Catatan Cak AT:
Dini hari itu Yogyakarta terasa lebih sunyi dari biasanya. Tidak ada gempa. Tidak ada letusan Merapi. Tidak ada hiruk politik nasional. Tetapi grup-grup WhatsApp Muhammadiyah mendadak seperti kehilangan listrik spiritualnya.
Satu demi satu pesan masuk, dari ranting desa sampai profesor kampus, dari aktivis IMM sampai para kiai tarjih.
“Innalillahi wa inna ilaihi raji’un…” Prof. Dr. H. Hamim Ilyas, M.Ag wafat pada Sabtu, 23 Mei 2026 pukul 01.40 WIB di RSA UGM Yogyakarta, dalam usia 65 tahun.
Dan mendadak banyak orang sadar: Muhammadiyah baru saja kehilangan salah satu otak terpentingnya.
Bukan sekadar ketua organisasi. Bukan sekadar dosen. Tetapi salah satu “mesin berpikir” utama di ruang think tank keulamaan Muhammadiyah selama tiga dekade terakhir.
Nama Hamim Ilyas mungkin tidak sepopuler para dai televisi yang suaranya menggelegar sambil menunjuk-nunjuk kamera seperti debt collector akhirat. Ia juga bukan tipe ulama viral yang hidup dari potongan reels dan thumbnail YouTube penuh ekspresi kiamat.
Tetapi di ruang-ruang serius tempat arah pemikiran Muhammadiyah dibentuk, nama Hamim berdiri sangat penting.
Ia lahir di Karangnongko, Klaten, 1 April 1961. Anak petani kaki Gunung Merapi. Ia pernah bercerita bagaimana masa kecilnya menggosok gigi dengan serbuk batu bata halus karena keluarganya baru mengenal sikat gigi ketika ia kelas 6 SD.




