Koran Sulindo – Seorang gadis Indian Meksiko mati. Lengannya yang terjuntai mulai menggumpalkan darah dan membentuk huruf-huruf… trickle down.

Sementara mata dijejali montase gambar Tentara Pembebasan Nasional Zapatista (EZLN) dan proyektor film dari kamar mayat, melodi yang padat dan menyayat benar-benar mengusik telinga.

Gambar beralih pada alat-alat perang Amerika Serikat dibongkar dari kapal dan berganti-ganti dengan cuplikan film dokumenter hitam putih buruh dan vaqueros dari Qué viva México! besutan Sergei Eisenstein di era 1930-an.

Check it, since fifteen hundred and sixteen, minds attacked and overseen. Now crawl amidst the ruins of this empty dream .With their borders and boots, on top of us,” pekik Zack de la Rocha.

Tentu semua orang tahu belaka, si Zack itu adalah vokalis Rage Against the Machine (RATM) dan lagu yang dinyanyikannya itu adalah People of the Sun. Single kedua dari album Evil Empire tahun 1996 yang videoclip-nya digarap Peter Christopherson.

Terinspirasi setelah berkunjung ke Chiapas di Meksiko selatan yang miskin dalam People of the Sun, Zack tak semata-mata berkisah tentang Zapatista.

Lagu itu mewakili sejarah orang-orang Meksiko khususnya penduduk asli dari ketidakadilan yang ditanggung berabad-abad sekaligus menyerukan agar mereka merebut kembali warisan yang membanggakan itu.

The fifth sun sets get back reclaim. The spirit of Cuauhtémoc, alive and untamed. Now face the funk now blastin’ out your speaker. On the one – Maya, Mexica…” tulis Zack.

Cuauhtémoc atau Guatimozin adalah penguasa terakhir Tenochtitlan dan merupakan penerus Cuitláhuac sekaligus sepupu Moctezuma II. Istrinya yang dikenal sebagai Isabel Moctezuma adalah salah satu putri Moctezuma.

Cuauhtémoc ditangkap oleh Hernán Cortés pada 13 Agustus 1521 ketika melarikan diri dari Tenochtitlán dengan menyeberangi Danau Texcoco bersama pengikutnya. Oleh orang-orang Spanyol, Cuauhtémoc baru dieksekusi bertahun-tahun kemudian setelah menjalani penyiksaan panjang.

Tak hanya pada People of the Sun, perjalanan Zack ke pedalaman Meksiko dan pergaulannya dengan Zapatista menginspirasi kemarahan sengit RATM di lagu-lagu seperti Wind Below dan Without a Face  dari album Evil Empire dan War Within a Breath dari album The Battle of Los Angeles.

Gerakan Politik

Ya, sepanjang sejarahnya beberapa musisi ‘politik’ terus menantang pendengar mereka untuk menggali kebenaran dan melawan balik sistem yang menindas. RATM menjadi salah satu dari mereka yang bersungguh-sungguh itu. Bahkan sampai hari ini, kelompok tersebut tetap menjadi band protes yang paling berpengaruh.

Meski warisan ditinggalkan RATM mengilhami begitu banyak generasi baru aktivis dan musik-musik protes, sejauh ini belum ada yang sanggup mendorong pesan-pesan radikal serupa dalam skala yang dicapai RATM.

Ketika musik sebagai gerakan begitu membosankan seperti yang terjadi pada konser-konser amal, RATM mendorong jauh melampaui etiket yang ndakik-ndakik itu. Mereka  justru melemparkan diri pada akar masalah budaya yang paling kontroversial yakni kapitalisme.

RATM secara khusus Zack, adalah pendukung utama EZLN dan telah beberapa kali melakukan perjalanan ke negara bagian Chiapas di Meksiko untuk membantu upaya mereka.

Zack menyebut dukungannya kepada EZLN dipicu oleh sebab-sebab pribadi yang kenyang oleh pengalaman rasisme. “Tujuan kami bersimpati dengan Zapatista adalah untuk membantu memicu dialog,” kata Zack.

Menurut Zack melalui konser, video, wawancara hingga lirik lagu penggemar RATM berada dalam jangauan pengalaman Zapatista dan dapat berpartisipasi mendukung mereka.

