Gubernur dan Wkil Gubernur Jakarta saat perayaan HUT Jakarta ke 499. (foto: Sulindo)

Malam puncak perayaan Hari Ulang Tahun (HUT) ke-499 Kota Jakarta berlangsung meriah di kawasan Bundaran Hotel Indonesia (HI), Jakarta Pusat, Sabtu (27/6/2026) malam. Mengusung tema “Menuju Lima Abad Jakarta”, perayaan tahun ini menjadi momen krusial transisi Jakarta sebagai kota global sekaligus persiapan menyongsong usia 500 tahun atau lima abad pada tahun 2027 mendatang.

Gubernur DKI Jakarta Pramono Anung Wibowo hadir langsung dalam acara tersebut didampingi Wakil Gubernur Rano Karno sekitar pukul 19.30 WIB. Kehadiran keduanya disambut antusias oleh ribuan warga yang memadati area panggung utama di depan Plaza Indonesia. Uniknya, kedatangan Pramono-Rano ke atas panggung diiringi oleh alunan musik tanjidor, kesenian tradisional khas Betawi yang menambah kental nuansa budaya lokal di tengah megahnya suasana modern Bundaran HI.

Dalam sambutannya, Gubernur Pramono Anung membeberkan sejumlah prioritas pembangunan yang tengah dikebut Pemprov DKI menjelang usia 500 tahun kota ini. Ia menegaskan bahwa fokus utama pemerintah saat ini adalah menciptakan Jakarta yang lebih nyaman dan mudah diakses bagi seluruh warganya melalui konektivitas dan layanan publik yang lebih baik.

“Jadi yang paling utama kalau ditanya apa yang dipersiapkan untuk Jakarta itu membuat orang menjadi hidupnya lebih nyaman, lebih mudah, tersambung, terhubung. Jadi konektivitas menjadi hal yang penting,” kata Pramono usai menghadiri Malam Puncak HUT Jakarta di Bundaran HI.

Selain masalah konektivitas transportasi—termasuk proyek perpanjangan lintas LRT dari Velodrome menuju Manggarai yang ditargetkan rampung pada Agustus mendatang—Pramono juga menyoroti penyediaan air bersih sebagai target strategis jangka pendek yang harus segera diselesaikan.

Sebagai penanda sejarah baru, Pramono Anung dan Rano Karno secara resmi meluncurkan logo perayaan 5 Abad Jakarta. Peluncuran dilakukan secara simbolis dengan menancapkan ornamen kembang kelapa di atas panggung utama. Begitu ornamen ditancapkan, visual logo “5 Abad Jakarta” langsung muncul menghiasi layar-layar LED raksasa dan Monumen Selamat Datang melalui pertunjukan video mapping dan lighting show.

Logo tersebut mengusung tema “Abad Jakarta, Kota Global dan Berbudaya” dengan desain angka 5 putih yang dipadukan dengan ilustrasi lima jari tangan berwarna-warni (merah, kuning, biru, hijau, ungu, dan putih). Simbol lima jari tersebut bermakna sebagai undangan bagi seluruh warga untuk menyatukan tangan dan energi, berkolaborasi mewujudkan Jakarta sebagai kota global tanpa kehilangan identitas budaya lokalnya.

Kawasan Sudirman-Thamrin sengaja ditutup sementara demi kelancaran pesta rakyat ini. Warga dihibur oleh sederet penampilan atraktif mulai dari pawai balon raksasa dari Sarinah, tari massal Nusantara yang melibatkan 500 penari, kolaborasi gambang kromong dan balet, hingga panggung musik yang dimeriahkan artis ternama seperti Padi Reborn, Mahalini, hingga Cici Paramida. Tak hanya hiburan, perputaran ekonomi selama malam puncak di Bundaran HI dilaporkan mencatatkan angka yang fantastis hingga mencapai Rp2 triliun lewat kehadiran puluhan tenant UMKM.

Untuk mempermudah mobilitas warga, Pemprov DKI Jakarta juga memberlakukan tarif khusus Rp1 untuk Transjakarta, MRT, dan LRT Jakarta sepanjang akhir pekan 27-28 Juni 2026. Berbagai tempat wisata seperti Ancol, Monas, Ragunan, hingga museum-museum milik pemprov turut digratiskan bagi masyarakat luas.

Di balik kemegahan perayaan angka 499 ini, penetapan tanggal 22 Juni sebagai hari lahir Jakarta memiliki catatan sejarah yang panjang. Keputusan ini tidak terlepas dari peran besar Profesor Sukanto, seorang ahli sejarah yang ditunjuk oleh Wali Kota Jakarta Sudiro pada tahun 1956 untuk meneliti kapan persisnya kota ini didirikan.

Sebelum adanya penelitian tersebut, Jakarta belum memiliki tanggal hari jadi yang pasti. Melalui penelusuran dokumen sejarah, Profesor Sukanto berhasil menemukan momentum penting ketika Fatahillah, panglima perang dari Kesultanan Demak dan Cirebon, berhasil merebut pelabuhan Sunda Kelapa dari tangan Portugis pada abad ke-16.

Nama “Sunda Kelapa” kemudian diubah menjadi “Jayakarta” yang berarti kota kemenangan atau kejayaan. Berdasarkan perhitungan mundur yang matang dari berbagai peristiwa sejarah, disimpulkan bahwa penaklukan tersebut terjadi pada tanggal 22 Juni 1527. Hasil penelitian sejarah inilah yang kemudian ditetapkan secara resmi melalui Keputusan DPRDS Kota Djakarta Nomor 6/D/K/1956 sebagai Hari Ulang Tahun Kota Jakarta yang terus diperingati hingga detik ini, menjelang usianya yang kelima abad. [IQT]