Setiap tanggal 29 April, dunia memperingati Hari Tari Sedunia atau International Dance Day. Peringatan ini bukan sekadar seremoni tahunan, melainkan bentuk penghormatan terhadap tari sebagai salah satu ekspresi paling tua dalam peradaban manusia. Sejak zaman prasejarah, gerak tubuh telah menjadi bahasa yang digunakan untuk merayakan, berduka, berdoa, hingga menyampaikan pesan yang tak selalu mampu diungkapkan lewat kata-kata.
Keindahan dan kekuatan seni tari pun tersebar luas di berbagai belahan dunia, tumbuh dari latar budaya, etnis, dan bahkan dinamika politik yang berbeda-beda. Setiap gerak, kostum, hingga iringan musik mencerminkan identitas kolektif suatu masyarakat. Di sisi lain, tari juga berfungsi sebagai wadah komunikasi antar seniman, bahkan antar generasi, yang menjaga nilai-nilai tradisi tetap hidup.
Di Indonesia, seni tari berkembang dalam bentuk yang sangat beragam. Ia hadir sebagai hiburan, bagian dari tradisi, hingga ritual yang diyakini memiliki kekuatan spiritual. Tidak sedikit tarian yang dipercaya mengandung unsur sakral dan magis, di mana batas antara dunia manusia dan dunia tak kasatmata seakan menjadi tipis. Berikut sejumlah tarian di Nusantara yang dikenal sarat unsur sakral dan magis.
Tari Sintren
Tari Sintren merupakan tarian tradisional yang berasal dari masyarakat Jawa, khususnya wilayah Cirebon. Tarian ini tidak hanya memikat dari segi estetika, tetapi juga kaya akan kisah dan makna simbolik. Cerita yang melatarbelakanginya berkisah tentang hubungan asmara antara Raden Sulandono dan Sulasih yang tidak mendapat restu. Penolakan tersebut memaksa keduanya berpisah, Sulandono memilih bertapa, sementara Sulasih menjalani hidup sebagai penari.
Secara etimologis, kata “Sintren” diyakini berasal dari gabungan kata “si” yang merujuk pada sindiran, serta “tetaren” yang berarti sajak. Hal ini mencerminkan bahwa tarian ini tidak hanya menyajikan gerak, tetapi juga menyimpan pesan tersirat.
Keunikan Tari Sintren terletak pada unsur magis yang menyertainya. Dalam kepercayaan masyarakat, saat pementasan berlangsung, roh akan masuk ke dalam tubuh penari. Karena itu, penari Sintren harus memenuhi syarat tertentu, yakni seorang gadis yang belum menikah dan dianggap suci. Sebelum pentas, ia diwajibkan menjalani puasa selama beberapa hari sebagai bentuk persiapan spiritual, agar tidak menghambat proses masuknya roh ke dalam tubuhnya.
Salah satu adegan paling ikonik dalam tarian ini adalah tradisi saweran, di mana penonton melemparkan uang kepada penari. Menariknya, setiap kali uang dilempar, penari akan jatuh seketika. Adegan ini bukan sekadar atraksi, melainkan memiliki makna filosofis yang dalam yaitu manusia mudah terjatuh oleh godaan duniawi, terutama kekayaan dan materi.
Tari Sigale-gale
Dari Pulau Samosir, Sumatera Utara, Tari Sigale-gale menjadi representasi unik antara seni, teknologi tradisional, dan kepercayaan spiritual. Berbeda dari tarian pada umumnya, Sigale-gale menggunakan boneka kayu berbentuk manusia yang dapat digerakkan menyerupai penari.
Tarian ini biasanya ditampilkan dalam berbagai acara, mulai dari upacara adat hingga pertunjukan budaya untuk wisatawan. Namun di balik itu, tersimpan kisah yang sarat emosi. Menurut cerita yang dipercaya masyarakat Batak, tari ini berawal dari seorang raja yang kehilangan anak laki-laki satu-satunya. Dalam duka yang mendalam, sang raja kemudian membuat patung kayu Sigale-gale sebagai media untuk menghadirkan kembali roh putranya.
Boneka tersebut dirancang dengan sistem tali yang menyerupai sendi manusia. Bahkan, jumlah tali yang digunakan diyakini sama dengan jumlah urat dalam tubuh manusia. Meski secara teknis digerakkan oleh tali, masyarakat percaya bahwa gerakan boneka tersebut tidak semata-mata mekanis, melainkan juga dipengaruhi oleh roh yang mendiami patung itu.
