Pemandangan Salyut dari awak Soyuz 10 yang berangkat. (NASA)

Ambisi Uni Soviet dalam menaklukkan ruang angkasa pada abad ke-20 bukan sekadar proyek teknologi, melainkan juga perwujudan gengsi geopolitik di tengah rivalitas global. Dari ambisi itulah lahir salah satu tonggak paling bersejarah dalam eksplorasi antariksa yaitu peluncuran stasiun ruang angkasa pertama di dunia, Salyut 1, pada 19 April 1971. Peristiwa ini tidak hanya membuka era baru kehidupan manusia di orbit, tetapi juga menjadi awal dari perjalanan panjang pengembangan stasiun luar angkasa modern.

Jejak Salyut sesungguhnya berakar dari proyek militer rahasia bernama Almaz yang dimulai pada 1966. Melansir laman resmi NASA, program ini dirancang sebagai stasiun orbital berbobot sekitar 20 ton, yang akan dikunjungi secara berkala oleh dua hingga tiga kosmonot menggunakan pesawat ruang angkasa Soyuz. Namun, dinamika politik global mengubah arah pengembangannya.

Keberhasilan Amerika Serikat mendaratkan manusia di Bulan melalui Apollo 11 Moon Landing pada Juli 1969 menjadi pemicu utama percepatan program Soviet. Pemerintah Soviet segera menyetujui program darurat pada Februari 1970 untuk mengembangkan stasiun ruang angkasa sipil berbasis kerangka Almaz, dengan menambahkan komponen dari Soyuz seperti mesin manuver orbital dan panel surya.

Pengerjaan dimulai hampir seketika di fasilitas yang kini dikenal sebagai RKK Energia di Kaliningrad (kini Korolev), dekat Moskow. Targetnya ambisius: menyelesaikan stasiun dalam waktu kurang dari 18 bulan, atau sekitar dua tahun lebih cepat dibandingkan jadwal kesiapan Almaz yang lebih kompleks. Hasilnya adalah sebuah stasiun sepanjang 66 kaki dengan berat sekitar 40.620 pon dan volume hunian 3.500 kaki kubik atau setara dengan kolam renang dalam tanah berukuran besar.

Di dalamnya, para insinyur Soviet menanamkan sekitar 2.600 pon peralatan ilmiah. Berbagai eksperimen dirancang untuk mempelajari adaptasi manusia terhadap penerbangan luar angkasa jangka panjang, termasuk pengaruh tanpa bobot terhadap otot dan sistem kardiovaskular. Teleskop dipasang untuk pengamatan Matahari dan fenomena astronomi, sementara instrumen lain digunakan untuk mengamati Bumi dari orbit.

Untuk mengatasi dampak fisiologis tanpa gravitasi, kosmonot berolahraga menggunakan treadmill dan karet elastis, mengenakan setelan khusus “Penguin” dengan karet yang dijahit di dalamnya untuk memberikan beban pada otot, serta menggunakan alat bernama Veter yang kemudian dikenal sebagai Chibis yang bekerja dengan tekanan negatif pada tubuh bagian bawah guna menjaga kestabilan sistem kardiovaskular. Selain itu, fasilitas seperti lemari es besar dan penghangat makanan memberikan variasi menu yang jauh lebih baik dibandingkan misi-misi sebelumnya.

Sistem dok baru juga menjadi inovasi penting. Para insinyur merancang mekanisme probe dan drogue dengan terowongan bertekanan, memungkinkan kosmonot berpindah secara internal dari pesawat ruang angkasa Soyuz ke stasiun tanpa harus keluar ke ruang hampa. Awalnya, stasiun ini diberi nama Zarya, yang berarti “fajar” dalam bahasa Rusia, sebagai simbol awal era baru eksplorasi manusia di luar angkasa.

Namun, menjelang peluncuran di Baikonur pada Februari 1971, nama tersebut diubah menjadi Salyut. Keputusan ini diambil untuk menghindari konflik dengan program Tiongkok yang menggunakan nama serupa, serta mencegah kebingungan dengan tanda panggilan radio “Zarya” yang digunakan pusat kontrol penerbangan Soviet. Meski demikian, tulisan “Zarya” sudah terlanjur dicat pada badan stasiun dan tidak sempat diubah.

Peluncuran Salyut pada 19 April 1971 menggunakan roket Proton dari Baikonur berlangsung sukses. Dalam sembilan menit, stasiun tersebut mencapai orbit dan mulai mengembangkan panel surya serta antenanya. Namun, tidak semua berjalan mulus. Penutup pelindung salah satu peralatan ilmiah utama gagal terbuka, sehingga membatasi sejumlah eksperimen pengamatan Bumi yang telah direncanakan.

