Pada masa Perang Dingin, Amerika Serikat mengembangkan pesawat pengintai berkecepatan ekstrem untuk mengumpulkan informasi intelijen dari wilayah yang sulit dijangkau.
Salah satu proyek paling rahasia dalam program tersebut adalah Project OXCART, yang menghasilkan pesawat A-12 milik Central Intelligence Agency (CIA).
Pesawat ini kemudian menjalankan misi pengintaian di Asia Timur melalui Operation BLACK SHIELD pada 1967–1968.
Dengan kemampuan terbang lebih dari tiga kali kecepatan suara, A-12 mengumpulkan foto instalasi militer di Vietnam Utara hingga Korea Utara.
Latar Belakang Project OXCART: Pengganti Pesawat U-2
Pengembangan Project OXCART berawal dari kebutuhan CIA untuk memperoleh informasi intelijen mengenai Uni Soviet.
Pada 1950-an, Amerika Serikat mengandalkan pesawat pengintai U-2 untuk memotret pangkalan militer, fasilitas pertahanan, dan instalasi strategis Soviet dari ketinggian.
Kemampuan terbang tinggi membuat U-2 sulit dijangkau oleh sistem pertahanan udara pada masa itu.
Namun, situasi berubah pada 1 Mei 1960 ketika pesawat U-2 yang diterbangkan pilot Francis Gary Powers ditembak jatuh oleh rudal permukaan-ke-udara Soviet.
Setelah insiden itu, penerbangan pengintaian U-2 di atas wilayah Uni Soviet dihentikan.
CIA membutuhkan pesawat baru yang mampu terbang jauh lebih cepat dan tinggi agar memiliki peluang lebih besar untuk menghindari intersepsi.
Pada 1959, CIA memberikan kontrak pengembangan pesawat tersebut kepada Lockheed.
Proyek ini dikerjakan oleh divisi pengembangan rahasia perusahaan yang dikenal sebagai Skunk Works, dipimpin oleh insinyur Clarence “Kelly” Johnson.
Pesawat yang dikembangkan diberi nama A-12 dan menjadi bagian dari Project OXCART.
Program ini dirancang untuk menghasilkan pesawat pengintai berperforma tinggi dengan kemampuan mengurangi kemungkinan terdeteksi radar.
Pengembangan A-12 OXCART dan Teknologi Mach 3
A-12 terbang untuk pertama kali pada 26 April 1962 di fasilitas pengujian rahasia Groom Lake, Nevada, AS.
Pengembangan pesawat ini menghadirkan sejumlah tantangan teknis karena harus mampu mempertahankan kecepatan sangat tinggi dalam waktu lama.
Salah satu tantangan utamanya adalah panas ekstrem akibat gesekan udara.
Ketika terbang pada kecepatan lebih dari tiga kali kecepatan suara, suhu pada permukaan pesawat meningkat tajam.
Lockheed menggunakan titanium untuk sebagian besar struktur pesawat karena material tersebut memiliki kekuatan tinggi dan mampu bertahan pada suhu yang jauh lebih tinggi dibandingkan aluminium.
A-12 ditenagai dua mesin Pratt & Whitney J58. Mesin ini dirancang untuk mendukung penerbangan pada kecepatan supersonik tinggi dalam durasi panjang.
Pengembangannya juga membutuhkan kemajuan dalam sistem bahan bakar, pelumas, navigasi, kendali penerbangan, komunikasi, dan perlengkapan pendukung pilot.
Bentuk badan pesawat dirancang untuk mengurangi pantulan gelombang radar.
A-12 juga dilengkapi perangkat electronic countermeasures (ECM) untuk menghadapi ancaman sistem pertahanan udara.
Meski memiliki teknologi pengurangan pantulan radar, pesawat ini tidak sepenuhnya tidak terlihat oleh radar.
A-12 mencapai kecepatan Mach 1,1 pada 4 Mei 1962. Dalam pengujian berikutnya, pesawat ini mampu mencapai kecepatan sekitar Mach 3,29 pada ketinggian 90.000 kaki.
Kemampuan operasionalnya kemudian dinyatakan pada 12 November 1965, dengan kecepatan jelajah berkelanjutan sekitar Mach 3,2 pada ketinggian yang sama.
Kemampuan tersebut menjadikan A-12 salah satu pesawat pengintai tercepat yang pernah dioperasikan.
Namun, setelah penerbangan pengintaian di atas Uni Soviet tidak lagi memungkinkan, CIA harus mencari wilayah lain yang membutuhkan kemampuan pengintaian strategis pesawat tersebut.
