Pemeriksaan penyakit cacar monyet atau monkeypox di Kongo - GettyImages
Pemeriksaan penyakit cacar monyet atau monkeypox di Kongo - GettyImages

Merebaknya penyakit cacar monyet atau monkeypox menyita perhatian Organisasi Kesehatan Dunia atau WHO. Bahkan lembaga itu sudah mengeluarkan peringatan terkait kasus monkeypox.

WHO bahkan akan mengadakan pertemuan darurat untuk membahas wabah cacar monyet pada Jumat (20/5) waktu setempat. Pertemuan dilakukan setelah lebih dari 100 kasus dikonfirmasi atau dicurigai di Eropa.

Sebelumnya, kasus cacar monyet telah dilaporkan di sekitar sembilan negara, yakni Belgia, Prancis, Jerman, Italia, Belanda, Portugal, Spanyol, Swedia dan Inggris, serta Amerika Serikat (AS), Kanada dan Australia.

Menurut simpulan sementara WHO, penyebaran virus ini kemungkinan besar berawal dari hewan pengerat, sehingga monyet bukan satu-satunya binatang sumber penyebaran penyakit ini. Hal itu karena reservoir alami cacar monyet pun masih belum diketahui.

“Di Afrika, bukti infeksi virus cacar monyet telah ditemukan pada banyak hewan termasuk tupai tali, tupai pohon, tikus rebus Gambia, dormice, berbagai spesies monyet,” jelas WHO dikutip dari Euro News

Kekhawatiran disampaikan oleh para ilmuwan yang tidak mengharapkan wabah tersebut berkembang menjadi pandemi seperti Covid-19, mengingat virus tersebut tidak menyebar semudah SARS-CoV-2.

“Ini adalah wabah cacar monyet terbesar dan paling luas yang pernah terlihat di Eropa,” kata layanan medis angkatan bersenjata Jerman, yang mendeteksi kasus pertamanya di negara itu pada Jumat.

Meski tidak ada vaksin khusus untuk cacar monyet, tetapi menurut temuan WHO bahwa vaksin yang digunakan untuk membasmi cacar hingga 85% efektif untuk melawan cacar monyet.

Tentang monkeypox

Monkeypox pertama kali ditemukan pada tahun 1958 ketika sejenis penyakit cacar dideteksi pada koloni monyet dalam penangkaran untuk riset. Kasus monkeypox pada manusia kemudian ditemukan pada tahun 1970 di negara Republik Demokrati Kongo dan kemudian menyebar di kawasan afrika tengah.

Virus cacar monyet termasuk dalam genus Orthopoxvirus dalam famili Poxviridae. Genus Orthopoxvirus juga termasuk virus variola (penyebab cacar), virus vaccinia (digunakan dalam vaksin cacar), dan virus cacar sapi.

Kasus cacar monyet pada manusia telah terjadi di luar Afrika terkait dengan perjalanan internasional atau hewan impor, termasuk kasus di Amerika Serikat, serta Israel, Singapura, dan Inggris.

Reservoir alami cacar monyet masih belum diketahui. Namun, hewan pengerat Afrika dan primata non-manusia (seperti monyet) dapat menampung virus dan menginfeksi manusia.

Virus ini dapat menyebar ketika seseorang melakukan kontak dekat dengan orang yang terinfeksi. Virus dapat masuk ke dalam tubuh melalui kulit yang luka, atau melalui mata, hidung atau mulut.

Penyakit ini sebelumnya tidak digambarkan sebagai infeksi menular melalui hubungan seksual, tetapi dapat ditularkan melalui kontak langsung saat berhubungan seks.

Gejala awal yang ditimbulkan hampir menyerupai penyakit cacar biasa, dapat berupa demam, sakit kepala, bengkak, nyeri punggung juga nyeri otot.

Setelah mengalami demam, ruam dapat berkembang, seringkali dimulai pada wajah, kemudian menyebar ke bagian tubuh lainnya, paling sering pada telapak tangan dan telapak kaki.

Ruam, yang bisa sangat gatal atau nyeri, berubah dan melewati tahap yang berbeda sebelum akhirnya membentuk keropeng, yang kemudian rontok. Lesi dapat menyebabkan jaringan parut. Infeksi biasanya hilang dengan sendirinya dan berlangsung antara 14 dan 21 hari. [PAR]