WHO Ingatkan Bahaya Hantavirus, Ini Cara Penularan dan Pencegahannya

Hantavirus. (REUTERS/Dado Ruvic)

Belakangan ini, dunia kesehatan kembali menyoroti kemunculan hantavirus setelah wabah infeksi terjadi di kapal pesiar mewah MV Hondius. Kasus tersebut menjadi perhatian internasional karena menyebabkan sejumlah penumpang jatuh sakit, bahkan menewaskan tiga orang akibat infeksi hantavirus jenis Andes virus.

Hingga 7 Mei 2026, tiga korban meninggal dunia dilaporkan berasal dari Belanda dan Jerman, terdiri dari pasangan suami istri asal Belanda serta seorang warga Jerman. Organisasi Kesehatan Dunia atau World Health Organization (WHO) menyebutkan bahwa lima dari delapan suspek yang berkaitan dengan kapal tersebut telah terkonfirmasi positif terinfeksi hantavirus.

Di Indonesia sendiri, ancaman virus ini juga mulai mendapat perhatian serius. Kementerian Kesehatan Republik Indonesia mencatat sebanyak 23 kasus konfirmasi penyakit virus Hanta ditemukan sepanjang periode 2024 hingga minggu ke-16 tahun 2026. Kasus tersebut tersebar di sembilan provinsi, dengan DKI Jakarta dan DI Yogyakarta menjadi wilayah dengan jumlah terbanyak, masing-masing enam kasus. Jawa Barat mencatat lima kasus, sementara Kalimantan Barat, Sulawesi Utara, Nusa Tenggara Timur, Jawa Timur, Sumatera Barat, dan Banten masing-masing melaporkan satu kasus.

Lalu, sebenarnya apa itu hantavirus?

Mengenal Hantavirus

Melansir informasi resmi dari World Health Organization, hantavirus merupakan kelompok virus zoonosis yang secara alami dibawa oleh hewan pengerat, terutama tikus. Virus ini dapat menular kepada manusia dan menyebabkan penyakit serius, bahkan berujung kematian.

Penularan biasanya terjadi melalui kontak dengan urin, kotoran, atau air liur hewan pengerat yang terinfeksi. Seseorang juga dapat tertular ketika menghirup partikel udara yang telah terkontaminasi oleh sisa kotoran tikus di lingkungan tertutup atau kurang ventilasi.

Infeksi hantavirus diketahui menyebabkan beberapa jenis penyakit berbeda tergantung wilayah geografisnya. Di kawasan Amerika, hantavirus dapat menyebabkan Hantavirus Cardiopulmonary Syndrome (HCPS), yakni penyakit berat yang menyerang paru-paru dan jantung dengan tingkat kematian mencapai 50 persen.

Sementara di Eropa dan Asia, hantavirus lebih sering menyebabkan Hemorrhagic Fever with Renal Syndrome (HFRS), yaitu demam berdarah yang menyerang ginjal dan pembuluh darah.

Salah satu jenis yang kini menjadi sorotan adalah Andes virus, hantavirus yang ditemukan di Amerika Selatan dan diketahui dapat menular antarmanusia dalam kontak terbatas.

Virus yang Berasal dari Hewan Pengerat

Hantavirus termasuk dalam famili Hantaviridae dalam ordo Bunyavirales. Setiap jenis hantavirus biasanya hidup pada spesies pengerat tertentu tanpa menimbulkan gejala pada hewan tersebut.

Meski banyak spesies hantavirus ditemukan di berbagai negara, hanya sebagian kecil yang diketahui mampu menginfeksi manusia.

Di Amerika Utara, Tengah, dan Selatan, hantavirus penyebab HCPS paling sering ditemukan. Sedangkan di Eropa dan Asia, jenis yang lebih dominan adalah penyebab HFRS.

Menariknya, hingga saat ini penularan antarmanusia hanya didokumentasikan pada Andes virus. Penularan tersebut pun tergolong jarang dan biasanya terjadi melalui kontak dekat serta berkepanjangan, terutama di antara anggota keluarga atau pasangan intim.

Seberapa Besar Ancamannya?

Secara global, infeksi hantavirus memang tergolong jarang. Namun penyakit ini memiliki tingkat kematian yang cukup tinggi.

