Yavadwipa, Sejak Ramayana Hingga Kronik China

Yavadwipa, Sejak Ramayana Hingga Kronik China

Purnawarman menggagas sodetan itu untuk menghindarkan ibu kota Tarumanagara di Candrabaga atau Bekasi dari banjir di musim penghujan dan kekeringan pada saat kemarau.

356
Kapal Jung dari Jawa telah berlayar hingga ke India sejak awal abad masehi.

Koran Sulindo – Mencari istrinya yang hilang diculik Rahwana, Sri Rama memerintahkan kepada Hanuman untuk mencari Sita ke seluruh pelosok penjuru mata angin. Termasuk ke sebuah tempat yang dikenal kaya akan emas dan perak.

“Bagaimanapun lewatilah Yavadvipa, tujuh kerajaan menjadi hiasan. Itulah tanah emas dan perak..” kata Rama kepada Hanuman.

Ya, tempat yang disebut Sri Rama itu memang bernama Yavadvipa. Sebuah tempat yang digambarkan dalam epos Ramayana itu sebagai wilayah asing di seberang laut yang sangat jauh dari negeri mereka di India.

Itu merupakan kali pertama nama Yavadvipa disebut dalam sumber-sumber tertulis. Para ahli setuju, epos yang ditulis oleh Walmiki itu terjadi sekurangnya pada abad ke 5 hingga abad ke-4 sebelum masehi.

Toponin yang sama dengan Yavadvipa yakni Iabadiou kembali ditemukan dalam atlas buatan Claudius Ptolomeus Geographike Gypehegesis yang ditulis sekitar abad 150 masehi. Ptolomeus menyusun atlasnya dengan mengutip pendahulunya seperti Marinus dari Tyre.

Dalam Geographike itu disebut, zaman itu kapal-kapal dari dari Aleksandria di Laut Mediterania sudah berlayar sudah rutin berlayar dari Teluk Persia menuju Bandar Baybaza di Cambay, India dan Majuri di Kochin, India Selatan.

Ptolomes menyebut dari sanalah kapal-kapal tersebut melanjutkan pelayaran ke bandar-bandar di pantai timur India hingga ke kepulauan Aurea Chersonnesus. Di kepulauan itu kapal-kapal bakal singgah di Barousae, Sinda, Sabadiba, dan termasuk Iabadiou.

Ptolomeus juga menulis Zabai, sebuah tempat yang disebutnya berjarak 20 hari perjalanan dari Aurea Chersonnesus. Ia juga menyebut sebuah tempat bernama tempat lain bernama Argyre yang terletak di ujung barat Iabadiou. Argyre atau Argyros dalam bahasa Yunani kuno yang berarti kota perak.

Sejarawan Sartono Kartodirdjo, menduga Argyre yang dimaksud oleh Ptolemeus itu adalah ‘terjemahan’ dari Merak yang memang terletak di sebelah barat Pulau Jawa.

Salakanagara

Jika kisah-kisah Ptolomeus dan Walmiki masih mengandung silang pendapat, kisah-kisah yang bersumber dari berita China meski tak lebih terang bisa sedikit memberikan gambaran. Dalam Han Shu Di Li Zhi atau Kepustakaan Dinasti Han telah didokumentasikan ‘Jalan Sutra Laut’ di era Raja Wu Di yang berkuasa pada 140-88 SM.

Dokumentasi itu menyebut umumnya kapal-kapal bertolak Re Nan Zhang Sai di selatan China menuju India menempuh rute Vietnam-Thailand-Semenanjung Malaya-Myanmar-Sri Langka-India Selatan. Perjalanan pergi pulang itu konon memakan waktu dua tahun.

Disebut juga sepanjang perjalanan telah berlangsung barter komoditas bernilai tinggi seperti mutiara, batu-batu permata, barang dari emas hingga kain sutra.

Catatan lebih konkret didapat dari Hou Han Shu atau Kepustakaan Dinasti Han Lanjutan yang menulis utusan-utusan yang datang termasuk dari Jiu Bu Shi tahun 84, dari Shan Guo tahun 97 dan dari Ye Diao di tahun 131. Ye Diao dianggap sebagai tiruan bunyi dari bahasa Sanskrit untuk menyebut Yavadvipa.

