Surat-Surat Islami dari Ende, Bung Karno: Kita Royal dengan Perkataan Kafir

Surat-Surat Islami dari Ende, Bung Karno: Kita Royal dengan Perkataan Kafir

Setelah dari Ende, Bung Karno kemudian dibuang ke Bengkulu [Foto: Istimewa]

Koran Sulindo –  Selain kembali mengeluhkan kesempitan ekonomi, Bung Karno kepada sahabatnya Tuan Hassan akhirya setuju membuat brosur dibanding buku-buku yang tebal yang mahal.

Salah satu yang direncanakannya adalah tentang brosur tentang jaiz.

Selain persetujuannya untuk membuat brosur, Bung Karno juga kembali mengeluhkan tentang royalnya penggunaan kata dan cap kafir pada hal-hal yang dianggapnya sebagai kemajuan.

“Kita royal sekali dengan perkataan ‘kafir’, kita gemar sekali mencap segala barang yang baru dengan cap ‘kafir’, pengetahuan Barat-kafir, radio dan kedokteran kafir, pantalon dan dasi dan  topi ‘kafir’, sendok dan garpu dan kursi kafir! tulisan latin kafir,” tulis Bung Karno kepada sahabatnya itu.

“Pada hal apa-apa yang kita namakan Islam. Bukan Roh Islam yang berkobar-kobar, bukan api Islam yang menyala-nyala, bukan amal Islam yang mengagumkan….  tetapi dupa, kurma, jubah dan celak mata!”

Bung Karno mempersalahkan Islam yang hanya dipresepsikan dengan muka angker, kemenyan, jubah panjang serta celak.

“Dia, dialah yang kita namakan Islam. Astagfirullah! Inikah Islam? Inikah agama Allah? Ini? Yang mengafirkan kemodernan dank e-up-to-date-an? Yang mau tinggal mesum saja, tinggal kuno saja, tinggal ‘naik unta’ dan ‘makan zonder sendok’ saja ‘seperti zaman Nabi dan Khalifahnya?” tulis Bung Karno.

Seperti selalu diulang-ulang oleh Bung Karno, Islam is progress, Islam itu kemajuan dan fardu atau sunah, tetapi juga kemajuan karena diluaskan dan dilapangkan oleh aturan, jaiz atau mubah yang lebarnya melampaui batas-batasnya zaman.

Berikut kutipan lengkap surat Bung Karno kepada sahabatnya itu:

Ende, 18 Agustus 1936

Assalamu’alaikum,

Surat Tuan sudah saya terima. Terima kasih atas Tuan punya kecapaian mencarikan penerbit buku saya ke sana-ke sini. Moga-moga lekas dapat, sayang kalau manuscript yang begitu tebal, tinggal manuscript saja.

Tentang Tuan punya usul menulis buku yang lebih tipis, brosur, saya akur. Memang brosur itu perlu. Tapi sebenarnya saya ingin menyudahi satu buku lagi yang juga kurang lebih 400 muka tebalnya, yang rancangannya sekarang sudah selesai pula di dalam saya punya otak.

Rakyat Indonesia, terutama kaum intelegentzia, sudah mulai banyak yang senang membaca buku-buku bahasa sendiri yang ‘matang’, yang thorough.  Ini alamat baik sebab perpusatakaan Indonesia buat 95 persen hanya buku-buku tipis, hanya brosur-brosur, tak sedikit gembira saya, waktu menerima buku bahasa Indonesia “Islam di Tanah Cina. Buku itu salah satu contoh buku yang thorough.

Alangkah baiknya, kalau lebih banyak buku semacam itu diperpustakaan kita! Barangkali nanti kita punya inteligentzia tidak senantiasa terpaksa mencari makanan toh  dari buku-buku asing saja. Ini tidak berarti bahwa saya tidak mufakat orang baca buku asing. Tidak! Semua buku ada faedahnya, makin banyak baca buku, makin baik. Walau buku bahasa Hottentot-pun baik kita baca! Tapi janganlah perpustakaan kita sendiri berisi nihil, sebagai keadaan sekarang.

Tuan kata, buku tipis lebih murah harganya; tapi bagi kaum intelegentzia dan kaum yang sedikit mampu tidaklah menjadi halangan harga buku tebal itu. Toh kaum intelegentzia juga mengeluarkan uang banyak uang bagi buku asing? Toh kita punya kamu mampu juga banyak mengeluarkan uang bat pakaian, buat bioskop, atau buat kesenangan lain-lain.

Sebenarnya, harga buku tidak menjadi ukuran laku tidaknya buku itu nanti. Yang menjadi ukuran ialah kandungan buku itu; isi buku itu digemari orang atau tidak. Bagi Marhaen, ya memang zaman sekarang ini zaman berat. Tapi tiada keberatan kalau buku-buku tebal itu dihajadikan ‘penerbitan untuk rakyat’ atau dipecah menjadi empat lima jilid hingga meringankan harga bagi Marhaen. (Sebenarnya kurang baik memecah buku menjadi jilid-jilid yang kecil)

Tapi toh, dalam pada saya menganjurkan penerbitan lebih banyak buku yang tebal dan throroug itu, saya akui pula kefaedahannya brosur. Sebagai alat propaganda, brosur adalah sangat perlu. Insya Allah saya akan tulis brosur tentang paham jaiz di dalam hal keduniaan. Di dalam salah satu surat saya yang terdahulu, saya sudah sedikit singgung  perihal ini.