Jadi wajar dan jamak terjadi pada setiap konser-konser RATM mereka memasang bendera EZLN.

Zack juga terlibat langsung dalam demonstrasi rakyat Chiapas bersama gerilyawan Zapatista yang berhasil menguasai ibu kota Meksiko selama sehari di awal tahun 1994.

Pengalaman itu ditulis Zack dalam War Within The Breath yang merujuk pada kekuatan petani dan buruh bersenjata batu dan kayu yang berhasil mengalahkan tentara Meksiko yang dibantu persenjataan canggih oleh AS.

Tak hanya Zack, Tom Morello gitaris RATM juga pendukung EZLN menggambarkan kelompok itu sebagai tentara gerilya yang mewakili masyarakat pribumi miskin. Rakyat di Meksiko selatan yang selama ratusan tahun diinjak-injak dan dipinggirkan oleh sistem ekonomi sosial.

“Pada tahun 1994, pada Tahun Baru ada pemberontakan di sana dan mereka dipimpin oleh Subcomandante Marcos yang sangat karismatik. Mereka adalah kelompok yang sangat mendukung kaum miskin yang paling obyektif dan terus berjuang untuk harga diri semua orang di Meksiko,” kata Morello.

Beragam

Tak hanya terang-terangan mendukung Tentara Pembebasan Nasional Zapatista (EZLN), RATM juga membela Leonard Peltier, mantan pemimpin Gerakan Indian Amerika yang dipenjara. RATM mendokumentasikan kasus Pelttirt dalam video musik untuk Freedom sekaligus berbicara kepada penonton tentang pemenjaraannya itu.

“Ini bukan pertama kalinya Rage Against the Machine telah membuka sekaleng cacing dengan membela apa yang kami yakini,” kata Morello seperti dikatakannya kepada New York Times.

RATM pertama kali mencuri perhatian publik begitu album pertama mereka yang menampilkan Killing in the Name dirilis. Album itu mengusung sampul bergambar biksu Thich Quang Duc asal Vietnam yang membakar dirinya. Ia membakar diri di Saigon sebagai protes pada rezim Ngo Dinh Diem di tahun 1963.

Mengusung campuran funk, hip-hop dan metal, RATM terbentuk di Los Angeles tahun 1990 dengan punggawa Zack de la Rocha pada vokalis, Tom Morello pada gitaris, Brad Wilk pada drum dan Tim Commerford di posisi bass.

Di sisi lain, meski sama-sama kental berurusan dengan politik, latar belakang keempat personil RATM itu memiliki latar belakang keluarga yang sangat beragam.

Ayah Zack, Beto De La Rocha merupakan seorang seniman grafis yang menyalurkan protes melalui karya-karyanya sementara ibunya, Olivia De La Rocha seorang ahli antropologi.

Zack yang berteman sejak sekolah dasar dengan Commerford yang juga asli California. Dari Zack itulah Commerford berkenalan dengan lagu-lagu Sex Pistols sekaligus belajar memainkannya.

Beberapa lirik yang ditulis Zack terlihat jelas pengaruh penulis seperti penyair Cuba, Jose Marti, atau Eduardo Galeano jurnalis dan penulis essay Uruguay serta Amiri Baraka. Sebagian lagu RATM di album pertama, seperti Take The Power Back dan Bullet in the Head berasal dari puisi yang ditulis Zack sebelum RATM lahir di tahun 1991.

Ia juga sering terlihat nongkrong di Nuyorican Poets Café hanya untuk berdiskusi dengan para penyair. “Tanpa politik, saya tidak akan pernah ada di band ini,” kata Zack dengan angkuh.

Sementara Wilk lahir di Oregon dari anak seorang pedagang perhiasan, Tom Morrelo lahir di Harlem yang dikenal sebagai ‘pabriknya politikus’.

Ayahnya, Ngethe Njoroge adalah bekas diplomat dan pemberontak yang pernah bergabung dengan gerakan gerilya Mau Mau yang membebaskan Kenya dari Inggris. Ngethe termasuk orang pertama yang mewakili Kenya di PBB setelah negara itu merdeka.

Ibu Morello, Mary aktif di berbagai organisasi politik termasuk pendiri kelompok Axis of Justice yang memperjuangkan hak-hak kaum imigran dan penghapusan hukuman mati.[TGU]