Dja dan Bung Karno
Dja dan Bung Karno [Foto: Ramadhan KH]

Koran Sulindo – Beberapa waktu lalu, kita merayakan kemerdekaan negara ini yang ke-72. Telah banyak ditulis dalam buku-buku sejarah, peran para pejuang: militer, politikus, dan barisan rakyat, yang mempertahankan kemerdekaan dari ancaman Belanda dan Sekutu pada periode 1947-1949. Namun, peran para seniman jarang sekali terdengar. Padahal, tak sedikit dari seniman, terutama yang bergelut di panggung dan film, ikut serta dalam perjuangan itu.

Seniman Panggung
Selepas proklamasi, perkumpulan-perkumpulan sandiwara banyak yang mengadakan pertunjukan keliling, untuk mengobarkan semangat kemerdekaan. Bakri Siregar dalam tulisannya di Mimbar Indonesia edisi 4 Juni 1949, menyebut rombongan sandiwara Pantjawarna, Bintang Timoer, Warnasari, PPPI (Pusat Peredaran Pilem Indonesia), dan Seniman Merdeka yang berkeliling menebarkan semangat kemerdekaan.

Mulai 1947, usaha sandiwara mengalami masa suram. Bakri Siregar memberikan sedikit gambaran tentang situasi beberapa perkumpulan sandiwara pada masa ini. Menurutnya, Pantjawarna menetap di Yogyakarta, Bintang Soerabaja mencari ”lapangan” di kota-kota kecil sekitar Yogyakarta, Dewi Mada “tertahan” di Cirebon. Kemungkinan, selain Agresi Militer Belanda I, perkumpulan-perkumpulan ini kehabisan dana untuk mengadakan pertunjukan keliling, seperti yang pernah mereka lakukan pada masa pendudukan Jepang. Wajar saja. Saat masa Jepang, mereka disokong habis-habisan, untuk mengadakan pementasan propaganda.

Ada sejumlah tokoh sandiwara yang cukup menonjol perannya di masa revolusi kemerdekaan. Salah satunya Dewi Dja. Primadona rombongan sandiwara Dardanella yang populer dan besar pada masa Hindia Belanda itu, menetap di Amerika Serikat, usai perjalanan keliling negara Asia dan Eropa bersama rombongannya pada 1936. Pada 1947, Dja bersua sejumlah tokoh politik nasional, Sutan Sjahrir dan Agoes Salim.

Dja bahagia, akhirnya Indonesia merdeka. Meski menetap di Amerika, dan sudah menyandang kewarganegaraan Paman Sam pada 1951, artis Indonesia yang pertama kali bermain di sejumlah film Hollywood itu tetap cinta negerinya. Dalam sebuah kesempatan, Dja ikut bersama para pemuda yang berdemonstrasi di depan kantor PBB di New York, untuk mendukung kemerdekaan Indonesia.

Kisah tadi ditulis apik oleh Ramadhan KH, dalam bukunya Gelombang Hidupku; Dewi Dja dari Dardanella (1982). Selain Dewi Dja, seniman peranakan Tionghoa mantan kolega Dja di Dardanella, Tan Tjeng Bok memiliki peran dalam usahanya mengumpulkan dana untuk perang kemerdekaan. Disebutkan di majalah Djaja, edisi 18 September 1965, ketika menetap di Bojonegoro, Tjeng Bok merupakan pemimpin bagian kesenian Barisan Pemberontak Rakyat Indonesia (BEPRI) pimpinan Bung Tomo.

Tugas Tjeng Bok dan kelompoknya adalah menghibur para pejuang di garis depan. Selain itu, ia membentuk kelompok sandiwara bernama “Merdeka”, untuk menghimpun dana bagi gerilyawan. Uniknya, Tjeng Bok merekrut tukang sayur, pedagang kecil, tukang sate, dan pengangguran untuk dijadikan para pemain sandiwaranya. Alatnya pun seadanya. Hasil pertunjukan, disumbangkan kepada para pejuang.

Kebencian Tjeng Bok kepada Belanda sesungguhnya dipupuk oleh rasa dendam pribadi. Di usia 13 tahun, dirinya pernah ditampar komisaris polisi Belanda, kala sedang kalang-kabut memikirkan nasib ibu angkatnya yang terancam tatkala terjadi kebakaran hebat di dekat rumahnya di Ciwaringin, Bandung.

Geramnya komisaris polisi Belanda itu bukan tanpa alasan. Disebutkan dalam Selecta, 10 September 1964, amarah komisaris polisi Belanda disebabkan lantaran Tjeng Bok tak sengaja menginjak selang pipa pemadam kebakaran. Beruntung, ibu angkatnya selamat dari peristiwa kebakaran itu. Kesadaran Tjeng Bok, yang sangat produktif bermain film pada 1950-an hingga 1984 itu, sesungguhnya dipupuk saat ia menjadi anggota rombongan sandiwara Dardanella, pada masa Hindia Belanda.

Tan Tjeng Bok [Foto: Djaja]
Tan Tjeng Bok [Foto: Djaja]
Dardanella sendiri sudah menggunakan bahasa Melayu (Indonesia) sebagai bahasa persatuan dalam pertunjukan mereka, yang ditegaskan dalam peristiwa kongres pemuda pada 1928. Dardanella terbentuk pada 1926. Menurut Dja, dalam buku Gelombang Hidupku; Dewi Dja dari Dardanella, Dardanella juga sudah memelopori persatuan bangsa. Dardanella adalah wujud dari Indonesia kecil, begitu katanya. Di dalam rombongan ini, terdapat bintang-bintang yang berasal dari berbagai etnis, tapi disatukan dengan bahasa yang sama.