WHO memperkirakan terdapat sekitar 10 ribu hingga lebih dari 100 ribu infeksi hantavirus setiap tahun di seluruh dunia. Beban kasus terbesar berada di Asia dan Eropa.

Di Asia Timur seperti Tiongkok dan Korea Selatan, kasus HFRS masih mencapai ribuan setiap tahun meski jumlahnya perlahan menurun. Sementara di Eropa, beberapa ribu kasus juga tercatat setiap tahunnya, terutama di wilayah utara dan tengah.

Di kawasan Amerika, kasus HCPS jauh lebih sedikit, hanya ratusan kasus per tahun. Namun tingkat kematiannya sangat tinggi, berkisar antara 20 hingga 40 persen.

Bagaimana Penularannya?

Penularan hantavirus kepada manusia terjadi ketika seseorang bersentuhan dengan urin, kotoran, atau air liur tikus yang telah terinfeksi.

Risiko penularan meningkat pada aktivitas tertentu, seperti, membersihkan ruangan tertutup yang dipenuhi tikus, bekerja di sektor pertanian dan kehutanan, tinggal atau tidur di area dengan populasi tikus tinggi, dan kontak langsung dengan hewan pengerat.

Selain itu, gigitan tikus juga dapat menjadi jalur penularan meski kasusnya lebih jarang.

Untuk Andes virus, penularan antarmanusia bisa terjadi melalui kontak dekat dalam waktu lama, terutama saat penderita berada pada fase awal penyakit.

Gejala Hantavirus

Gejala hantavirus biasanya muncul antara satu hingga delapan minggu setelah seseorang terpapar virus.

Gejala awal umumnya meliputi demam, sakit kepala, nyeri otot, mual, muntah, dan sakit perut.

Pada kasus HCPS (Hantavirus Cardiopulmonary Syndrome atau HPS) , kondisi dapat berkembang cepat menjadi batuk berat, sesak napas, penumpukan cairan di paru-paru, syok, sedangkan pada HFRS (Haemorrhagic Fever with Renal Syndrome), penderita dapat mengalami tekanan darah rendah, gangguan pembekuan darah, dan gagal ginjal.

Karena gejalanya mirip influenza, COVID-19, leptospirosis, hingga demam berdarah, diagnosis dini hantavirus kerap sulit dilakukan.

Diagnosis hantavirus dilakukan melalui pemeriksaan laboratorium, seperti tes antibodi IgM dan IgG serta metode molekuler RT-PCR untuk mendeteksi RNA virus.

Hingga kini belum tersedia obat antivirus khusus maupun vaksin resmi untuk hantavirus. Penanganan medis lebih difokuskan pada perawatan suportif, termasuk pemantauan ketat terhadap fungsi paru-paru, jantung, dan ginjal.

Pasien dengan kondisi berat biasanya memerlukan perawatan intensif agar peluang bertahan hidup meningkat.

Cara Pencegahan Hantavirus

Karena belum ada vaksin maupun obat khusus, pencegahan menjadi langkah paling penting dalam menghadapi hantavirus.

Beberapa langkah yang dianjurkan antara lain:

  1. Menjaga kebersihan rumah dan tempat kerja
  2. Menutup celah yang memungkinkan tikus masuk
  3. Menyimpan makanan di tempat aman
  4. Membersihkan area terkontaminasi dengan cara yang benar
  5. Tidak menyapu kotoran tikus dalam keadaan kering
  6. Membasahi area tercemar sebelum dibersihkan
  7. Rajin mencuci tangan

WHO juga menekankan pentingnya penerapan langkah pengendalian infeksi di fasilitas kesehatan, terutama ketika menangani pasien suspek maupun terkonfirmasi hantavirus.

World Health Organization terus bekerja sama dengan berbagai negara untuk memperkuat pengawasan penyakit, kapasitas laboratorium, deteksi dini, penanganan pasien, hingga komunikasi risiko kepada masyarakat.

Pendekatan One Health juga terus didorong WHO, yakni strategi yang menghubungkan kesehatan manusia, hewan, dan lingkungan dalam menghadapi ancaman penyakit zoonosis seperti hantavirus.

Meski tergolong langka, hantavirus memiliki tingkat fatalitas tinggi sehingga kewaspadaan, kebersihan lingkungan, dan deteksi dini menjadi kunci utama untuk mencegah penyebaran penyakit ini. [UN]