Qwitaire Maradapur, ‘Belantara’ Muasal Sejarah Nusantara

Qwitaire Maradapur, ‘Belantara’ Muasal Sejarah Nusantara

Di masa peralihan Nusantara mendapat corak luar biasa pertemuan dua peradaban yang maju yakni Hindu dan Budha dengan corak budaya asli yang dimiliki bangsa-bangsa Nusantara yang berpusat pada tuah dan kesaktian.

77
Perahu tradisional yang digunakan di masa pra sejarah. (Foto-www.ancient-origins.net)

Korang Sulindo – Memilih Bukit Brubus di Muara Kaman sebagai waprakeswara atau lapangan suci jelas sudah dihitung dengan cermat dan hati-hati.

Menghadap perairan pasang surut yang strategis, bukit yang luasnya membentang hingga 27 kilometer itu sekaligus berada di tepi pertemuan tiga sungai,  Mahakam, Kedang Pala, dan Kedang Rantau.

Jangan membayangkan Muara Kaman di Kutai Kertanegara, Kalimantan Timur itu seperti bentuknya sekarang, 1.500 tahun yang lalu di sekitar Bukit Brubus adalah danau luas yang ramai sekaligus pusat kerajaan yang makmur.

Kerajaan itu dikenal sebagai Qwitaire Maradapur atau Kutai Martadipura, kerajaan yang sampai sekaran dikenal sebagai mengawali masa bersejarah di Nusantara.

Qwitaire sendiri berarti hutan belantara sementara Kutai konon bermula dari penyebutan saudagar-saudagar Cina yang merujuk kata kho-thay yang bermakna bandar besar atau kota besar.

Ya, dari Bukit Brubus yang terkepung danau inilah tujuh prasasti yang dipahatkan pada tiang batu beraksara Pallawa dan berbahasa Sanskerta ditemukan. Tugu bertulis itu disebut Yupa dan diperkirakan dibuat pada era pemerintahan Raja Mulawarman di abad ke-5.

Terkuaknya keberadaan Qwitaire Maradapur itu bermula dari penelitian yang dilakukan tahun 1870 yang mengungkap empat buah tugu batu yang disebut Yupa, dua buah lencana emas dan sebuah patung kura-kura yang juga terbuat dari emas.

Benda-benda itu semula disimpan keturuan raja-raja di Muara Kaman.

Tertarik dengan penemuan itu, K.F. Holle pada tanggal 3 Juni 1879 menggelar pertemuan di Batavia untuk melakukan penelitian lebih lanjut.

Setahun kemudian Yupa yupa itu dibawa ke Batavia dan disimpan sebagai koleksi Arkeologi di Museum Bataviaasch Genootschap van Kunsten en Wetenschappen, tempat yang sekarang bernama Museum Nasional.

Sementara J.Pn.Vogel mencoba mengalihbahasakan transkripsi dibantu F.D.K Bosch, dan beberapa epigraf dari India Selatan seperti Fleet, Hultzsch, serta Vankayya. Sayang, hasil penelitian mereka jauh dari memuaskan.

Enam dekade berselang, sebuah penelitian lain yang kembali dilakukan di Muara Kaman berhasil menemukan tiga Yupa lagi.

Tak semua Yupa dalam kondisi baik, sebuah Yupa terhapus aksaranya dan tak diketahui lagi isinya. Ia hanya menyisakan bentuk segi empat kecil bekas kepala aksara atau box-heads.

Menurut JG. De Casparis huruf Pallawa dan bahasa Sanskerta pertama kali diperkenalkan bangsa India dan berdasarkan ciri penulisannya disebut sebagai early Pallawa atau Pallawa Tua.

Semasa dengan Kerajaan Qwitaire Maradapur, aksara serupa juga dipakai di India Selatan yang dihuni oleh etnis Tamil keturunan bangsa Dravida yang berkulit gelap, berhidung mancung, dan berkumis tebal.

Penguasaan bahasa Sansekerta termasuk menuliskannya pada prasasti mengindikasikan bahwa Hindu dibawa kaum brahmana. Bukan waisya yang merupakan golongan pedagang. Kesimpulan itu dibuktikan karena bahasa Sansekerta yang ditulis di Yupa itu hanya dikuasai brahmana. Juga disebut Yupa itu sebagai ucapan terimakasih para brahmana kepada raja.

Selain itu bahasa sansekerta juga tak pernah digunakan dalam percakapan sehari-hari. Peneliti menduga, para brahmana datang atas undangan kerajaan seperti halnya yang terjadi di kerajaan Hindu-Buddha lain di Nusantara.

Di Bukit Brubus yang menjadi tempat penemuan, sebuah artefaf masih tersisa berupa balok batu yang salah satu sisinya telah diperhalus. Meski bentuknya seperti Yupa namun batu itu tanpa tulisan.  Penduduk menyebutnya sebagai Lesong Batu.

