Surat Kepada Castro: Perjuangan Butuh Waktu dan Kegigihan

Surat Kepada Castro: Perjuangan Butuh Waktu dan Kegigihan

Koran Sulindo – Persamaan karakter antara Bung Karno dan Pemimpin Revolusi Kuba Fidel Castro membuat hubungan pribadi keduanya terjalin baik.

Selain diikat oleh persamaan jiwa progresif revolusioner, keduanya juga sama-sama ‘kiri’ sosialis dan anti Nekolim.

Mereka juga menjadi musuh atau setidaknya sama-sama dimusuhi Amerika Serikat dan sekutu-sekutunya.

Kepada Castro juga Bung Karno bercerita bagaimana revolusi Indonesia mundur ke titik nol setelah peristiwa 30 September 1965. Ia juga bercerita tengah menyusun kekuatan untuk memulihkan keadaan.

Sayang, sejarah mencatat Bung Karno kemudian digulingkan Soeharto.

Tak hanya melalui surat, dialog mendalam antara Bung Karno dan Castro melalui Dubes Indonesia di Kuba Hanafi yang merupakan kepercayaan Bung Karno.

Di antara surat Bung Karno ini salah satu surat yang dikirim Bung Karno kepada Castro:

Presiden Republik Indonesia

P.J.M. Perdana Menteri Fidel Castro, Havana

Kawanku Fidel yang baik!

Lebih dulu saya mengucapkan terima kasih atas suratmu yang dibawa oleh Duta Besar Hanafi kepada saya.

Saya mengerti keprihatinan saudara mengenai pembunuhan-pembunuhan di Indonesia, terutama sekali jika dilihat dari jauh memang apa yang terjadi di Indonesia – yaitu apa yang saya namakan Gestok dan yang kemudian diikuti oleh pembunuhan-pembunuhan yang dilakukan oleh kaum kontra revolusioner, adalah amat merugikan Revolusi Indonesia.

Tetapi saya dan pembantu-pembantu saya, berjuang keras untuk mengembalikan gengsi pemerintahan saya, dan gengsi Revolusi Indonesia.

Perjuangan ini membutuhkan waktu dan kegigihan yang tinggi. Saya harap saudara mengerti apa yang saya maksudkan, dan dengan pengertian itu membantu perjuangan kami itu.

Dutabesar Hanafi saya kirm ke Havana untuk memberikan penjelasan-penjelasan kepada saudara.

Sebenarnya Dutabesar Hanafi masih saya butuhkan di Indonesia, tetapi saya berpendapat bahwa persahabatan yang rapat antara Kuba dan Indonesia adalah amat penting pula untuk bersama-sama menghadap musuh, yaitu Nekolim.

Sekian dahulu kawanku Fidel!

Salam hangat dari Rakyat Indonesia kepada Rakyat Kuba, dan kepadamu sendiri!

Kawanmu

ttd

Sukarno

Jakarta, 26 Januari 1966

[TGU]