Sylvanus Morley dikenal sebagai salah satu arkeolog Amerika yang mendedikasikan kariernya untuk mempelajari peradaban Maya. Namun, pada masa Perang Dunia I, dia bekerja secara rahasia untuk pemerintah Amerika Serikat sebagai agen Office of Naval Intelligence (ONI).
Sejak 1917, Morley melakukan perjalanan di Meksiko dan Amerika Tengah untuk mengumpulkan informasi intelijen.
Aktivitas arkeologinya menjadi kedok yang memungkinkannya bepergian, mengamati wilayah, serta berhubungan dengan berbagai orang tanpa menjelaskan tujuan intelijennya.
Siapa Sylvanus Morley?
Sylvanus Griswold Morley lahir pada 1883. Dia awalnya menempuh pendidikan di Pennsylvania Military College dan memperoleh gelar teknik sipil pada 1904.
Setelah itu, dia melanjutkan pendidikan di Harvard dan mulai menekuni bidang arkeologi. Perhatiannya kemudian banyak diarahkan pada peradaban Maya dan sistem hieroglifnya.
Pada 1907, Morley mulai bekerja di School of American Archaeology di Santa Fe. Kariernya berkembang ketika dia bergabung dengan Carnegie Institution of Washington sebagai research associate pada 1915. Posisi tersebut memberinya kesempatan untuk melakukan penelitian arkeologi di berbagai wilayah Meksiko dan Amerika Tengah.
Pengalaman lapangan itu membuat Morley mengenal kondisi geografis dan masyarakat di kawasan yang beberapa tahun kemudian menjadi wilayah operasinya sebagai agen intelijen.
Mengapa Amerika Serikat Mengawasi Amerika Tengah?
Pada awal 1917, situasi Perang Dunia I meningkatkan perhatian pemerintah Amerika Serikat terhadap aktivitas Jerman di Meksiko dan Amerika Tengah.
Jerman kembali menerapkan perang kapal selam tanpa batas pada 1 Februari 1917. Tidak lama kemudian, AS memperoleh Zimmermann Telegram, pesan diplomatik Jerman yang menawarkan aliansi kepada Meksiko jika AS memasuki perang.
Dalam situasi tersebut, Office of Naval Intelligence memperhatikan kemungkinan adanya aktivitas Jerman di wilayah Meksiko dan Amerika Tengah, termasuk kemungkinan penggunaan lokasi di sepanjang pesisir untuk mendukung operasi kapal selam.
Kondisi geografis kawasan tersebut membuat informasi mengenai garis pantai, sungai, teluk, dan pelabuhan memiliki nilai bagi pekerjaan intelijen.
Sylvanus Morley Menawarkan Diri kepada ONI
Pada Maret 1917, Morley mendatangi Office of Naval Intelligence di Washington. Dia menawarkan keahliannya dan mengusulkan agar sejumlah antropolog serta arkeolog yang mengenal Meksiko dan Amerika Tengah dapat membantu pekerjaan intelijen.
Morley memiliki gagasan untuk menggunakan aktivitas penelitian sebagai cover.
Dengan melakukan ekspedisi arkeologi, seorang agen dapat memiliki alasan yang masuk akal untuk bepergian, mengambil gambar, membuat catatan geografis, dan berbicara dengan orang-orang di berbagai wilayah.
Usulan tersebut diterima oleh ONI. Pada April 1917, Morley mulai menjalankan tugas sebagai bagian dari Naval Coast Defense Reserve. Dia kemudian dikenal dalam catatan operasi tersebut sebagai Agent No. 53.
Sebelum berangkat, Morley dan beberapa rekannya memperoleh pelatihan singkat mengenai pekerjaan intelijen, termasuk penggunaan kode dan penguraian pesan.
Arkeologi Maya Menjadi Kedok Intelijen
Morley tetap merupakan arkeolog yang benar-benar melakukan penelitian Maya. Identitas profesional tersebut kemudian digunakan dalam aktivitas intelijennya.
Penelitian arkeologi memberinya alasan untuk pergi ke daerah terpencil, mengamati lingkungan, memotret lokasi, membuat peta, dan berhubungan dengan pejabat maupun penduduk setempat.
Dia juga membawa John Held Jr., seorang seniman dan kartografer yang membantu membuat sketsa serta peta wilayah yang mereka kunjungi.
Dalam operasi tersebut, kegiatan pemetaan memiliki kegunaan bagi pengumpulan informasi geografis.
Kegiatan tersebut membuat Morley dapat menjalankan pekerjaan intelijen dalam perjalanan yang secara resmi berkaitan dengan penelitian arkeologi.





