Para ilmuwan menemukan protein otak yang diduga mengendalikan laju penuaan. Apakah manusia sedang menemukan tombol rahasia usia? (Cak AT)

Catatan Cak AT:

Selamat Hari Lanjut Usia Nasional kepada para sepuh, para senior, para veteran kehidupan, para pemegang saham terbesar dalam perusahaan bernama pengalaman. Kita saling berdoa dapat mengisi hari-hari dengan tabungan amal untuk Akhirat kita.

Di usia yang makin panjang, seperti biasa, kita sering sibuk menghitung tekanan darah, kadar gula, kolesterol, dan jumlah cucu.

Tetapi ada satu pertanyaan yang jauh lebih tua dari semua itu: sebenarnya apa yang membuat kita menua?

Pertanyaan itu terdengar sederhana, tetapi sejak zaman para filsuf Yunani sampai para ilmuwan abad ke-21, jawabannya terus berubah.

Ada yang mengatakan tubuh aus seperti mesin tua. Ada yang mengatakan gen kita membawa jam biologis yang suatu saat akan berbunyi. Ada pula yang berpendapat bahwa penuaan hanyalah akumulasi kerusakan yang tak terhindarkan.

Namun para ilmuwan tampaknya belum puas. Mereka terus membongkar isi gudang rahasia tubuh manusia, seolah sedang mencari sakelar tersembunyi yang selama ini membuat rambut memutih, tulang keropos, kulit mengendur, dan ingatan perlahan berjalan tertatih-tatih seperti pejabat yang kehilangan sopir dinas.

Sebuah penelitian menarik baru saja dipublikasikan _ScienceDaily_, mengutip hasil penelitian tim yang dipimpin Lige Leng dan Jie Zhang dari Xiamen University, Tiongkok. Judul penelitian mereka cukup teknis: Hypothalamic Menin Regulates Systemic Aging and Cognitive Decline, dimuat di jurnal PLOS Biology.

Di balik judul yang rumit itu tersimpan temuan yang membuat banyak ilmuwan mengangkat alis. Mereka menemukan bahwa suatu protein bernama Menin, yang berada di bagian otak kecil bernama hipotalamus, tampaknya berperan penting dalam mengendalikan proses penuaan.

Hipotalamus ini ukurannya tidak lebih besar dari kacang mete. Tetapi tugasnya seperti menteri koordinator segala urusan. Ia mengatur suhu tubuh, hormon, metabolisme, tidur, rasa lapar, stres, dan banyak fungsi penting lainnya. Kalau tubuh adalah sebuah negara, hipotalamus adalah ruang kendali pusat yang lampunya menyala dua puluh empat jam sehari.

Para peneliti menemukan bahwa kadar Menin menurun tajam seiring bertambahnya usia tikus yang dijadikan percobaan dalam penelitian. Ketika protein ini sengaja dikurangi, tikus-tikus muda mulai menunjukkan gejala yang biasa kita sebut “menua”.

Tampak kulit menipis, tulang melemah, keseimbangan terganggu, daya ingat menurun, umur hidup lebih pendek, dan peradangan meningkat. Pendek kata, makhluk muda itu mendadak seperti pensiunan yang lupa menaruh kacamata padahal kacamatanya masih bertengger di atas kepala.

Sebaliknya, ketika Menin dikembalikan ke tingkat yang lebih tinggi pada tikus-tikus tua, hasilnya mengejutkan. Dalam waktu sekitar satu bulan, kemampuan belajar membaik, daya ingat meningkat, keseimbangan tubuh lebih baik, kepadatan tulang naik, dan kondisi kulit membaik.

Para ilmuwan seperti menemukan tombol rahasia penuaan yang selama ini tersembunyi di ruang mesin tubuh.

Lebih menarik lagi, mereka menemukan hubungan Menin dengan zat bernama D-serine, sejenis asam amino yang membantu komunikasi antarsel saraf.

Ketika Menin menurun, kadar D-serine ikut turun. Saat D-serine diberikan sebagai suplemen, kemampuan kognitif tikus tua membaik meskipun perubahan fisiknya tidak sebesar ketika Menin dipulihkan.

Ini bukan berarti para sepuh besok pagi bisa langsung menyerbu toko suplemen mencari D-serine sambil berharap bangun lusa menjadi muda kembali. Penelitian ini masih dilakukan pada tikus. Jarak antara tikus laboratorium dan manusia sering kali lebih panjang daripada jarak antara janji kampanye dan realitas anggaran.

Namun temuan ini tetap penting. Ia memperkuat dugaan bahwa penuaan tidak sekadar akibat tubuh yang aus karena dipakai terlalu lama. Otak tampaknya ikut mengatur sebagian proses penuaan melalui jaringan sinyal yang melibatkan peradangan, metabolisme, dan hormon.

Menariknya, Al-Qur’an sejak lama mengajak manusia memperhatikan dirinya sendiri. “Dan pada dirimu sendiri, apakah kamu tidak memperhatikan?” demikian pertanyaan yang menggema dalam Surah Adz-Dzariyat.

Ayat itu terdengar sederhana, tetapi maknanya sangat dalam. Mengenal diri bukan hanya mengenal nama, jabatan, atau nomor KTP. Ia juga berarti memahami bagaimana tubuh bekerja, bagaimana pikiran berubah, dan bagaimana usia perlahan mengukir sejarah di dalam setiap sel.

Sebagian orang takut menua seperti takut melihat tagihan listrik. Padahal menua adalah tanda bahwa kehidupan sedang berjalan sebagaimana mestinya. Yang menjadi masalah bukan usia yang bertambah, melainkan ketika kita berhenti belajar memahami diri sendiri.

Para ilmuwan di laboratorium mempelajari protein Menin. Para ulama mempelajari ayat-ayat Tuhan. Para filsuf mempelajari hakikat manusia. Semuanya, dengan bahasa berbeda, sedang berjalan ke arah yang sama: mengenal manusia lebih dalam.

Barangkali itulah hikmah terbesar Hari Lanjut Usia Nasional. Bahwa usia bukan sekadar angka yang bertambah setiap tahun. Ia adalah perjalanan panjang untuk memahami rahasia diri yang tak pernah habis digali.

Setiap keriput adalah catatan pengalaman. Setiap uban adalah arsip perjalanan. Setiap penurunan daya tubuh adalah pengingat bahwa kita sedang bergerak menuju tujuan akhir yang sama.

Dan mungkin, setelah membaca penelitian tentang Menin ini, kita memperoleh satu pelajaran tambahan: ternyata penuaan bukan hanya kisah tubuh yang melemah, tetapi juga kisah otak yang terus bernegosiasi dengan waktu.

Sementara para ilmuwan sibuk mencari tombol-tombol biologis yang mengatur usia, kita diingatkan bahwa mengenal diri sendiri tetap menjadi penelitian terpanjang yang pernah dijalani manusia.

Cak AT – Ahmadie Thaha | Kolumnis