Terima Kasih Emak Terima Kasih Abah, Film yang Diperankan Para Pemain Sinetron...

Terima Kasih Emak Terima Kasih Abah, Film yang Diperankan Para Pemain Sinetron Keluarga Cemara Diproduksi

Ilustrasi/Alimi Pictures

Koran Sulindo – Keluarga Cemara, (sinema elektronik televisi) yang pernah tayang di televisi sejak 6 Oktober 1996 hingga 24 Agustus 2004, sebanyak 412 episode, akan difilmkan lagi. Para pemeran asli dalam sinetron itu seperti Adi Kurdi (Abah) dan Novia Kolopaking (Emak) akan kembali memerankan karakter yang pernah mengharu-biru penonton Indonesia, di tengah gempuran sinetron asal jadi itu.

Harta yang paling berharga adalah keluarga

Istana yang paling indah adalah keluarga

Puisi yang paling bermakna adalah keluarga

Mutiara tiada tara adalah keluarga

Selamat pagi Emak

Selamat pagi Abah

Mentari hari ini berseri indah

 Terima kasih Emak

Terima kasih Abah

Untuk tampil perkasa bagi kami putra putri yang siap berbakti

Ilustrasi/Alimi Pictures

Sinetron yang tak seperti sinetron-sinetron lain Indonesia ini tetap menceritakan mengenai kehidupan satu keluarga yang sederhana dan bersahaja yakni Abah (Agustinus Adi Kurdi), Emak (Novia Kolopaking), Euis (Ceria Hade), Cemara (Anisa Fujianti) dan Agil (Puji Lestari).

Garis bawah juga masih sama, keluarga adalah segalanya. Keluarga adalah tempat pertama untuk berbagi kasih sayang, mengatasi masalah yang sedang dialami salah satu anggota keluarganya, dan membentuk karakter diri masing-masing individu dalam keluarga.

Film yang akan berjudul ‘Terima Kasih Emak Terima Kasih Abah’ ini disutradarai Dedi Setiadi, sutradara asli serial ini sejak awal. Tetap berdasar naskah besutan Arswendo Atmowiloto, adaptasi cerita dimulai ketika Emak berjuang keras merawat Abah yang sudah tua dan sakit sakitan, merangkul ketiga anak perempuannya yang kini sudah dewasa dan mempunyai kehidupan masing masing.

Emak dengan kasih sayangnya yang tak terbatas, berusaha membahagiakan semuanya tanpa berharap balasan, karena bagi Emak kebahagiaan keluarganya adalah kebahagiaan dirinya.

Emak tinggal dengan abah yang matanya kurang bisa melihat karena penyakit glukoma. Anak sulungnya, Euis sudah menjadi janda beranak 2 karena suaminya meninggal. Selain mengurusi rumah tangga, Emak juga masih berjualan gorengan dan opak dan terkadang menjadi pembantu, mencuci dan menyetrika di rumah orang kaya. Sementara Euis bekerja disebuah pabrik yang dekat rumahnya sebagai buruh.

Abah yang masih punya semangat berusaha sebisanya tetap saja menjadi beban Emak yang harus mengantarkan mendampingi mulai ke kamar mandi dari pagi sampai tengah malam juga keluar rumah mulai dari berobat rutin sampai Abah kerja serabutan.

Sementara Cemara dengan suaminya hidup berkecukupan namun sudah selama 7 tahun menikah tapi belum dikaruniai anak. Akibatnya secara psikologis muncul rasa ketakutan dimadu atau diceraikan. Cemara diliputi perasaan takut dan menjadi pencuriga terutama kepada wanita cantik. Setiap ada wanita cantik Cemara menduga bahwa itu calon istri kedua suaminya atau calon istri yang baru.

Agil si bungsu beberapa kali berganti pacar, karena laki” ideal yang menjadi acuannya adalah sosok pribadi Abah sehingga selalu membandingkan pacarnya dengan Abah dan akibatnya gagal terus.

Emak tetap menjadi tumpuan atau pusat curhat semua anak”nya. Emak Meladeni semuanya secara intens bersama Abah yang ikut berperan disemua proses. Emak selalu menawarkan hal ideal dengan referensi referensi yang formal seperti agama, walau tak pernah menyitir ayat  atau sumbernya; dan Abah menduniakan formula tersebut menjadi cair seperti yang ada dalam kehidupan sehari hari.

Ilustrasi: (Kiri ke kanan) Imran Hasibuan (produser), Anas Syahrul Alimi (produserr eksekutif), Adi Kurdi (pemeran Abah), Novia Kolopaking (pemeran Emak) dan FX Rudy Gunawan (produser).

Alimi Pictures yang memproduksi film ini memiliki visi sebagai sebuah perusahaan film berbasis kebudayaan lokal yang bermimpi menembus pasar global untuk mempromosikan kekayaan budaya Indonesia ke panggung dunia.

Alimi Pictures didirikan oleh Anas Syahrul Alimi sebagai pengembangan dari perusahaannya Rajawali Indonesia Communication yang bergerak di bidang showbiz dan entertainment, khususnya promotor konser-konser berbasis heritage seperti Prambanan Jazz, Jogjarockarta, Borobudur Simfoni dan banyak event internasional lainnya.

Film ini akan mengambil gambar setelah lebaran nanti. [Didit Sidarta]