Belum lagi serial Fikih Akbar yang sedang ia tulis. Buku pertamanya “Fikih Akbar: Prinsip-Prinsip Teologis Islam Rahmatan lil ‘Alamin” terbit tahun 2018.

Tetapi ia sendiri pernah mengatakan proyek itu bisa menjadi belasan jilid.

Bayangkan. Muhammadiyah sedang bergerak memiliki bangunan fikih dan teologi modern berskala besar — semacam upaya menghadirkan karya sistemik yang dalam dunia klasik bisa disejajarkan, secara spirit peradaban, dengan Al-Umm karya Imam Syafi’i.

Tentu konteksnya berbeda. Zamannya berbeda. Strukturnya berbeda. Tetapi semangatnya sama: membangun sistem pemikiran utuh untuk menjawab zaman.

Dan Hamim berada di pusat proyek besar itu. Di titik ini, Hamim sesungguhnya berdiri di tengah arus besar pemikiran Islam dunia.

Ia bukan konservatif murni. Bukan pula liberal pembongkar fondasi agama. Ia bergerak di jalur khas Muhammadiyah: tajdid peradaban.

Kalau Muhammad Abduh menggugat stagnasi umat lewat rasionalitas, Hamim menggugat kelemahan umat lewat produktivitas.

Kalau Fazlur Rahman bicara gerak moral Al-Qur’an, Hamim bicara Islam yang berdampak sosial.

Kalau Hassan Hanafi menggagas Kiri Islam, Hamim menggagas Tauhid Rahmatiyah.

Kalau Said Nursi menyalakan obor tauhid, Hamim menurunkannya ke bumi.

Ia berhasil mencoba menjahit: tauhid dengan kesejahteraan, agama dengan modernitas, iman dengan produksi, akhirat dengan peradaban.

Dan mungkin karena itulah kepergiannya terasa sangat berat. Sebab orang seperti Hamim tidak mudah diganti.

Ia bukan sekadar pengisi jabatan. Ia adalah penghubung. Penghubung antara kitab dan realitas. Antara langit wahyu dan tanah kehidupan. Antara Islam klasik dan tantangan modernitas.

Kini orang itu telah pergi. Tetapi mungkin justru sekarang gagasannya mulai benar-benar hidup.

Mungkin beberapa tahun lagi istilah Tauhid Rahmatiyah akan masuk ruang kuliah, disertasi, halaqah, jurnal internasional, dan forum pemikiran Islam dunia.

Dan orang-orang akan mulai sadar: di sebuah kota teduh bernama Yogyakarta, pernah hidup seorang ulama sederhana yang mencoba memindahkan pusat gravitasi tauhid — dari sekadar perdebatan teologis langit menuju kemaslahatan bumi.

Cak AT – Ahmadie Thaha | Kolumnis