Ye Diao dianggap sebagai Kerajaan Salakanagara yang dirikan pada tahun 65 di ujung barat Pulau Jawa. Nama raja yang disebut sebagai Diao Bian merupakan salinan dari Devavarman, raja pertama. Diduga tempat inilah yang disebut Ptolomeus dalam atlasnya yang terkenal itu.

Nama Salakanagara dan Devavarman itu pertama kali muncul dalam naskah Wangsakerta dari Cirebon yang ditulis pada abad ke-17. Hanya saja, sebagai sumber sejarah primer, naskah ini masih menjadi perdebatan sengit menyangkut keotentikannya.

Baca juga: Aki Tirem, Leluhur Pulau Jawa?

Namun yang pasti, bukti perdagangan kuno China dan daerah-daerah di Nusantara itu terkonfirmasi oleh banyaknya temuan-temuan arkeologis. Beberapa di antaranya adalah batu berukir di Pasemah, Sumatera Selatan dan keramik di Sumatera tengah.

Gaya ukiran batu tersebut dianggap mirip dengan batu berukir di makam panglima besar Dinasti Han bernama Huo Qi Bing yang hidup pada era 140-117. Sementara pada keramik-keramik tertulis catatan tahun pembuatannya yakni ‘tahun keempat Tahun Chu Yuan’ yang merujuk tahun 45 sebelum masehi. Alat-alat sembahyang keramik yang berasal dari masa Dinasti Han juga ditemukan di Banten, Indragiri, Kelantan hingga Sambas di Kalimantan Timur.

Berita dari China selanjutnya menyebut tentang perjalanan seorang pendeta Budha bernama Fa Xian yang menulis perjalanannya ke India dalam Fu Guo Ji. Fa Xian menceritakan keadaan kebudayaan dan agama di Yavadvipa karena yang dilihat dengan mata dan kepalanya sendiri.

Fa Xian bercerita, ia berangkat dari Sri Langka menumpang sebuah kapal dagang yang sanggup memuat 200 penumpang yang di belakangnya ditambatkan sebuah perahu kecil. Dari Sri Langka, kapal berlayar ke timur namun tiga hari kemudian dihantam badai dan kapal rusak.

Setelah terombang-ambing selama 13 hari akhirnya kapal terdampar di sebuah pulau untuk perbaikan. Setelah diperbaiki, kapal berlayar lagi dan 90 hari kemudian tiba di Yavadwipa. Di tempat itulah Fa Xian menetap selama lima bulan.

Ia baru kembali ke Guangzhou pada tahun 12 tahun Yi Xi Dinasti Jin atau 417 masehi. “Di negeri ini agama Brahma sudah sangat banyak pengikutnya, sedangkan agama Budha tak seberapa,” simpul Fa Xian setelah lima bulan tinggal Yavadvipa.

Tarumanagara

Fa Xian juga mencatat di masa itu sudah banyak kapal-kapal dagang besar yang secara rutin menempuh rute pelayaran China-Yavadvipa. Selain lebih besar, kapal-kapal itu juga dianggap berlayar lebih cepat dengan waktu tempuh 50 hari. Padahal di era Dinasti Han dari Re Nan di Vietnam Utara ke Du Yuan di Semenanjung Malaya yang memakan waktu lima bulan.

Lantas negara apa di Yavadvipa yang disebut Fa Xian dalam kisah Fu Guo Ji itu? Itu adalah Tarumanagara atau Kerajaan Taruma.

Tak cuma bisa didengar dalam naskah-naskah yang seringkali butuh penafsiran dan rawan pemalsuan, Tarumanagara meninggalkan banyak jejak sejarah sekaligus menjadi kerajaan tertua di Nusantara yang meninggalkan catatan sejarah.

Di era ini setidaknya terdapat tujuh prasasti dan kompleks percandian yang luas di Batujaya dan Cibuaya. Ketujuh prasasti yang menyebutkan kerajaan Tarumanagara yang dipimpin Maharaja Purnawarman yakni Prasasti Tugu di Cilincing, Jakarta, Prasasti Ciaruteun, Prasasti Muara Cianten, Prasasti Kebon Kopi, Prasasti Jambu, Prasasti Pasir Awi yang berada di Bogor dan Prasasti Cidangiang di wilayah Bandung Selatan.