Operation BLACK SHIELD: Misi Rahasia A-12 di Asia Timur
Pada 16 Mei 1967, CIA menyetujui pengerahan A-12 untuk menjalankan misi pengintaian di Asia Timur melalui Operation BLACK SHIELD.
Operasi ini bertujuan mengumpulkan informasi mengenai aktivitas militer negara-negara di kawasan itu, terutama Vietnam Utara dan Korea Utara.
CIA mengerahkan tiga pesawat A-12 dan enam pilot ke Pangkalan Udara Kadena di Okinawa, Jepang.
Pengerahan dimulai pada 17 Mei 1967, sementara pesawat-pesawat tersebut tiba di Kadena pada rentang 22–27 Mei.
Operasi didukung lebih dari 250 personel yang menangani pemeliharaan, logistik, komunikasi, dan kebutuhan teknis lainnya.
Misi pengintaian pertama berlangsung pada 31 Mei 1967 dan diterbangkan oleh pilot Mele Vojvodich.
Kondisi cuaca saat keberangkatan sangat buruk karena hujan deras.
Meski demikian, pesawat berhasil menyelesaikan penerbangan selama tiga jam 39 menit dengan kecepatan sekitar Mach 3,1 pada ketinggian 80.000 kaki.
Dalam penerbangan tersebut, A-12 melintasi wilayah Vietnam Utara untuk mengambil foto instalasi militer.
Hasil pengintaian mencakup sekitar 70 dari 190 lokasi rudal permukaan-ke-udara (SAM) yang telah diketahui serta sembilan sasaran prioritas.
Namun, pesawat tidak berhasil memperoleh foto fasilitas rudal permukaan-ke-permukaan (SSM) yang menjadi salah satu sasaran pencarian.
Pada misi pertama, pesawat tidak terlacak radar China maupun Vietnam Utara dan tidak ada rudal yang diluncurkan untuk menyerangnya.
Foto-foto yang dihasilkan kemudian diproses agar dapat segera digunakan oleh badan intelijen dan pengambil kebijakan AS.
Ancaman Rudal Vietnam Utara terhadap Pesawat A-12
Kecepatan dan ketinggian terbang A-12 tidak sepenuhnya menghilangkan risiko serangan.
Selama Operation BLACK SHIELD, pesawat tersebut menghadapi ancaman sistem pertahanan udara Vietnam Utara yang dilengkapi rudal permukaan-ke-udara.
Pada 28 Oktober 1967, rudal pertama diluncurkan untuk menyerang A-12 saat pesawat menjalankan misi pengintaian.
Dua hari kemudian, pada 30 Oktober, setidaknya enam rudal kembali diluncurkan.
Insiden ketiga terjadi pada 4 Januari 1968.
Salah satu insiden menyebabkan kerusakan pada pesawat.
Sebuah serpihan logam menembus bagian bawah sayap kanan dan tertahan di dekat tangki bahan bakar.
Serpihan tersebut diduga berasal dari rudal yang meledak di sekitar pesawat.
Meski mengalami kerusakan, A-12 berhasil kembali ke pangkalan.
Misi A-12 setelah Penyitaan USS Pueblo oleh Korea Utara
Operation BLACK SHIELD juga digunakan untuk memantau perkembangan situasi di Semenanjung Korea.
Pada 23 Januari 1968, Korea Utara menyita USS Pueblo, kapal intelijen Angkatan Laut AS, di perairan dekat Semenanjung Korea.
Peristiwa tersebut meningkatkan ketegangan antara Washington dan Pyongyang.
Tiga hari kemudian, pada 26 Januari 1968, CIA mengirim A-12 untuk mengintai wilayah Korea Utara.
Misi tersebut diterbangkan oleh pilot Jack Weeks.
Pesawat melakukan tiga lintasan pengamatan di atas wilayah Korea Utara bagian selatan dan sekitar Zona Demiliterisasi Korea.
Selama penerbangan, radar China melacak keberadaan A-12. Namun, tidak ada rudal yang diluncurkan untuk menyerangnya.
Foto hasil pengintaian menunjukkan USS Pueblo berada di sebuah teluk kecil di utara Wonsan.
Kapal tersebut tampak tidak mengalami kerusakan dan dijaga oleh dua kapal patroli.
Pengamatan udara juga tidak menunjukkan tanda-tanda mobilisasi militer besar di sekitar lokasi.
Informasi tersebut membantu pemerintah AS memperoleh gambaran mengenai kondisi kapal setelah penyitaan.
Sebagian besar awak USS Pueblo dibebaskan pada Desember 1968 setelah ditahan selama sekitar 11 bulan.
Kapal itu tidak dikembalikan dan tetap berada di Korea Utara.
