Palang Merah Buat Situs Pencarian Korban Tsunami Selat Sunda

Palang Merah Buat Situs Pencarian Korban Tsunami Selat Sunda

Koran Sulindo – Untuk memfasilitasi keluarga, kerabat, ataupun siapa pun yang ingin mencari korban tsunami di pantai sekitar Selat Sunda, yang terjadi pada Sabtu malam (22/12), Palang Merah Internasional membuka sebuah situs. Alamat situsnya bisa diklik di sini.

Dijelaskan Kepala Sub Tanggap Darurat Palang Merah Indonesia (PMI) Pusat, Ridwan Sobri Carman, masyarakat yang ingin mencari anggota keluarga atau kenalannya dapat mendaftarkan diri di situs tersebut. “Kami juga sudah membuka pos pencarian orang hilang melalui website dan siapa pun yang mau mencari anggota keluarganya itu, mereka bisa register di sistem ini,” kata Ridwan, Senin (24/12).

Warga yang sedang mencari sanak-saudaranya, lanjutnya, perlu mencantumkan identitas hingga kontak terakhir dengan orang yang dicari. Kemudian, sistem itu akan bekerja untuk menemukan kecocokan antara data korban terdampak bencana dan orang yang dicari. “Jadi, ketika ciri-ciri yang diharapkan ketemu, secara sistem akan match, itu untuk menghindari kemungkinan miss dari proses itu,” tutur Ridwan.

Kalau ditemukan atau cocok datnya, pihak pencari akan diberitahu melalui daftar kontak yang dicantumkan saat mendaftar. Pemberitahuan dapat melalui telepon atau surat elektronik (e-mail).

Kendati demikian, menurut Ridwan, pencari sebaiknya juga aktif memeriksa daftar korban selamat, karena ada korban yang mendaftarkan diri di situs tersebut. Memang, fitur “Saya Selamat” ada disediakan di situs tersebut. Dengan adanya fitur ini, para penyintas mendaftarkan diri mereka dan menginformasikan kalau diri mereka selamat dari bencana.

Pada Ahad kemarin (23/12), Ridwan juga mengungkapkan, PMI telah memobilisasi 120 personel sukarelawan di wilayah Banten serta memobilisasi 6 unit ambulans. Sementara itu, untuk wilayah Lampung Selatan, PMI memobilisasi 15 personel sukarelawan untuk membantu upaya evakuasi warga yang terdampak akibat terjangan tsunami.

“Tim PMI yang terjun ke lapangan membantu upaya evakuasi dan memberikan pertolongan pertama bagi warga yang mengalami luka-luka, selain itu kami juga melakukan asesmen terkait dengan respons selanjutnya,” ujar Ridwan.

Saat ini, banyak warga yang masih mengungsi di wilayah perbukitan di Cikaduan, di wilayah dekat Pantai Tanjung Lesung. “Saat ini warga terdampak masih trauma untuk kembali ke rumah mereka walaupun kondisi air laut sudah surut. Mereka memilih mengungsi sementara ke daerah yang lebih aman,” katanya.

Akan halnya di wilayah Lampung selatan, wilayah terdampak meliputi wilayah Rajabasa, Kalianda, Sidomulyo, dan Ketibung. “Berdasarkan laporan dari Tim PMI di Lampung selatan, sekitar 2.000 orang mengungsi di Kantor Gubernur Lampung, tapi sudah ada yang kembali ke rumah dan masih ada yang mengungsi karena takut ada tsunami susulan,”  tutur Ridwan.

Namun, pada Senin siang (24/12), CNN Indonesia memberitakan, kawasan Kalianda, Lampung Selatan belum memiliki posko pusat informasi satu pintu atau crisis center. Akibatnya, hingga kini belum ada data pasti terkait jumlah korban meninggal dunia, luka-luka, atau yang belum ditemukan.

“Jumlah korban meninggal belum terkonfirmasi, yang menjadi masalah di sini belum ada posko atau crisis center informasi satu pintu, baik untuk keluarga yang mencari anggotanya maupun awak media yang butuh untuk mengabarkan informasi,” kata wartawan CNN Indonesia.

Media itu melaporkan, satu-satunya rumah sakit yang digunakan untuk penanganan korban bencana hanya berpusat di Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) Bob Bazar, yang letaknya beberapa kilometer dari lokasi kejadian. Akibatnya, terjadi penumpukan pasien di rumah sakit itu.

“Korban bencana dilarikan ke RSUD Bob Bazar. Kalau tak mampu ditangani, akan dirujuk ke Bandar Lampung. Menurut pemantauan, sejauh ini rumah sakit tak lagi cukup menampung jumlah pasien. Ada banyak yang dirawat di luar kamar, di lorong-lorong. Mereka hanya tidur di lorong sambil diinfus,” demikian media tersebut memberitakan.

Satu-satunya pos yang terdapat di lokasi hanyalah yang dibangun Kementerian Sosial. Letaknya di desa yang terkena dampak parah, yakni Desa Way Muli. Pos ini digunakan sebagai dapur umum.

Sekarang ini, ribuan personel gabungan dari TNI, Polri, BNPB, Basarnas, Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat, Kementerian Sosial, Kementerian Kesehatan, Kementerian ESDM, BPBD, SKPD, LSM, relawan, dan masyarakat sedang melakukan penanganan darurat. Penanganan darurat di masing-masing daerah dipimpin kepala daerahnya.

Sementara itu, data sementara yang berhasil dihimpun Posko Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) hingga Senin (24/12) pukul 07.00 WIB memperlihatkan, 281 orang meninggal dunia, 1.016 orang luka-luka, 57 orang hilang, dan 11.687 orang mengungsi. “Kerusakan fisik meliputi 611 unit rumah rusak, 69 unit hotel-vila rusak, 60 warung-toko rusak, dan 420 perahu-kapal rusak,” kata Kepala Pusat Data Informasi dan Humas BNPB Sutopo Purwo Nugroho dalam siaran persnya.

Korban dan kerusakan itu meliputi lima kabupaten di Banten dan Lampung, yaitu Pandeglang, Serang, Lampung Selatan, Tanggamus, dan Pesawaran. Kelimanya berada di Selat Sunda.

Kemungkinan, kata Sutopo lagi, data korban dan kerusakan masih akan bertambah, mengingat belum semua wilayah berhasil didata. “Daerah pesisir di Kabupaten Pandeglang adalah daerah yang paling banyak jumlah korban dan kerusakannya dibandingkan daerah lain,” ujarnya. [RAF]