PDI Perjuangan: Politik Kebangsaan untuk Merekatkan Indonesia

PDI Perjuangan: Politik Kebangsaan untuk Merekatkan Indonesia

Ilustrasi: Ketua DPP PDI Perjuangan bidang Organisasi Djarot Syaiful Hidayat/Istimewa

Koran Sulindo – Dinamika proses politik dalam pwmilihan presiden (Pilpres), harus mengedepankan politik yang berbudaya dan membawa persatuan bangsa. Kampanye berbudaya tanpa menghujat atau hoaks adalah salah satu pasangan calon adalah pilihan yang baik untuk mengenalkan program kepada rakyat.

Penegasan itu disampaikan Ketua DPP PDI Perjuangan Djarot Syaiful Hidayat, saat mengisi Safari Kebangsaan di Kantor DPC PDI Perjuangan Sleman, Yogyakarta ,Senin, (26/11/2018).

“Pendidikan budaya mendesak dikerjakan oleh Indonesia. Kita semua ingin elit yang berbudi halus, menghargai orang. Bung Karno menyebutkan kepribadian dalam kebudayaan. Kehalusan budi ini yang jadi modal penting dalam Pilpres 2019,” kata Djarot.

Bersama Sekretaris Jenderal PDI Perjuangan Hasto Kristiyanto, rangkaian Safari Kebangsaan dijalankan sekaligus sebagai sarana untuk menggerakan struktur partai hingga anak ranting.

Menurut Djarot, meskipun nanti dalam Pilpres berbeda pilihan, tapi semua pihak harus ingat bahwa masih dalam satu ikatan kebangsaan bernama Indonesia. Ia menuturkan, ada pesan penting yang didapat dan dipetik selama berkeliling pesisir selatan, pesisir utara Jawa.

“Kita adalah satu bangsa. Satu kesatuan, mari kita buat Pilpres 2019 suasana lebih sejuk. Ayo terus ingat, kita itu satu bangsa. Jangan saling menistakan, beda pilihan biasa,” kata Djarot yang juga ketua DPP bidang Organisasi di partai berlambang moncong putih itu.

Sementara itu, Hasto Kristiyanto menyatakan melalui Safari Kebangsaan dengan berkeliling ke daerah, diharapkan bisa menggugah semangat kader dalam menyampaikan program partai.

Di dalam kunjungan safari kebangsaan ini dibacakan juga perintah harian Ketua Umum Megawati Soekarnoputri.

Ke depan, kata Hasto, pentingnya membangun martabat sebagai bangsa yang berdaulat, menjadi bangsa Indonesia yang menjunjung persatuan.

“Melalui semangat kebangsaan, ada kepentingan nasional, saatnya merekatkan Indonesia yang beragam jangan dirusak dengan politik yang memecah belah,” kata Hasto.

Seluruh kader diingatkan agar selalu adu gagasan, adu program untuk membangun Indonesia. Gunakan kekuatan otot dan urat nadi partai, untuk dukungan masa rakyat.

“Kita ingin mendorong semua bersatu, bersama.Kita ingatkan caleg promosikan program partai, laut halaman depan NKRI, yang diperjuangkan program partai,” kata Hasto yang juga Sekretaris Tim Kampanye Nasional Jokowi-KH Ma’ruf Amin.

Secara khusus, Hasto Kristiyanto mengapresiasi kepemimpinan dan keteladanan Presiden Joko Widodo yang menunjukan bahwa pemimpin jangan asal bicara ke publik,

“Pak Jokowi mengingatkan waktu kampanye masih panjang. Kalau ada yang jadi kompor politik, lebih baik agar kompor digunakan buat kopi, digunakan untuk memasak makanan tradisional,” tandas Hasto.

Melalui Safari Kebangsaan didapatkan fakta bahwa masalah infrastruktur menjadi kebutuhan daerah seperti di Jawa Barat adalah membangun jalan untuk membuka akses pariwisata.

“Infrastruktur untuk SDM, kunci adalah manusianya, yang dilakukan pada periode yang kedua, pemerintahan Jokowi,” kata Hasto.

Sedangkan, Eko Suwanto, Wakil Ketua DPD PDI Perjuangan yang hadir mendampingi Sekjen Hasto Kristiyanto menyatakan bersama pengurus dan kader PDI Perjuangan terus berjuang bersama rakyat dengan door to door menyapa rakyat.

“Kita yang menjadi petugas partai di DPRD juga mengawal kebijakan pro rakyat Pak Jokowi dengan berbagai kebijakan pembangunan di daerah untuk mewujudkan kesejahteraan rakyat,” kata Eko yang juga Ketua Komisi A DPRD Yogyakarta itu.

Eko meyakini bahwa Presiden Joko Widodo konsisten dalam menjalankan kebijakan pembangunan yang mengarah pada kesejahteraan rakyat. Sinergi pemerintah dan pemerintah daerah dengan didukung masyarakat akan mewujudkan kesejahteraan rakyat.

“Kita yakin dengan kerja keras seluruh kader partai dan dukungan rakyat, Jokowi Amin akan menang dalam Pemilu 2019 secara bermartabat dan berbudaya,” kata Eko. [CHA]