Kemungkinan paling dekat, Lesong Batu itu adalah tiang batu yang akan menjadi bahan untuk membuat Yupa.

Memperjelas isi Yupa, ‘pembacaan’ ulang sekaligus penerjemahan kembali dilakukan tahun 1952 oleh Raden Mas Ng. Poerbatjaraka. Ia menyebut tulisan-tulisan pada Yupa itu menggambarkan beberapa hal tentang kurban pada sebuah acara keagamaan, silsilah raja-raja dan kehidupan masyarakat di Qwitaire Maradapur.

Dari isi tulisan diketahui bahwa Aswawarman yang merupakan anak Kudungga dijuluki sebagai Dewa Ansuman atau Dewa matahari atau Surya menurut kepercayaan Hindu.

Surya juga diadaptasi dalam dunia  pewayangan sebagai dewa yang menguasai sekaligus mengatur matahari dan mendapat gelar ‘Batara’. Dalam kepercayaan itu Surya mengendarai kereta yang ditarik oleh 7 kuda.

Ciri Nusantara

Yupa juga menyebut Aswawarman sebagai pendiri dinasti sehingga diberi gelar Wangsakerta sekaligus menjalani acara pemberkatan pemeluk Hindu yang dikenal sebagai upacara Vratyastoma.

Upacara ini baru dikenal di masa Aswawarman karena Kudungga diperkirakan masih dipertahankan ciri-ciri ke Indonesiaannya.

Prasasti juga menyebut sebagai raja yang kuat dan cakap, Mulawarman memperluas pemerintahannya yang dibuktikan dengan upacara Asmawedha.

Dalam upacara itu kuda-kuda dilepaskan untuk menentukan batas kerajaan. Upacara serupa juga lazim dilakukan oleh penganut Hindu di India seperti yang pernah dilakukan oleh Raja Samudragupta.

Dari juga diketahui Aswawarman ini memiliki tiga putra termasuk di antaranya yang paling terkemuka adalah Mulawarman.

Mulawarman inilah yang kemudian menggantikan kedudukan ayahnya sebagai Raja. Disebut pada masa Mulawarman kerajaan berada di puncak masa kejayaan dan kesejahteraannya.

Yupa juga menceritakan bagaimana kehidupan masyarakat yang mulai mengenal pengaruh Hindu dan pembangunan sebuah tempat suci yang dijuluki sebagai Vaprakecvara yang merupakan sebuah lapangan lega seluas lapangan sepak bola yang menjadi tempat pemujaan.

Simposium Penyelamatan Warisan Mulawarman pada 2007 menyebut seturut Weda kuno tempat suci untuk upacara itu biasanya berpagar. Itu sesuai pula dengan kemungkinan brahmana yang menganut kecenderungan mengagungkan Dewa Matahari di masa itu.

Vaprakecvara dikelilingi tiga pagar dengan bundaran paling kecil berada di tengah-tengah lapangan. Dua lingkaran lain, dengan diameter makin besar dibangun mengelilingi lingkaran terdalam.

Susunan kayu membagi lapangan menjadi tiga bagian, yakni dalam, tengah, dan luar. Lingkaran paling luar memiliki jari-jari atau radius 50 meter. Tiga pagar melingkar adalah simbol interaksi manusia.

Lingkaran paling dalam, tempat upacara, merupakan lokasi suci untuk berhubungan dengan Pencipta. Bundaran kedua penanda hubungan manusia dengan manusia. Di sini kemungkinan rakyat menyaksikan upacara sang raja. Lingkaran paling luar, yaitu penanda interaksi manusia dengan alam.

20 Ribu Sapi

Isi Yupa juga menguraikan hal-hal yang berkaitan dengan upacara keagamaan, seperti penyebutan dewa, anugerah dari raja berupa 20 ribu ekor sapi, pohon kalpavrksa, anugerah bumi, para brahmana hingga api suci.

Juga disebut tentang tempat suci bagi dewata atau vaprakesvara, segunung minyak kental, lampu, bunga malai atau teratai, penulisan yûpa oleh para brahmana sendiri, serta penyebutan tentang upacara itu sendiri.

Menghubungkan isi Yupa dengam ritual Veda kuno banyak informasi yang bisa disimpulkan sekaligus memperluas pemahaman terhadap upacara yang dilakukan Mulawarman.

Upacara seperti yang disebut dalam Yupa itu sejatinya merupakan ungkapan syukur kepada bumi, karena penganugrahan 20 ribu sapi adalah sebagai simbol bumi. Sementara pelita merupakan simbol api sebagai unsur kedewataan, dan bunga malai atau sejenis terate dianggap sebagai tempat bersemyam dewa.

Alain Daniélou peneliti Prancis menyebut ritual Veda kuna dilakukan dalam sebuah upacara besar yang bersiklus setiap 24 tahun sekali. Kitab suci yang menjadi acuannya adalah Rg Veda, dengan Brahma sebagai dewa pelindungnya.

