Ilustrasi/kpu-pinrangkab.blogspot.co.id

Koran Sulindo – Partai politik saat ini tak ada yang menjadi agen pembaruan (agent of change), tapi berfungsi sebagai status quo. Padahal permasalahan yang dihadapi bangsa ini begitu besar, seperti kemiskinan, ketersediaan pangan akibat jumlah penduduk yang semakin bertambah dan lain sebagainya. Akibatnya parpol menjadi teralinasi oleh masyarakat.

Hal ini diutarakan oleh peneliti Institute of Southeast Asian Studies Dr Max Lane dalam kuliah umum ‘Konsep elektabilitas Ketertawanan dalam Status Quo’,  yang berlangsung di Gedung Seminar Fisipol UGM, Jumat (17/20).

“Mana ada partai yang punya program bagus. Apakah partai sekarang ini membantu sistem yang lebih baik? Tak ada kemampuan,” ujar Lane.

Melihat kenyataan ini Lane melihat parpol yang ada di Indonesia tak pernah menjadi besar, namun justru mengecil. Ia lantas menyodorkan fakta, PDI Perjuangan yang memenangi pemilu lalu hanya mencapai sekitar 19 persen.

Karena tak mempunyai program nasional yang bagus, menurut Lane, maka dalam kontestasi memilih pemimpin, parpol kemudian mencari patron yang ada di luar. Hal ini bisa dilihat pada pilkada DKI Jakarta. Ahok, Anies maupun Agus HY bukanlah orang partai. Maka, tak pelak, tingkat elektabilitas menjadi salah satu pertimbangan utama. Bahkan ada kecenderungan partai politik tidak lagi memandang program dan ideologi sebagai prasyarat utama dalam memilih figur melainkan tingkat elektabilitas.

“Elektabilitas menjadikan partai melupakan basis ideologi,” tutur Lane yang menerjemahkan karya-karya Pramudya Ananta Toer dan WS Rendra – Suku Naga.

Karena itu Lane juga tak heran bila ada ketidakkonsiten parpol dalam berkoalisi saat ada pilkada. Di satu lokasi merek bisa bersekutu, namun di daerah lain bisa menjadi lawan. Padahal, semestinya parpol yang memiliki konsep ideologi dan program yang sama akan terus berkoalisi di mana saja.

“Partai-partai saat ini lebih memilih orang yang kemungkinan akan menang. Ini yang mereka pandang jauh lebih penting dibanding ideologi dan program yang diperjuangankan,” tegasnya.

Di awal ceramahnya, Lane mengungkapkan kemunculan parpol di banyak negara seperti di Amerika Serikat ataupun Australia, berlaku sistem 2 partai. “Kalaupun ada lebih, maka yang kecil-kecil itu menjadi satelitnya,” ungkapnya.

Menurut Lane, terbentuknya 2 partai ini ada basis material. Di masyarakat industrial, situasi 2 partai berkembang berbasis kelas sosial, kapital dan buruh. Sementara di Indonesia, dan juga rata-rata bekas jajahan Eropa, situasi partai lebih berbasis belahan elit daripada belahan masyarakat.

Lane juga mengungkapkan parpol di Indonesia berambisi level nasional, meski ada partai lokal seperti di Aceh. [YUK]