“Putri Caraboo”, karya Edward Bird (minyak di atas panel, 1817). (sumber: Wikipedia)

Mary Baker (terlahir dengan nama Mary Willcocks) wanita yang diduga lahir pada 11 November 1792 di Bristol Inggris, merupakan seorang penipu asal Inggris. Ia mengaku sebagai Putri Caraboo yang berasal dari kerajaan yang jauh.

Kisah ini bermula pada 3 April 1817 di Almondsbury, Gloucestershire. Seorang wanita muda berpenampilan menarik, menggunakan bahasa yang tak dikenali terlihat kebingungan sampai ahirnya wanita tersebut diserahkan kepada hakim setempat bernama Samuel Worrall.

Worrall bersama istrinya gagal memahami kata-kata yang diucapkan oleh wanita tersebut, dari semua kata yang diucapkan, hanya kata “Caraboo” yang dapat dimengerti serta ketertarikannya terhadap ornamen khas Tionghoa.

Saat wanita tersebut diinapkan di penginapan lokal, ia menunjuk gambar buah nanas dan mengucapkan kata nanas, persis seperti istilah buah tersebut dalam bahasa Indonesia. Ia juga memilih untuk tidur beralaskan lantai. Karena hal tersebut, Worrall yang curiga sempat menuduhnya sebagai pegemis dan berencana mengadilinya di Bristol atas tuduhan gelandangan.

Selama masa penahanannya, ada seorang pelaut Portugis bernama Manuel Eynesso (Enes) mengaku paham dengan bahasa yang digunakan oleh wanita tersebut. Enes pun menjadi penerjemah dari wanita tersebut dan membeberkan cerita fiktif tentang wanita ini.

Enes mengarang cerita bahwa wanita tersebut merupakan seorang putri dari pulau Jawasu (Javasu) di Samudera Hindia bernama Putri Caraboo yang melarikan diri dari komplotan bajak laut dengan melompati kapal di selat Bristol lalu berenang ke darat.

Mendengar cerita tersebut, keluarga Worrall ahirnya memutuskan membawa Caraboo untuk tinggal di kediamannya selama sepuluh minggu. Putri Caraboo yang eksotis ini mendadak menarik perhatian para elit lokal. Ia memamerkan kelihaiannya memanah, bermain anggar, berenang tanpa busana hingga mempraktekan ritual doa kepada sosok dewa yang ia sebut bernama Allah-Talla (variasi ejaan dari الله تعالى Allāh taʿālā, “Allah Yang Maha Tinggi”, salah satu nama resmi Tuhan dalam Islam).

Dengan mengenakan gaun eksotik, paras yang cantik dilukis dan wajahnya menghiasi surat kabar lokal. Keabsahan identitasnya bahkan direstui oleh Dr. Wilkinson yang bertindak seolah akademisi tulen; ia mengklaim telah meneliti bahasanya lewat kitab Pantographia karya Edmund Fry dan menyebut bekas luka di kepala Caraboo sebagai jejak operasi bedah Timur Tengah. Publikasi nasional pun meledak, melontarkan nama sang putri ke puncak ketenaran.

Dengan gambar wajahnya yang tersebar diberbagai surat kabar, hal ini justru menjadi boomerang bagi sang Putri. Seorang pemilik rumah kos bernama Ny. Naele mengenali wajah Putri Caraboo dari koran Bristol Journal, sosok yang mengecoh para elit Inggris ini ternyata Mary Willcocks, seorang anak tukang sepatu biasa asal Witheridge, Devon.

Setelah bertahun-tahun berpindah-pindah menjadi pelayan tanpa kepastian hidup, ia menciptakan bahasa yang ia kumpulkan dari perpaduan berbagai macam kata imajiner dan bahasa Romani lengkap dengan latar belakang bangsawan rekaan. Adapun bekas luka “eksotis” yang ada di kepalanya merupakan sisa dari terapi bekam kasar saat ia dirawat di rumah sakit bagi warga miskin di London.

Atas tersebarnya informasi tersebut, pers Inggris menjadikan skandal ini bahan olok-olok untuk mengungkap kepolosan kelas menengah pedesaan yang mudah tertipu. Meski demikian, Ny. Worrall yang iba memutuskan untuk membantunya memulai hidup baru dengan membiayai pelayarannya ke Philadelphia, Amerika Serikat pada 28 Juni 1817.

Di Amerika Serikat, Mary sempat mencoba mencari peruntungan dengan mementaskan lakon “Putri Caraboo” di Washington Hall, Philadelphia meski penonton tidak menunjukan tanggapan positif.

Komunikasi antara keluarga Worral dan Putri Caraboo tercatat lewat pucuk surat dari New York pada November 1817. Dalam isi surat tersebut ia mengeluhkan beban ketenaran palsunya. Setelah bertahan di Phildelphia hingga 1824, ia memutuskan untuk pulang ke tanah Britania.

Sekembalinya dari Amerika pada tahun 1824, Mary sempat mencoba kembali mementaskan pertunjukan sebagai Putri Caraboo di New Bond Street, London namun panggung sandiwara itu tak lagi diminati dan kejayaannya sebagai sang putri rekaan resmi meredup sepenuhnya. [IQT]