Upaya pertama untuk mengirim awak dilakukan melalui Soyuz 10 pada 23 April 1971. Tiga kosmonot yang terdiri dari Vladimir Shatalov, Aleksei Yeliseyev, dan Nikolai Rukavishnikov berhasil mencapai orbit dan melakukan pendekatan ke Salyut. Namun, kegagalan sistem dok membuat mereka tidak dapat berpindah ke stasiun. Dengan persediaan terbatas, mereka terpaksa kembali ke Bumi setelah 5,5 jam, melakukan pendaratan malam yang jarang terjadi di Kazakhstan.

Kegagalan ini tidak menghentikan langkah Soviet. Para insinyur segera memperbaiki sistem dok dan prosedur penghubungan. Hasilnya terlihat pada peluncuran Soyuz 11 pada 6 Juni 1971. Awak yang terdiri dari Georgi T. Dobrovolski, Vladislav N. Volkov, dan Viktor I. Patsayev berhasil berlabuh dan memasuki Salyut, menjadikannya stasiun ruang angkasa pertama yang benar-benar dihuni manusia.

Selama 24 hari, mereka menjalankan misi yang memecahkan rekor ketahanan di luar angkasa. Eksperimen yang dilakukan mencakup astrofisika, biologi, pengamatan Bumi, dan teknologi. Mereka juga menjadi subjek penelitian langsung tentang efek jangka panjang tanpa gravitasi. Dalam momen bersejarah lainnya, Patsayev merayakan ulang tahunnya yang ke-38 di orbit yang pertama dalam sejarah manusia.

Namun, pencapaian tersebut berakhir tragis. Saat kembali ke Bumi, kapsul Soyuz 11 mengalami penurunan tekanan mendadak. Ketiga kosmonot meninggal sebelum mencapai atmosfer. Tragedi ini mengguncang dunia dan menjadi pelajaran penting dalam keselamatan penerbangan luar angkasa. Soviet kemudian mendesain ulang pesawat Soyuz dan mewajibkan penggunaan pakaian antariksa Sokol selama peluncuran dan pendaratan.

Salyut sendiri tetap mengorbit tanpa awak hingga akhirnya dikendalikan untuk jatuh ke Samudra Pasifik pada 11 Oktober 1971, setelah 175 hari di luar angkasa. Meski berakhir singkat, program ini menjadi fondasi penting bagi generasi berikutnya. Upaya peluncuran Salyut-2 pada 1972 gagal akibat kerusakan roket Proton, sementara generasi kedua yang diluncurkan pada 1973 juga mengalami kegagalan dan disamarkan dengan nama Kosmos 557.

Keberhasilan kembali diraih melalui Salyut 4 pada 1974, diikuti oleh Salyut 6 dan 7 yang membawa inovasi besar seperti port dok tambahan dan kemampuan pengisian ulang menggunakan wahana kargo Progress. Hal ini memungkinkan misi berlangsung lebih lama, bahkan hingga delapan bulan.

Puncak evolusi ini terlihat pada stasiun Mir, yang menjadi laboratorium luar angkasa selama 15 tahun dan dihuni oleh 104 orang dari 13 negara. Teknologi Salyut kemudian menjadi dasar bagi pengembangan International Space Station, khususnya melalui modul layanan Zvezda yang diluncurkan pada 2000 dan masih digunakan hingga kini.

Di sisi lain, Amerika Serikat juga mengembangkan stasiun ruang angkasa melalui Skylab pada 1973. Skylab, meski mengalami kerusakan saat peluncuran, berhasil dihuni selama total 171 hari oleh tiga awak berbeda, menghasilkan berbagai penelitian penting tentang kehidupan di luar angkasa.

Warisan Salyut bahkan melampaui era Perang Dingin. Stasiun ruang angkasa Tiongkok seperti Tiangong 1 dan Tiangong 2, serta modul inti Tianhe, mengadopsi konsep yang berakar dari stasiun pertama tersebut.

Dari keberhasilan hingga tragedi, dari eksperimen awal hingga kolaborasi internasional modern, Salyut menjadi simbol bagaimana langkah pertama manusia di orbit tidak hanya membuka cakrawala ilmu pengetahuan, tetapi juga membentuk masa depan eksplorasi ruang angkasa yang terus berkembang hingga hari ini. [UN]