Prasasti Ciaruteun

Dari berbagai catatan dan peninggalan artefak di sekitar lokasi kerajaan, jelas diketahui bahwa Taruma adalah kerajaan Hindu beraliran Wisnu. Namun, menilik catatan sejarah ataupun prasasti yang ada, sejauh ini belum ada penjelasan atau catatan yang pasti siapa pendiri kerajaan tersebut.

Dari Prasasti Tugu yang ditemukan di Kampung Batutumbu, di Desa Tugu, Kecamatan Tarumajaya, Kabupaten Bekasi diketahui raja inilah yang pada tahun tahun 417 memerintahkan penggalian Sungai Gomati dan Candrabaga sejauh 6112 tombak atau setara dengan 11 km.

Prasati Tugu juga menulis, selesai penggalian, Purnawarman memerintahkan untuk menggelar selamatan dengan menyedekahkan 1.000 ekor sapi kepada kaum brahmana.

Purnawarman menggagas sodetan itu untuk menghindarkan ibu kota Tarumanagara di Candrabaga atau Bekasi dari banjir di musim penghujan dan kekeringan pada saat kemarau.

Menurut Poerbatjaraka, Bekasi secara filologis berasal dari kata Candrabhaga. Candra berarti bulan atau sasi dalam bahasa Jawa Kuno sementara Bhaga berarti bagian. Jadi Candrabhaga berarti bagian dari bulan.

Pelafalan Candrabhaga seringkali berubah menjadi Sasibhaga atau Bhagasasi yang dalam pengucapannya sering disingkat sebagai Bhagasi. Karena pengaruh bahasa Belanda yang sering menulis dengan Bacassie, maka kata Bacassie tersebut kemudian berubah menjadi Bekasi sampai sekarang.

Kalingga

Dalam Jiu Tang Shu atau Kepustakaan Dinasti Tang Lama disebut pada tahun 14 Tahun Zhen Guan  (640 masehi) Raja Ho Ling/He Ling atau Kalingga mengirim uturan kepada Kaisar. Di sebut juga letak kerajaan Ho Ling berada di tengah Laut Selatan bersepadan dengan Po Li atau Bali di timur dan Duo Po Deng di barat serta berada di selatan Zhen La atau Khmer.

I-Tsing, seorang penjelajah Cina yang sempat singgah di Kalingga pada tahun 664/665 menyebutkan Kalingga telah menjadi telah menjadi salah satu pusat pengetahuan agama Buddha Hinayana. Di kerajaan itu tinggal seorang pendeta Cina bernama Hwining, yang menerjemahkan salah satu kitab agama Buddha ke dalam Bahasa Tionghoa. Dia bekerjasama dengan pendeta Jawa bernama Janabadra. Kitab terjemahan itu antara lain memuat cerita tentang Nirwana.

Catatan dari berita Cina ini juga menyebutkan bahwa sejak tahun 674, rakyat Ho-ling diperintah oleh Ratu Hsi-mo atau Ratu Shima yang dikenal sebagai ratu yang sangat adil dan bijaksana. Pada masa pemerintahannya Kerajaan Ho-ling sangat aman dan tentram.

Baca juga : Ratu Sima, Teladan Kejujuran dari Jawa Kuno

Di era Kalingga ini ditemukan Prasasti Tuk Mas atau mata air emas yang dipahat pada dipahatkan pada batu alam besar yang berdiri di dekat sebuah mata air di lereng barat Gunung Merapi di Dusun Dakawu, Desa Lebak, Grabag, Magelang.

Prasasti Tukmas di Grabag, Magelang

Prasasti Tuk Mas ditulis dengan huruf Pallawa dan dalam bahasa Sanskerta dengan bentuk aksara lebih muda dibanding masa Purnawarman. Diperkirakan prasasti ini berasal dari masa abad ke-6 hingga abad ke-7.

Meski sebagian aksara pada prasasti tersebut banyak yang rusak, namun pada beberapa bagian masih bisa dibaca menyebutkan adanya sebuah sungai yang mengalir bagaikan Sungai Gangga di India.  ada prasasti ini terdapat pula lukisan alat-alat, seperti trisula, kendi, kapak, sangkha, cakra, dan bunga tunjung. [TGU]