Terkait tertangkapnya Soekarno dan sejumlah tokoh pergerakan pada 1930, juga menjadi bahan diskusi anggota Dardanella. Menurut Dja, pemimpin Dardanella yang orang Rusia, A.Piedro, sangat hormat terhadap perjuangan Soekarno dan kawan-kawannya. Piedro pernah berkata kepada salah seorang anggota Dardanella, Astaman, “Perjuangan tak akan berhenti. Biar ia ditangkap sekalipun, perjuangan kemerdekaan ini tak akan berhenti. Pasti ada yang melanjutkan.”

Pidero sendiri, menurut Selecta, 10 September 1964, adalah pelarian dari Uni Soviet usai jatuhnya Tsar Nicholas II pada 1918. Cukup aneh. Padahal Piedro mengaku sebagai seorang komunis tulen.

Orang-orang Film
Orang film pun ikut berjuang ketika Indonesia merdeka. Menurut H. Asby dalam tulisannya berjudul “7 Tahun Merdeka, Sampai di Mana Hasil Film Indonesia?” dalam majalah Aneka edisi 1 September 1952, para bintang film di masa revolusi ikut angkat senjata.

Perjuangan orang film diletupkan dengan mengambil alih studio film di daerah Bidaracina, Jakarta. Studio, yang akhirnya menjadi gedung Perum Produksi Film Negara (PPFN) itu, menurut Asby, diserbu para artis film usai proklamasi kemerdekaan.
Asby pun mengisahkan soal perjuangan artis film di medan perang dalam tulisannya itu.

Saja masih ingat. Disaat itu banjak kaum artisten film kita jang kemudian turut serta beraksi dimedan kuru. Para bintang film memanggul sendjata. Para cameramen dan teknisi jang lain ikut serta berdjuang sepandjang kemampuan masing-masing. Kesemuanja mereka angkat sendjata memberantas pengatjau kemerdekaan tanah air dan bangsa,” tulis Asby.

Djoemala, seorang artis film sebelum masa pendudukan Jepang, diketahui dari buku Apa dan Siapa Orang Film Indonesia 1926-1978 (1979) juga ikut angkat senjata saat revolusi. Selain Djoemala, ada nama Usmar Ismail, mantan penulis drama dan pendiri rombongan sandiwara Maya di masa Jepang yang kelak menjadi sutradara terkenal. Ketika ibu kota pindah ke Yogyakarta, karena Jakarta berhasil dikuasai pasukan Sekutu, Usmar Ismail direkrut Zulkifli Lubis dari Bagian V, Intelejen dan Propaganda. Pangkat Usmar Mayor TNI.

Namun, anehnya, meski ikut berjuang, saat Belanda mengaktifkan studio film South Pacific Film Corp (SPFC) pada 1948, Usmar ikut di dalamnya. Usmar muncul di produksi ketiga studio ini, Gadis Desa, sebagai asisten sutradara Andjar Asmara. Ia menjadi asisten sutradara di studio milik Belanda itu, usai keluar dari penjara Cipinang. Usmar diciduk Belanda setelah meliput Perjanjian Renville pada 1947. Is dibebaskan atas jaminan dari Chairil Anwar.

Usmar Ismail [Foto; Aneka]
Usmar Ismail [Foto; Aneka]
Kenapa Usmar ikut di dalam studio bentukan Belanda? Menurut Misbach Yusa Biran dalam bukunya Film Indonesia 1900-1950; Bikin Film di Jawa (2009), ia berada di Jakarta setelah keluar dari penjara, karena desakan kawan-kawan sesama seniman di Jakarta dan Yogyakarta. Alasannya, demi perjuangan. Setelah Andjar angkat kaki, Usmar naik jadi sutradara. Ia sempat menyutradarai Tjitra (1949) dan Harta Karun (1949). Setelah itu, ia mengundurkan diri. Namun, Usmar tak pernah mengakui dua film itu adalah karyanya. Ia hanya mengakui Darah dan Doa (1950) sebagai karyanya yang perdana. Alasannya, seperti dikutip dari buku Katalog Film Indonesia 1926-2007 karya JB Kristanto, karena penulisan dan pembuatannya terlalu ditekan produser, yang tak selalu ia setujui.

Artis lain yang cukup fenomenal adalah Ratmi B29 mungkin yang paling fenomenal. Pemain film era 1970-an dan komedian ini ikut mengangkat senjata di masa perang kemerdekaan. Kisah heroik Ratmi pernah ditulis Tempo edisi 14 Januari 1978. Di masa revolusi fisik, artis dengan nama asli Suratmi itu masuk dalam Barisan Srikandi/Laswi dan anggota staf Batalyon Brigade D/X-16 di Jawa Tengah. Pangkatnya sersan dua. Ia tercatat pula memiliki tanda jasa berupa Bintang Gerilya, SLPK I dan II, serta GOM I dan V. Wafat karena serangan jantung pada 31 Desember 1977 di Makassar, Ratmi akhirnya dimakamkan di Taman Makam Pahlawan, Kalibata, Jakarta. Ia satu-satunya artis yang bersemayam di sana.

Seniman, tak hanya bisa menghibur di atas panggung. Perannya dalam sejarah bangsa ini terbilang cukup penting, meski jarang disorot. Di masa Hindia Belanda, mereka murni penghibur. Di masa Jepang, mereka dijadikan corong untuk menebar propaganda pemerintah fasis Jepang. Di masa revolusi, mereka ikut andil dalam mempertahankan kemerdekaan. [Fandy Hutari]