Kurang Perhatian

Ahli Indonesia yang dikenal sebagai kritikus sastra terkemuka dari Australia, Keith Foulcher, mengatakan dalam salah satu bukunya bahwa alur sejarah kebudayaan Indonesia mengalir dari perjumpaan Soewarsih dengan Du Perron menuju Chairil Anwar dan lingkarannya, melewati Sjahrir dan bermuara kepada Angkatan 45 dalam Kesusastraan Indonesia. Sama dengan Teeuw,  Foulcher pun menilai Manusia Bebas karya Soewarsih sebagai novel terbaik yang ditulis sebelum era Perang Kemerdekaan di Indonesia.

Soewarsih memang menulis novel tersebut karena dorongan Du Perron. Itu sebabnya, ia menulis novel itu pertama kali dengan bahasa Belanda, yang mulai ia tulis tahun 1939. Novelnya pun diberi pengantar oleh Du Perron.

Namun, waktu pertama kali terbit, pada masa invansi Jerman ke Belanda, Du Perron telah wafat. Du Perron meninggal dunia secara tiba-tiba pada 14 Mei 1940.

Mungkin itu sebabnya, novel Buiten het Gareel karya Soewarsih awalnya tak begitu mendapat perhatian dari peminat sastra Belanda. Situasi sosial-politik Belanda sedang kacau ketika itu. Begitu pula di Tanah Air, kurang mendapat perhatian kritikus karena ditulis dalam bahasa Belanda.

Tambahan pula, Soewarsih tak berupaya menerjemahkan novelnya itu ke dalam bahasa Indonesia, meski ia terus aktif menulis. Baru pada tahun 1975, edisi bahasa Indonesia itu diterbitkan oleh Penerbit Djambatan, dengan judul Manusia Bebas. Yang menerjemahkan Soewarsih sendiri atas permintaan Kedutaan Besar Belanda untuk Republik Indonesia. Sebelumnya, kritikus sastra H.B. Jassin juga terus mendorong Soewarsih untuk menerjemahkan novelnya itu ke dalam bahasa Indonesia.

Dalam pengantar edisi bahasa Indonesia, Soewarsih mengatakan, dengan penerjemahan itu diharapkan bukunya bisa dibaca oleh generasi zaman sekarang, yang tak lagi mempelajari bahasa Belanda. “Saya ingin juga buku saya Buiten Het Gareel dibaca oleh pemuda zaman sekarang sebagai karya sastra,” tuturnya.

Namun, tampaknya, penerbitan edisi bahasa Indonesia yang relatif lama dari masa pertama kali novel itu ditulis membuat Manusia Bebas juga kehilangan gemanya sebagai novel yang membawa gagasan nasionalisme dan pembebasan kaum perempuan. Kisahnya sendiri berpusat pada kehidupan sepasang suami-istri idealis, Soedarmo dan Soelastri, akivis pergerakan kemerdekaan Indonesia, dengan latar Bandung pada tahun 1933 sampai 1936.

Itu sebabnya, dalam novel itu juga ada bagian-bagian yang mengisahkan tentang sosok Bung Karno, yang baru keluar dari penjara kolonial. Soedarmo bahkan diinformasikan kenal dekat dengan Bung Karno. Juga ada gambaran konflik di antara kaum pergerakan karena perbedaan pandangan politik.

Suami Soelastri, Soedarmo, adalah Kepala Perguruan Kebangsaan, sekolah yang didirikan kaum bumiputra dan tanpa izin Pemerintah Hindia Belanda. Oleh Pemerintah Kolonial Hindia Belanda, Perguruan Kebangsaan dan sejenisnya dianggap sebagai sekolah liar dan karena itu selalu dalam pengintaian aparat intelijen kepolisian.  Apalagi, Perguruan Kebangsaan dalam pengajarannya memasukkan ide-ide nasionalisme dan menanamkan sikap antipati terhadap penjajahan.

Bagi Soelastri, perjuangan Soedarmo untuk mencerdaskan bangsanya itu merupakan pekerjaan mulia, apalagi dibayar dengan gaji yang sangat kecil. Padahal, kalau mau, Soedarmo bisa menjadi guru di sekolah yang dibiayai pemerintah kolonial. Sikap dan idealisme Soedarmo yang seperti itulah yang membuat Soelastri jatuh cinta. Ia pun tanpa ragu bersedia dinikahi oleh Soedarmo meski orang tuanya menentang.