Peta, sebenarnya, sudah lama menjadi cara manusia memilih apa yang dianggap penting. Jauh sebelum Mercator, manusia telah menggambar dunia dengan pengetahuan yang tersedia pada zamannya.
Tradisi Ptolemy kemudian memengaruhi kartografi Islam. Pada abad ke-12, al-Idrisi menyusun karya geografis besar yang selesai pada 1154. Ia menggabungkan pengetahuan Yunani dan Arab dengan laporan para pelancong serta pengamatan langsung.
Karyanya, seperti yang dikutip Ibnu Khaldun dalam kitab al-Muqaddimah, terdiri atas 70 peta bagian. Yang menarik, dalam peta al-Idrisi, utara tidak berada di atas. Peta itu berorientasi dengan selatan di atas, dengan Mekkah sebagai pusatnya.
Kalau peta itu yang kita pakai, anak sekolah sekarang mungkin akan mengatakan, “Pak, petanya terbalik.” Sebetulnya, tidak. Petanya tidak terbalik. Kita saja yang terbiasa dengan satu kebiasaan.
Itu pelajaran kecil yang sering hilang ketika peta hanya diajarkan sebagai gambar untuk dihafal. Kita hafal letak provinsi, ibu kota, gunung, sungai, dan negara. Kita jarang diajak bertanya: siapa yang membuat peta ini, untuk apa, dan apa yang dikorbankannya?
Padahal sejarah peta menunjukkan bahwa pengetahuan geografis tidak tumbuh dalam satu peradaban saja. Ptolemy memberi warisan penting. Para ilmuwan Muslim mengembangkan dan mengoreksi pengetahuan itu. Al-Idrisi menyusun pengetahuan dari berbagai sumber.
Tradisi geografis itu kemudian terus bergerak, diterjemahkan, dipakai, diperbaiki, dan bertemu dengan kebutuhan navigasi Eropa. Mercator adalah salah satu hasil dari perjalanan panjang tersebut.