Kita punya perikehidupan Islam, kita punya ingatan-ingatan Islam, kita punya ideologi Islam, sangatlah terkurung oleh keinginan mengopi 100 persen segala keadaan dan cara dari zaman Rasul SAW dan Khalifah yang besar. Kita tidak ingat bahwa masyarakat itu adalah barang yang tidak diam, tidak tepat, tidak ‘mati’, tetapi ‘hidup’ mengalir berubah senantiasa, maju, berevolusi, dinamis.

Kita tidak ingat bahwa Nabi saw. sendiri telah menjaizkan urusan dunia, menyerahkan kepada kita sendiri perihal urusan dunia, membenarkan segala urusan dunia yang baik dan tidak haram atau makruh.

Kita royal sekali dengan perkataan ‘kafir’, kita gemar sekali mencap segala barang yang baru dengan cap ‘kafir’,  pengetahuan Barat-kafir, radio dan kedokteran kafir, pantalon dan dasi dan  topi ‘kafir’, sendok dan garpu dan kursi kafir! tulisan latin kafir, ya bergaulah dengan bangsa yang bukan Islam pun kafir! Pada hal apa-apa yang kita namakan Islam. Bukan Roh Islam yang berkobar-kobar, bukan api Islam yang menyala-nyala, bukan amal Islam yang mengagumkan….  tetapi dupa, kurma, jubah dan celak mata!

Siapa yang mukanya angker, siapa yang tangannya bau kemenyan, siapa yang matanya dicelak dan jubahnya panjang dan menggenggam tasbih yang selalu berputar, dia, dialah yang kita namakan Islam. Astagfirullah! Inikah Islam? Inikah agama Allah? Ini? Yang mengafirkan kemodernan dank e-up-to-date-an? Yang mau tinggal mesum saja, tinggal kuno saja, tinggal ‘naik unta’ dan ‘makan zonder sendok’ saja ‘seperti zaman Nabi dan Khalifahnya? Yang menjadi marah dan murka kala mendengar kabar tentang diadakannya aturan-aturan baru di Turki atau di Iran atau di Mesir atau di lain-lain negeri Islam di tanah Barat.

Islam is progress, Islam itu kemajuan, begitulah telah saya tuliskan di dalam salah satu surat yang terdahulu. Kemajuan karena fardu, kemajuan karena sunah, tetapi juga kemajuan karena diluaskan dan dilapangkan oleh aturan, jaiz atau mubah yang lebarnya melampaui batas-batasnya zaman.

Islam is progress. Progres berarti barang baru, barang baru yang lebih sempurna, yang lebih tinggi tingkatnya daripada barang yang terdahulu. Progres berarti pembikinin baru, creation baru, bukan mengulang barang yang dulu, bukan mengopi barang yang lama. Di dalam politik Islam pun orang tidak boleh mengopi barang yang lama, tidak boleh mau mengulangi zamannya ‘khalifaf-khalifah’ yang besar.

Kenapa toh orang-orang politik Islam di sini selamanya menganjurkan political system ‘seperti zaman yang lebih dari seribu tahun itu perikemanusiaan mendapatkan sistem-sistem bar yang lebih sempurna, lebih bijaksana, lebih tinggi tingkatnya daripada dulu? Tidakkan zaman sendiri menjelmakan sistem-sistem baru yang cocok dengan keperluanya, cocok dengan keperluan zaman, itu sendiri? Apinya zaman ‘khalifah-khalifah yang besar itu?

 Ah, lupakah kita, bahwa api ini bukan mereka yang menemukan, bukan mereka yang ‘menggiatkan’, bukan mereka yang ‘mengarangkan’? Bahwa mereka ‘menyutat’ saja api itu dari barang yang juga kita di zaman sekarang mempunyainya, yakni dari Kalam Allah dan Sunah Rasul?

Tetapi apa yang kita ‘cutat’ dari Kalam Allah dan Sunah Rasul itu? Bukan apinya, bukan nyalanya, bukan flame-nya, tetapi abunya, debunya, asbesnya. Abunya berupa celak mata dan sorban, abunya yang mencintai kemenyan dan tunggangan unta, abunya yang bersifat Islam mulut dan Islam ibadat zonder takwa apinya, yang menyala-nyala di ujung zaman yang satu ke ujung zaman yang lain.

Tarikh Islam, kita baca, tetapi kitab-kitab tarikh itu tidak mampu menunjukkan dynamical law of progress yang menjadi nyawanya dan tangannya zaman-zaman yang digambarkkan, tidak bisa mengasih filsafatnya sejarah, dan hanyalah habis-habisan kata memuluk-mulukkan dan mengeramat-ngeramatkan pahlawan-pahlawannya saja.

Kitab-kitab tarikh atau begitu, betapakah umat Islam umumnya, betapakah si Dulan dan si Amat, betapakah si Minah dan si Maryam? Betapakah si Dulah dan Amat dan Minah dan Maryam itu, kalau mereka malahan lagi hari-hari dan tahun-tahun dicekoki paham paham kuno dan kolot, takhayul dan mesum, anti kemajuan dan anti kemodernan, hadramutisme yang jumud-maha jumud?

Sesungguhnya, Tuan Hassan, sudah lama waktunya kita wajib memberantas paham-paham yang mengkafirkan segala kemajan dan kecerdasan itu, membelenggu segala nafsu kemajuan dengan belenggunya ‘Ini haram, itu makruh’, padahal jaiz atau mubah semata-mata! Insya Allah dalam dua tiga bulan brosur itu selesai!

Wassalam

 Soekarno