Bahasa daerah merupakan bagian dari kekayaan budaya Indonesia. Selain menjadi alat komunikasi, bahasa daerah menyimpan sastra, tradisi lisan, pengetahuan, dan cara masyarakat mewariskan kebudayaan dari satu generasi ke generasi berikutnya.
Salah satu upaya untuk mengenalkan sekaligus melestarikan bahasa daerah kepada generasi muda dilakukan melalui Festival Tunas Bahasa Ibu (FTBI).
FTBI merupakan program perlombaan dan pelestarian bahasa daerah bagi pelajar jenjang sekolah dasar (SD) hingga sekolah menengah pertama (SMP) yang digagas Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa sebagai bagian dari gerakan Revitalisasi Bahasa Daerah (RBD).
Pelaksanaan FTBI disesuaikan dengan bahasa daerah yang menjadi fokus di wilayah kerja balai atau kantor bahasa masing-masing provinsi. Di Jawa Barat, misalnya, kegiatan tersebut berfokus pada bahasa Sunda. Sementara di sejumlah daerah lain, bahasa yang dilombakan menyesuaikan dengan bahasa daerah setempat.
Dalam pelaksanaannya, FTBI menghadirkan berbagai bentuk ekspresi bahasa dan budaya. Di Jawa Barat, beberapa di antaranya dapat ditemui dalam perlombaan bahasa dan sastra Sunda.
Lantas, apa saja bentuk seni dan kemampuan berbahasa Sunda yang diperkenalkan melalui FTBI?
1. Biantara
Biantara merupakan kegiatan berbicara atau menyampaikan pidato di hadapan orang lain menggunakan bahasa Sunda.
Kemampuan dalam biantara tidak hanya berkaitan dengan penguasaan bahasa, tetapi juga cara menyampaikan gagasan secara runtut dan kemampuan tampil di depan umum.
Melalui biantara, bahasa Sunda digunakan sebagai sarana menyampaikan pemikiran dan gagasan secara lisan.
2. Ngadongeng
Ngadongeng merupakan kegiatan menyampaikan cerita atau dongeng menggunakan bahasa Sunda.
Dalam penyampaiannya, pendongeng tidak hanya mengandalkan kemampuan bertutur, tetapi juga intonasi, ekspresi, penghayatan, dan cara membangun suasana cerita.
Bagi anak-anak, ngadongeng dapat menjadi salah satu cara untuk mengenal cerita sekaligus menggunakan bahasa Sunda dalam bentuk yang lebih ekspresif.
3. Sajak Sunda
Sajak Sunda merupakan karya sastra berbentuk puisi yang menggunakan bahasa Sunda. Sajak dapat menjadi media untuk menyampaikan perasaan, gagasan, pengalaman, maupun pandangan terhadap suatu hal.
Dalam penampilannya, kemampuan peserta tidak hanya terlihat dari penguasaan teks, tetapi juga dari cara menghayati dan menyampaikan sajak.
Sajak menjadi salah satu ruang bagi bahasa Sunda untuk digunakan dalam ekspresi sastra.
4. Nembang Pupuh
Pupuh merupakan salah satu bentuk karya sastra Sunda yang memiliki aturan tertentu. Pupuh juga memiliki pola dalam pelantunannya.
Nembang pupuh menjadi salah satu cara untuk memperkenalkan sastra Sunda kepada generasi muda melalui kegiatan yang memadukan kemampuan berbahasa dan seni suara.
Dengan mengenal pupuh, peserta didik dapat berkenalan dengan salah satu bentuk warisan sastra yang berkembang dalam kebudayaan Sunda.
5. Menulis Aksara Sunda
Selain bahasa lisan, kebudayaan Sunda juga memiliki sistem aksara tradisional yang dikenal sebagai aksara Sunda.
Kemampuan menulis aksara Sunda menjadi salah satu bentuk pengenalan terhadap warisan literasi masyarakat Sunda.
Pembelajaran aksara Sunda membuat peserta didik tidak hanya mengenal bahasa melalui bunyi dan percakapan, tetapi juga melalui bentuk tulisan yang menjadi bagian dari kebudayaan Sunda.
6. Ngarang Carita Pondok (Carpon)
Ngarang Carita Pondok atau carpon merupakan lomba menulis cerita pendek menggunakan bahasa Sunda.
Melalui kegiatan ini, peserta dapat menuangkan gagasan, pengalaman, imajinasi, dan cerita dalam bentuk tulisan berbahasa Sunda.
Carpon juga menjadi ruang bagi pelajar untuk mengenal bahasa Sunda melalui kegiatan menulis sekaligus mengembangkan kemampuan mereka dalam menghasilkan karya sastra.
7. Borangan atau Ngabodor Sorangan
Borangan atau ngabodor sorangan merupakan bentuk penampilan humor secara tunggal menggunakan bahasa Sunda.
Dalam penampilannya, peserta mengandalkan kemampuan berbicara, permainan bahasa, ekspresi, dan cara menyampaikan humor kepada penonton.
Cabang ini memperlihatkan bahwa bahasa Sunda tidak hanya digunakan untuk percakapan atau karya sastra, tetapi juga dapat menjadi bagian dari seni pertunjukan dan hiburan.
Bahasa Daerah dan Generasi Muda
Beragam bentuk yang diperkenalkan melalui FTBI menunjukkan bahwa bahasa daerah memiliki ruang yang luas dalam kebudayaan. Bahasa tidak hanya hadir dalam percakapan sehari-hari, tetapi juga melalui sastra, dongeng, pidato, pupuh, aksara, karya tulis, hingga seni pertunjukan.
Karena itu, pelestarian bahasa daerah tidak hanya berarti mempertahankan penggunaan kosakata atau tata bahasa. Di dalamnya terdapat upaya menjaga berbagai bentuk ekspresi budaya yang menggunakan bahasa tersebut.
FTBI menjadi salah satu ruang bagi pelajar untuk mengenal bahasa daerah melalui praktik langsung. Mereka tidak hanya mempelajari bahasa, tetapi juga berlatih menggunakannya dalam berbagai bentuk seni dan sastra.
Di Jawa Barat, pengenalan tersebut berlangsung melalui bahasa Sunda. Sementara di wilayah lain, revitalisasi bahasa daerah disesuaikan dengan bahasa lokal yang menjadi bagian dari kehidupan masyarakat setempat. [UN]


