok, atau Eropa. Sejarah ilmu pengetahuan bukan lomba estafet dengan satu pelari yang boleh mengklaim seluruh medali.
Tetapi Jiang hendak mengoreksi narasi yang terlalu sederhana. Ia menolak pendapat seolah-olah dunia hanya tidur, lalu Eropa bangun dan menemukan modernitas seorang diri.
Bagi Jiang, Islam menghadirkan sebuah revolusi intelektual karena ia menyatukan beberapa hal yang sering dipisahkan: keyakinan kepada Tuhan, pemahaman tentang alam, tanggung jawab manusia, dan dorongan memperbaiki kehidupan.
Ia melihat tauhid bukan sekadar pernyataan metafisis bahwa Tuhan itu satu. Tauhid juga mengubah hubungan manusia dengan dunia.
Jika hanya ada satu Tuhan yang mutlak, maka alam tak lagi menjadi arena yang dikuasai oleh jutaan kekuatan ilahi yang saling bersaing. Alam dapat dipelajari, dipahami, dan dimanfaatkan untuk kemaslahatan manusia.
Di sinilah Jiang menghubungkan Islam dengan lahirnya sains. “Why do we use science to make the world better? Because God wants us to make the world better,” ujarnya.
Tentu, kalimat ini merupakan interpretasi filosofis Jiang, bukan rumusan tunggal yang mewakili seluruh sejarah pemikiran Islam. Tetapi gagasannya memiliki pijakan dalam tradisi intelektual Islam.
Islam memandang alam sebagai ciptaan Allah yang memiliki keteraturan, sementara manusia memperoleh amanah untuk mengelola bumi. Al-Qur’an berulang kali mengajak manusia memperhatikan langit, bumi, pergantian malam dan siang, serta berbagai gejala alam sebagai tanda-tanda yang perlu direnungkan.
Dengan demikian, ilmu pengetahuan tidak harus dipahami sebagai lawan iman. Ia dapat menjadi jalan untuk membaca ayat-ayat kauniyah—tanda-tanda Tuhan dalam ciptaan.
Bagi Jiang, hubungan semacam itu membantu menjelaskan mengapa peradaban Islam pernah menghasilkan kemajuan besar dalam matematika, astronomi, kedokteran, optika, filsafat, dan berbagai bidang ilmu lainnya.
Bagian paling menarik dari penjelasan Jiang terletak pada perbandingannya antara politeisme dan monoteisme. Dalam transkrip yang beredar, ia menggunakan istilah monisme, tapi konteks pembicaraannya jelas merujuk pada monotheisme, yakni keesaan Tuhan.
Menurut Jiang, dunia politeistik menghadirkan banyak dewa dengan wilayah kekuasaan, karakter, dan tuntutan yang berbeda-beda. Dalam kerangka itu, hubungan manusia dengan kekuatan ilahi menjadi lebih rumit.
Sebaliknya, monoteisme menghadirkan kejelasan: hanya ada satu Tuhan, dan hubungan manusia dengan-Nya memiliki pusat yang tegas.
“There’s one God; therefore I just have to follow him, I have to believe in him,” katanya. “The relationship between God and you is very, very clear.”
Jiang menyebut kejelasan dan kemutlakan monoteisme sebagai kekuatan intelektual. Bagi dia, tauhid menyederhanakan pusat orientasi manusia. Tidak ada banyak kekuasaan mutlak yang harus ditakuti, dirayu, atau dinegosiasikan. Tidak ada dewa yang menjadi pesaing bagi dewa lain. Hanya Allah yang menjadi tujuan penghambaan.
Di sini, pemikiran Jiang bersentuhan dengan inti ajaran Islam, yakni tauhid. _La ilaha illallah_ bukan sekadar angka “satu” dalam aritmetika ketuhanan.
Tauhid merupakan pembebasan. Ia menolak segala sesembahan selain Allah, sekaligus menolak penghambaan manusia kepada kekuatan-kekuatan yang mengklaim kemutlakan.
Tauhid, dalam pengertian ini, memiliki konsekuensi etis dan sosial. Jika hanya Allah yang mutlak, maka manusia —betapapun tinggi jabatan, kekayaan, ilmu, atau pengaruhnya— tidak boleh menempatkan diri sebagai penguasa mutlak atas manusia lain.
Raja bukan Tuhan. Negara bukan Tuhan. Pasar bukan Tuhan. Algoritma bukan Tuhan. Bahkan ego kita sendiri bukan Tuhan.
Di situlah tauhid dapat menjadi kritik terhadap berhala-berhala modern. Berhala tidak selalu berupa patung batu. Ia bisa berupa kekuasaan yang menuntut kepatuhan tanpa batas, uang yang menentukan seluruh nilai kehidupan, atau ideologi yang menganggap dirinya selalu benar.
Jiang tampaknya melihat Islam sebagai agama yang membuat Tuhan “konkret” dalam kehidupan manusia. Tapi, dengan itu ia tidak bermaksud mengatakan Allah menyerupai benda yang dapat disentuh atau dibatasi.
Dalam konteks penjelasannya, “concrete” lebih dekat dengan makna bahwa Tuhan hadir secara nyata dalam orientasi hidup. Tuhan dikenal, disembah, ditaati, dan dijadikan pusat tindakan.
Tetapi di sini pula kita perlu memberi catatan teologis. Islam tidak mengajarkan bahwa Allah dapat “disentuh” secara fisik atau disamakan dengan makhluk.
Allah transenden, tidak menyerupai ciptaan. Karena itu, bahasa Jiang sebaiknya dipahami sebagai bahasa filosofis dan pedagogis, bukan sebagai rumusan akidah yang diperdebatkan.