Tari Kuda Lumping
Tari Kuda Lumping merupakan salah satu tarian paling populer di Indonesia, terutama di Pulau Jawa. Tarian ini dikenal karena pertunjukannya yang ekstrem dan seringkali di luar nalar manusia.
Biasanya dimainkan oleh 2 hingga 8 penari laki-laki, mereka menggunakan properti berupa anyaman rotan berbentuk kuda. Pertunjukan diiringi oleh musik tradisional seperti angklung, gong, kendang, gamelan pelog, kenong, hingga terompet khas Kuda Lumping.
Puncak pertunjukan terjadi saat penari memasuki kondisi trans atau kesurupan. Dalam keadaan tersebut, mereka mampu melakukan aksi-aksi yang berbahaya bagi manusia biasa, seperti berjalan di atas pecahan kaca, dicambuk tanpa rasa sakit, mengangkat beban berat, hingga menyayat tubuh sendiri.
Proses ini biasanya dipandu oleh seorang pawang atau dukun yang membacakan mantra. Dalam konteks historis, tarian ini juga diyakini sebagai simbol kekuatan pasukan masa lalu dalam menghadapi penjajah Belanda, mencerminkan keberanian dan daya tahan yang luar biasa.
Tari Rentak Bulian
Tari Rentak Bulian berasal dari Riau dan memiliki fungsi yang sangat spesifik, yakni sebagai bagian dari ritual pengobatan tradisional yang dikenal sebagai “berobat kampung”. Dalam praktiknya, tarian ini dilakukan untuk memanggil roh yang dipercaya dapat membantu menyembuhkan penyakit masyarakat.
Jumlah penari dalam tarian ini tidak tetap. Jika jumlah warga yang sakit banyak, maka penarinya pun bisa lebih dari tujuh orang. Penari perempuan yang terlibat harus memenuhi syarat ketat: masih perawan dan dalam kondisi suci dari haid.
Selain itu, terdapat peran penting seorang pria bertubuh kekar dan lincah yang melakukan aksi memecahkan mayang pinang. Aksi ini menjadi simbol pengobatan, di mana gerakan merentak mengelilingi penari perempuan menciptakan suasana ritual yang kuat dan penuh energi spiritual.
Tari Seblang
Tari Seblang berasal dari Banyuwangi, tepatnya Desa Olehsari dan Bakungan, Kecamatan Glagah. Tarian ini dikenal sebagai salah satu ritual paling sakral di wilayah tersebut.
Penari Seblang dipilih langsung oleh ketua adat, dengan syarat utama seorang gadis yang belum menikah serta memiliki garis keturunan dari penari sebelumnya. Hal ini menunjukkan bahwa peran penari tidak bisa digantikan sembarang orang, melainkan merupakan bagian dari warisan spiritual keluarga.
Yang membuat tarian ini begitu unik adalah durasinya. Penari dapat menari selama enam jam dalam sehari, bahkan dilakukan selama satu minggu berturut-turut. Sebelum pementasan, dilakukan berbagai ritual, termasuk pemanggilan roh melalui asap dupa dan mantra yang dibacakan oleh tetua adat.
Proses masuknya roh ditandai dengan dimulainya Gending Lukinto, yang dipercaya sebagai panggilan bagi arwah. Ketika nampan bambu yang dipegang penari jatuh dan tubuhnya terjungkal ke belakang, itu menjadi pertanda bahwa roh telah memasuki tubuh sang penari.
Tari Bedhaya Ketawang
Tari Bedhaya Ketawang merupakan salah satu tarian paling sakral dari Keraton Surakarta. Tarian ini tidak dipentaskan sembarangan, melainkan hanya pada momen penting seperti penobatan raja atau peringatan kenaikan takhta.
Makna filosofisnya sangat dalam, yakni menggambarkan hubungan spiritual antara raja-raja Mataram dengan Nyi Roro Kidul, sosok yang dipercaya sebagai penguasa Laut Selatan.
Karena kesakralannya, syarat bagi penari sangat ketat. Tarian ini dibawakan oleh sembilan gadis yang belum menikah dan dalam kondisi suci. Dalam kepercayaan yang berkembang, kehadiran Nyi Roro Kidul diyakini nyata, bahkan disebut-sebut turut menyaksikan setiap latihan dan pementasan.
Nah, tadi adalah beberapa tarian berasal dari Indonesia yang dianggap sakral dan magis. Menurutmu tarian mana yang paling sakral dan magis? [UN]