Hasil Operation BLACK SHIELD
Operation BLACK SHIELD berlangsung hingga Mei 1968 dan mencatat 29 penerbangan pengintaian.
Dari jumlah tersebut, 24 misi dilakukan di atas Vietnam Utara, dua misi mencakup wilayah Kamboja, Laos, dan sekitar Zona Demiliterisasi Korea, sedangkan tiga misi dilakukan di atas Korea Utara.
Berdasarkan penilaian terhadap hasil fotografi, 27 misi dinilai berhasil.
Dua misi lainnya hanya menghasilkan data sebagian atau tidak memenuhi kebutuhan pengintaian karena tertutup awan maupun mengalami masalah pada kamera.
Foto udara yang dihasilkan memberikan informasi mengenai lokasi instalasi militer, sistem pertahanan udara, dan perkembangan aktivitas di wilayah sasaran.
Data ini menjadi salah satu sumber intelijen AS selama keterlibatannya dalam Perang Vietnam dan ketika menghadapi ketegangan dengan Korea Utara.
Perbedaan A-12 OXCART dan SR-71 Blackbird
A-12 sering dikaitkan dengan SR-71 Blackbird karena kedua pesawat memiliki bentuk dan karakteristik teknologi yang mirip.
Keduanya dikembangkan oleh Lockheed dengan kemampuan terbang pada kecepatan lebih dari Mach 3.
Namun, A-12 dan SR-71 memiliki perbedaan dalam rancangan serta penggunaannya.
A-12 dikembangkan untuk CIA sebagai pesawat pengintai dengan satu kursi pilot.
Sementara itu, SR-71 dikembangkan untuk Angkatan Udara Amerika Serikat (USAF) dan memiliki dua awak, yaitu pilot dan petugas sistem pengintaian.
SR-71 terbang untuk pertama kali pada 22 Desember 1964.
Dibandingkan A-12, pesawat ini sekitar enam kaki lebih panjang dan memiliki bobot sekitar 15.000 pon lebih berat ketika terisi penuh.
SR-71 juga membawa perangkat pengintaian optik dan radar tambahan.
Pengembangan SR-71 turut memengaruhi keputusan CIA untuk mengakhiri pengoperasian A-12.
Pada saat yang sama, AS semakin mengandalkan satelit pengintai, termasuk program CORONA, untuk memperoleh foto wilayah strategis.
Satelit memberikan alternatif pengumpulan informasi tanpa harus mengirim pesawat langsung ke wilayah yang dilindungi pertahanan udara.
Pada 1968, Kelly Johnson memerintahkan penghentian program operasional A-12.
Pemerintah AS menilai pengoperasian dua armada pesawat pengintai dengan kemampuan yang saling berdekatan tidak lagi memberikan keuntungan yang sebanding dengan biaya dan kebutuhan operasionalnya.
Akhir Operasi A-12 dan Nasib Pesawat OXCART
Penerbangan pengintaian operasional terakhir A-12 berlangsung pada 6 Mei 1968.
Dalam misi tersebut, pesawat melakukan dua lintasan pengamatan di atas Semenanjung Korea.
Setelah itu, armada A-12 secara resmi dipensiunkan pada 28 Mei 1968.
Namun, penghentian operasi tidak berarti seluruh aktivitas penerbangan langsung berakhir.
Pada 4 Juni 1968, pilot Jack Weeks hilang ketika menerbangkan A-12 dalam penerbangan pemeriksaan setelah penggantian mesin.
Pesawat tersebut jatuh sekitar 520 mil di sebelah timur Manila.
Tidak ada puing maupun jenazah yang berhasil ditemukan, sehingga penyebab pasti kecelakaan tidak dapat dipastikan.
Penerbangan terakhir sebuah A-12 dilakukan oleh pilot Frank Murray pada 21 Juni 1968.
Dia menerbangkan pesawat dari fasilitas pengujian di Nevada menuju tempat penyimpanan di California.
Sebanyak 15 unit A-12 dibangun selama program berlangsung. Sembilan di antaranya masih tersisa setelah program dihentikan.
Salah satu pesawat tersebut, Article 128 dengan nomor seri 60-6931, dipindahkan ke CIA pada 2007 dan dipamerkan di kantor pusat badan intelijen tersebut di Langley, Virginia.
Pesawat ini mencatat 453 jam penerbangan dalam 232 penerbangan pengujian dan pelatihan. [BP]
Follow channel WhatsApp Koran Suluh Indonesia dan dapatkan notifikasi untuk lebih banyak artikel menarik lainnya.
https://whatsapp.com/channel/0029VbByPYj3WHTNpxLmO93I




