Karena itu, perdebatan tentang peta tidak perlu menjadi lomba mencari siapa yang paling salah. Yang lebih menarik adalah melihat bagaimana sebuah alat yang dibuat untuk tujuan tertentu bisa berubah menjadi kebiasaan umum.

Peta Mercator sangat berguna untuk navigasi. Tapi ketika dipakai untuk membandingkan ukuran benua, ia membuat mata kita mendapat kesan yang keliru. Afrika tampak lebih kecil. Wilayah dekat kutub seperti Greenland tampak lebih besar. Distorsi yang awalnya matematis akhirnya menjadi distorsi persepsi.

Di sinilah keputusan PBB menjadi lebih dari urusan kartografi. Dalam alasan urgensi pengubahan petanya, Togo menyebut peta membentuk cara manusia memahami dunia, pendidikan, imajinasi, dan persepsi kolektif.

Itu bukan perkara sepele. Anak yang setiap hari melihat sebuah benua tampak kecil tentu tidak otomatis menganggap bangsa di dalamnya kecil. Tapi pendidikan bekerja melalui pengulangan. Apa yang terus dilihat lama-lama terasa normal.

Indonesia pun punya alasan untuk memperhatikan perkara ini. Kita hidup di sekitar khatulistiwa. Kita juga negara kepulauan yang terbentang sangat panjang.

Di banyak peta dunia, Indonesia tampak seperti gugusan pulau yang tercecer. Sabang dan Merauke seolah dua nama yang kebetulan berjauhan. Padahal jaraknya membentuk salah satu kenyataan geografis terpenting negeri ini.

Peta yang lebih tepat dalam hal luas tidak otomatis membuat semua persoalan Indonesia menjadi selesai. Tapi ia membantu anak melihat dunianya dengan skala yang lebih masuk akal.

Karena itu, mungkin pelajaran peta di sekolah perlu sedikit diubah. Jangan hanya bertanya, “Ini negara apa?” Tambahkan pertanyaan: “Peta ini dibuat untuk apa?”

Kalau untuk navigasi, pilih proyeksi yang menjaga arah. Kalau untuk membandingkan luas, gunakan proyeksi equal-area. Kalau untuk melihat wilayah tertentu secara rinci, pilih proyeksi yang sesuai dengan wilayah dan tujuan pemetaan.

Tidak ada satu proyeksi yang menjadi juara untuk semua pertandingan. Bahkan PBB sendiri menegaskan bahwa setiap proyeksi mempunyai komprominya masing-masing.

Dengan begitu, anak tidak hanya belajar membaca peta. Ia belajar membaca cara sebuah informasi disajikan.

Ini jauh lebih penting dari sekadar hafal bahwa Greenland berada di sana dan Afrika berada di sini. Sebab masalah yang sama ada di luar peta.

Grafik bisa membuat angka tampak dramatis. Foto bisa memilih sudut tertentu. Statistik bisa benar, tapi cara menampilkannya bisa menyesatkan. Algoritma juga memilih apa yang kita lihat dan apa yang tidak kita lihat.

Jadi, mungkin inilah pelajaran terbesar dari ribut-ribut tentang peta: jangan terlalu cepat percaya pada gambar yang tampak objektif. Sebuah peta bisa sangat ilmiah dan sekaligus sangat selektif.

Bumi tidak berubah ketika petanya diganti. Yang berubah adalah ukuran yang dipakai mata kita untuk melihatnya.

Dan bagi anak sekolah, itu mungkin pelajaran geografi yang paling berguna. Anak bukan hanya tahu di mana letak dunia, tapi juga tahu bagaimana dunia sedang dibuat terlihat di peta.

Cak AT – Ahmadie Thaha | Kolumnis