Politikus Balita

Politikus Balita

Politikus-politikus dewasa ini memang sudah miskin gagasan dan hanya bisa memainkan emosi rakyat untuk tetap dianggap masih relevan menjalankan tugasnya.

Ilustrasi [Sebarr.com]

Kalau Anda rakyat biasa, jangan takut bertemu dengan wakil rakyat yang satu ini. Emir Moeis senang ngobrol soal apa saja dengan siapa saja, suka tergelak-gelak panjang, yang membuat sekujur tubuhnya bergoyang-goyang. Dengan tinggi sekitar 1,75 meter, dan bobot hampir sekuintal, Emir yang bedada bidang ini bisa jadi merebut gelar kehormatan sebagai anggota DPR yang paling ganteng dan bongsor.

Walaupun di kantornya banyak berserak kemeja dan dasi berwarna merah, Emir sama sekali tak mencerminkan sosok “banteng muda” yang siap menyeruduk musuh-musuh partainya. “Saya tergolong teknokrat di PDI-P,” kata Emir, yang jelas tidak menganut prinsip “diam itu emas” seperti ketua umumnya.

Emir pasti bukan wong cilik, tetapi juga bukan politikus kutu loncat yang gemar gonta-ganti kulit seperti bunglon. Uang yang dia kumpulkan selama bertahun-tahun dari bisnis ekspor ekstrak nanas tidak pernah akan habis, layaknya kita mencabut helai demi helai kerta tisu dari kotaknya. Ibarat keluarga besar Kennedy di Amerika Serikat (AS), Emir mengumpulkan harta terlebih dulu, baru terjun ke politik. Bukan sebaliknya.

Dengan kiprah sebagai Ketua Umum Fajar (Forum Staf Pengajar) pad era reformasi, Emir berjuang hidup atau mati dan tidak kenal menyerah untuk mendongkel Orde Baru. Kantor bisnisnya di daerah elite Jakarta kala itu mirip seperti war situation room Gedung Putih yang siap-siap menyerbu Irak, serta menjadi semacam command , control, and communication, untuk mengatur strategi demonstrasi mahasiswa dalam rangka mendongkel Soeharto.

Waktu itu banyak tokoh, baik pemimpin mahasiswa, alumni, tokoh Malari, orang-orang intelijen, ataupun mereka yang sekadar membual politik, yang singgah di kantor Emir untuk saling tukar siasat perjuangan. Analis-analis politik amatiran itu rajin memaparkan prakiran cuaca politik di white board besar. Perempuan-perempuan aktivis selalu siap sedia mengalkulasi berapa banyak nasi rames yang harus didrop untuk mahasiswa yang waktu itu menduduki Kompleks MPR di Senayan.

Banyak yang kaget ketika dosen fakultas teknis lulusan ITB yang usianya setengah abad lebih sedikit itu tiba-tiba bergabung dengan PDI-P. Hebatnya, berkat bobot, bibit, dan bebet politik, Emir langsung terdaftar masuk sebagai “calon jadi” anggota DPR yang urutan nomornya bak nomor cantik kartu SIMP, yang harganya mahal dan diuber-uber mereka yang percaya hoki.

Kenapa masuk politik, Mir?  “Karena senang, dan ayah saya orang PNI. Saya sudah lama menunggu peluang untuk menjadi politikus. Saya ingin menghabisi Orde Baru!” kata Emir bersemangat. Dia tidak bohong karena pernah melakukan interupsi, meminta orang-orang Orde Baru jangan dipilih sebagai pemimpin MPR dan DPR.

Akan tetapi, itu dulu. Sekarng, Emir terpaksa mesti mengorbankan sebagian dari idealismenya untuk memberantas korupsi yang dilakukan pejabat-pejabat Orde Baru. “Sekarang, saya sadar bahwa politik itu merupakan sebuah kompromi,” kata Emir dengan wajah yang tak bersemangat lagi.

Orang Banjar yang mewakili Kalimantan Timur ini bisa memahami kenyataan bahwa banyak rakyat yang kecewa kepada politikus. Ternyata, posisi dia sebagai Wakil Komisi VIII bukan jaminan untuk mengutak-atik korupsi masa lalu.

***

Politikus-politikus dewasa ini memang sudah miskin gagasan dan hanya bisa memainkan emosi rakyat untuk tetap dianggap masih relevan menjalankan tugasnya. Mereka terperosok ke dalam isu-isu yang tidak substansif seperti sentiment kelompok etnis –dan juga uang- hanya untuk meninabobokan rakyat.

Politikus-politikus saat ini tidak cukup kreatif dan hanya sibuk dengan urusan-urusan tidak perlu untuk bertahan di pemerintahan atau parlemen. Satu-satunya cara bagi mereka untuk bertahan adalah memainkan emosi rakyat melalui agama dan kultur.

Itu kata pakar politik Nigeria, Joseph Eze.

Belum lama ini, majority leader (semacam ketua fraksi) Partai Republik di Senat AS, Trent Lott, mengundurkan diri dari jabatannya. Kesalahan dia cuma satu, yakni mengutip isi kampanye pemilihan presiden, Strom Thurmond, tahun 1948.

Thurmond waktu itu memanfaatkan isu segregasi (pemisahan warna kulit putih dengan hitam). Lott memuji kampanye itu dan mengatakan AS akan jauh lebih baik andai saja Thurmond yang terpilih sebagai presiden pada pemilihan saat itu.

Tak ayal lagi, Lott didesak dari semua penjuru angin, termasuk Partai Republik, untuk mengundurkan diri dari jabatannya. Konstituen Lott di Mississipi mengamuk berat, sampai-sampai ada yang mengorganisasi diri untuk menyidik apakah Lott manusia atau setan?

Di Rusia, anggota majelis rendah Vladimir Zhirinovsky semakin ditinggalkan pendukungnya karena ideologi ultranasioanalisme yang dijualnya semakin tidak toleran. Sama pula nasib para politikus Eropa yang menawarkan ide neo-Nazi.

Di Cina, beberapa politikus dijatuhi hukuman mati karena korupsi. Di Italia, politikus sering ditembak mati di pinggir jalan.

Di Inggris, cerita tentang politikus terangkum baik lewat sebuah humor. Sebuah bus yang dipadati politikus tiba-tiba ke luar dari badan jalan dan menabrak pohon besar milik seorang petani tua. Dengan baik hati, sang petani mengubur semua politikus yang sudah tewas itu.

Beberapa hari kemudian, polisi mendatangi tempat kecelakaan dan menanyakan ke mana perginya politikus-politikus itu? Tentu saja si petani menjawab, dia sudah mengubur semua korban.

“Mereka tewas semua?” Petani menjawab, “Sebagian dari mereka mengaku tidak mati. Anda sendiri tahu bagaimana kalah mereka berbohong.”

Politikus kita? Seorang pelajar SMU kepada saya mengaku bête melihat kelakuan mereka. Yang mahasiswa bilang serakah, yang diplomat mengatakan kecewa berat, yang karyawan swasta bilang norak.

Saat menjadi preside, Gus Dur (Abdurrahman Wahid-Red) dulu pernah mengatakan, parlemen kita seperti taman kanak-kanak. Walaupun lucu, kita sendiri sering sebal menyakisikan anak balita kita yang suka merengek atau salaing bergumul berebut mainan.

Mudah-mudahan saja Emir menjadi sebuah kekecualian.

Oleh Budiarto Shambazy 

Tulisan ini pernah dimuat di Harian Kompas edisi 14 Februari 2003 di Rubrik Politika