Ini menjelaskan mengapa raja berjulukan Mulawarman atau Mulavarmman, Mula identik dengan Brahma, dan Brahma bersifat sebagai svayambhu sebagaimana Surya.

Dari isi prasati-prasasti itu dapat disimpulkan bahwa mereka pada awalnya hidup dalam komunitas suku dan tak terpengaruh budaya India. Kuṇḍungga, kakek Mūlawarmmān diduga merupakan pemimpin suku di wilayah itu.

Seiring dengan masuknya pengaruh budaya India di abad ke-4, sistem kesukuan berkembang menjadi kerajaan dengan tetap mempertahankan ciri-ciri Nusantara.

Mencari Emas

Sejak zaman Kudungga, pemimpin pertama Qwitaire Maradapur yang hidup sekitar tarikh 350 Masehi, muara Sungai Mahakam telah diramaikan oleh para pedagang. Termasuk saudagar dari India yang sudah berlayar ke Nusantara di abad pertama dan kedua.

Jacob Cornelis van Leur sejarawan Belanda yang tinggal di Indonesia di akhir masa penjajahan menyebut mereka datang menggunakan kapal-kapal kayu berukuran besar yang sanggup memuat ratusan orang.

Saudagar-saudagar dari India itu berlayar ke wilayah timur setiap September sampai Desember ketika angin basah bertiup dari barat ke timur. Menyusuri Asia Kecil mereka memintas Selat Malaka menuju Laut Jawa dan bergerak ke utara melalui Selat Makasar untuk menuju Cina.

Di muara Mahakam inilah mereka harus mendayung kapal melawan arus Mahakam menuju udik jika angin tak mampu menggerakkan kapal.

Pencarian emas membawa saudagar India berlayar jauh masuk ke dalam belantara Kalimantan karena sebagian besar tambang memang berada di tengah pulau. Bukti bahwa emas hanya ada di anak-anak Sungai Mahakam sangat kuat. Masyarakat lokal Bhingga saat ini masih mencari emas di beberapa cabang sungai.

Ini menjelaskan mengapa kerajaan tertua di Nusantara justru tidak dibangun di pesisir.

Kedatangan saudagar India ke Muara Kaman tentu saja bukan tak sengaja. Seribu tahun sebelum era Mulawarman, Resi Walmiki dalam Kitab Ramayana sudah menggambarkan negeri kaya yang menghasilkan logam mulia serta tumbuh-tumbuhan mahal.

Tak hanya berdagang, sebagian saudagar-saudagar itu menetap di berbagai wilayah di Nusantara sekaligus memicu terjadilah pembauran budaya dan kepercayaan,

Di masa peralihan itulah Nusantara mendapat corak luar biasa pertemuan dua peradaban yang maju yakni Hindu dan Budha dengan corak budaya asli yang dimiliki bangsa-bangsa Nusantara yang berpusat pada tuah dan kesaktian.

Di dalam Ramayana ditulis beruk Hanuman diperintahkan Rama mencari Shinta yang diculik Rahwana. Rama memerintahkan, Yatnavanto yavadvipam saptarajyopacobhitam, suvarnarupyakadvipam suvarnakaramanditam, yavadvipam artikramya ciciromama partvatahdivam aprcati crngena devadanavasevita.

Perintah itu kurang lebih berarti selidikilah benar-benar kepulauan yang dihiasi tujuh kerajaan nusa emas dan perak.

Emas dari tambang-tambang di Naladwiva, Swarnadwipa, Yawadwipa, dan Papua inilah yang menjadi komoditas penting bagi saudagar India untuk dijual ke Yunani, Persia, Mesir, dan Eropa.

Swarnadwipa dan Yawadwipa digunakan Walmiki untuk merujuk Sumatra dan Jawa, sementara Naladwiva diyakini merupakan sebutan untuk Pulau Kalimantan.

Orang-orang Qwitaire Maradapur juga diperkirakan mendatangkan orang dari Campa khusus sebagai tenaga pencari emas. Ini dibuktikan dengan adanya orang Dayak Tunjung yang sering dianggap sebagai sisa-sisa orang Campa yang mendiami dataran tanah tunjung Pinang Sendawar di Kalimantan Timur.

Selain emas, saudagar India juga tertarik dengan kayu cendana, tengkawang, dan gaharu. Komodistas ini juga laku keras di Eropa sebagai bahan wewangian. Sebelum menumkan Nusantara, mereka sebelumnya harus membeli dari orang-orang Arab yang merahasiakan dengan ketat asal-usul rempah itu.

Saudagar India membayar hasil hutan dan emas itu dengan patung, logam, serta sutra halus dari Tiongkok disukai orang-orang setempat.  Sebelum pulang, para pedagang mesti tinggal setengah tahun menanti musim angin balik. [TGU]