KENDATI DEMIKIAN, menurut ekonom Universitas Indonesia, Faisal Basri, sejauh observasi-nya, ini merupakan penurunan berturut-turut terlama. “Kinerja eksternal Indonesia yang terus memburuk sedemikian lama mencerminkan pemburukan strutural yang membutuhkan penanganan saksama. Tidak boleh dipandang sebelah mata, sekalipun Bank Indonesia menilai cadangan devisa sebesar 114,8 miliar dolar AS pada akhir September 2018 masih cukup tinggi,” tulis Faisal Basri dalam blog pribadinya, faisalbasri.com, 6 Oktober 2019.

Memang, tambahnya, kinerja ekspor Indonesia tetap positif, yakni tumbuh 10,4% selama Januari-Oktober 2018. “Tetapi, bukankah pada kurun waktu yang sama, transaksi perdagangan luar negeri (ekspor barang dikurangi impor barang) sudah mengalami defisit sebesar 4,1 miliar dolar AS. Defisit itu disebabkan pertumbuhan impor barang yang meroket sebesar 24,5 persen, lebih dua kali lipat dari pertumbuhan ekspor barang. Defisit perdagangan terakhir terjadi pada 2014 dan itu pun hanya 2,2 miliar dolar AS,” tulis Faisal Basri lagi.

Pemerintah sejauh ini lebih mengedepankan pengendalian impor untuk memperbaiki transaksi perdagangan luar negeri. “Kita mendukung upaya ini jika menyasar ke pembasmian pemburuan rente. Di luar itu tampaknya cara ini bakal kurang efektif dan berdampak negatif terhadap pertumbuhan ekonomi. Jauh lebih ampuh dengan menggenjot ekspor,” saran Faisal.

Ia memberi contoh grup Semen Indonesia, yang berhasil memanfaatkan peluang ekspor dengan mengoptimalkan kapasitas produksi yang tak terpakai dan kelebihan pasokan semen di dalam negeri. “Tahun ini, grup Semen Indonesia mampu mencetak rekor ekspor tertinggi sepanjang sejarah. Upaya grup Semen Indonesia bisa ditiru oleh industri lainnya, yang pemanfaatan kapasitas produksi reratanya masih sekitar 70 persen, bahkan beberapa industri hanya sekitar 50 persen seperti  industri otomotif,” kata Faisal lagi.