PRESIDEN JOKO WIDODO sendiri saat ditanya wartawan terkait aksi unjuk rasa para guru honorer tersebut hanya tersenyum. Awalnya, setelah menghadiri Sains Expo di Tangerang Selatan, Banten, 1 November 2018, Jokowi mau berbicara banyak mengenai acara yang baru ia hadiri. Jokowi memang sudah mengingatkan wartawan agar hanya bertanya yang berkaitan dengan acara Sains Expo. ¬†“Tanya soal acara ini saja, lo,” katanya.

Saat ada wartawan yang menanyakan nasib guru honorer yang sedang demonstrasi di depan Istana Merdeka itu, Jokowi tak mengeluarkan sepatah kata pun. Padahal, menurut Titi Purwaningsih sebagaimana diberitakan kompas.com, para guru honorer yang berunjuk rasa sangat mengharapkan bertemu Presiden Jokowi.

“Kami rela tidur di depan Istana, bayar sewa bus jadi lebih mahal, hanya karena ingin mendapat jawaban dari Jokowi,” kata Titi, 1 November 2018.

Sehari sebelumnya, 31 Oktober 2018, mereka memang telah diterima perwakilan Deputi IV Kantor Staf Kepresidenan (KSP). Tapi, kata Titi, pihak KSP tak menjanjikan apa pun mengenai nasib para guru honorer. Permintaan untuk bisa bertemu langsung dengan Presiden Jokowi atau menteri terkait juga ditolak pihak KSP.

“Kami menolak untuk melanjutkan mediasi dengan mereka karena percuma, tidak ada solusi. Mereka pun tidak tahu bagaimana mempertemukan kami dengan presiden,” ujar Titi.

Titi menjelaskan, para guru honorer pada dasarnya hanya menagih janji yang pernah disampaikan Jokowi. Karena, pada Juli 2018 lalu, Titi dan kawan-kawannya pernah bertemu Jokowi dalam acara Asosiasi Pemerintah Daerah.

Ketika itu, ungkap Titi, dirinya mengeluhkan soal nasib guru honorer yang sudah berpuluh tahun mengabdi tapi tak kunjung diangkat menjadi pegawai negeri sipil. Titi bahkan menyampaikan surat resmi, dengan harapan para guru honorer bisa beraudiensi langsung dengan presiden.

Jokowi saat itu berjanji akan menyelesaikan masalah yang dihadapi guru honorer. “Katanya, ‘Iya, akan diselesaikan’. Kalau tidak ada janji, kami enggak akan nagih. Kalau dari awal bilang tidak bisa kan lebih enak,” tutur Titi lagi.

Titi menilai, apa yang dilakukan pemerintah sekarang ini tak sesuai dengan janji Jokowi. Karena, guru honorer yang bisa mengikuti tes CPNS adalah mereka yang berusia di bawah 35 tahun. Padahal, banyak guru honorer yang sudah berusia di atas itu.

Pihak FHK2I  juga kecewa karena Jokowi justru terkesan menghindari para guru honorer yang sudah datang ke Istana Merdeka untuk menagih janji. Bahkan, saat para guru honorer itu menginap di seberang istana, Jokowi justru memilih blusukan ke pasar di wilayah Bogor, Jawa Barat.

“Kami diabaikan. Senangnya blusukan saja itu presiden, entah ke mana. Kami tidak diperhatikan,” ujar Titi.