Menelusuri Misteri Boneka Okiku yang Berhantu dari Hokkaido

Boneka Okiku. (Sumber foto: majalahsunday,com)

Di balik kimono kecil dan wajah porselen yang tenang, Boneka Okiku menyimpan sebuah kisah yang membuat bulu kuduk merinding. Legenda mistis dari Jepang ini telah membetot perhatian dunia selama lebih dari satu abad, memunculkan beragam teori mulai dari kerasukan roh hingga manifestasi duka yang tak kunjung reda. Seolah bukan sekadar cerita rakyat, kisah Boneka Okiku menggambarkan batas tipis antara dunia spiritual dan realitas manusia, sebuah simbol dari kesedihan yang kekal dan kenangan yang abadi.

Kisah ini berawal pada tahun 1918, ketika seorang anak laki-laki bernama Eikichi Suzuki membeli boneka dari sebuah kios di Pameran Taisho, Sapporo, Hokkaido. Ia menghadiahkannya kepada adik perempuannya yang masih kecil, Kikuko. Sang adik sangat menyayangi boneka tersebut dan memberinya nama “Okiku” nama panggilan yang juga berasal dari dirinya sendiri.

Namun, kebahagiaan itu tidak berlangsung lama. Kikuko meninggal mendadak akibat penyakit di usia tiga tahun. Penuh duka, keluarga Suzuki menempatkan boneka tersebut di altar rumah mereka sebagai bentuk penghormatan terakhir. Sejak saat itu, mereka mulai menyadari sesuatu yang aneh dimana rambut boneka itu tumbuh.

Menumbuhkan Rambut Manusia

Boneka Okiku awalnya memiliki gaya rambut tradisional anak-anak Jepang, yakni okappa sebutan untuk poni lurus dengan rambut sebahu. Namun, seiring waktu, rambut itu tumbuh hingga melebihi pinggang. Beberapa pengamat bahkan mengklaim bahwa kini panjangnya telah mencapai lutut.

Para biksu di Kuil Mannenji, tempat boneka itu dititipkan sejak tahun 1938 ketika keluarga Suzuki pindah, telah memangkas rambut tersebut secara berkala. Potongan-potongan rambut yang diteliti oleh para ahli menunjukkan bahwa struktur dan teksturnya menyerupai rambut manusia.

Bukan hanya rambut yang berubah. Wajah boneka pun dikabarkan mengalami transformasi halus namun mengganggu seperti bibir yang dulu tertutup kini tampak sedikit terbuka, memperlihatkan gigi susu. Bola matanya pun dinilai makin ekspresif, seolah memancarkan emosi yang terus tumbuh seiring waktu.

Berbeda dari boneka berhantu lainnya seperti Annabelle dari Amerika Serikat atau Robert the Doll, Boneka Okiku tidak digambarkan sebagai sosok jahat. Legenda ini justru menekankan aura kesedihan dan keberadaan roh yang tenang. Tak ada laporan kekerasan atau kutukan, melainkan perubahan fisik halus dan sensasi spiritual yang menyelimuti boneka tersebut.

Dilansir dari Mythlok (16 Juni 2025), boneka ini terbuat dari porselen, tingginya sekitar 16 inci, dan mengenakan kimono indah khas awal abad ke-20. Gayanya termasuk dalam kategori ichimatsu sebuah jenis boneka yang secara historis dipercaya bisa menyerap spiritualitas, dan sering digunakan dalam ritual pemakaman atau peringatan.

Keterkaitan dengan Legenda Okiku yang Lain

Nama “Okiku” sendiri bukanlah asing dalam budaya Jepang. Dalam cerita rakyat dan drama kabuki, Okiku adalah pelayan wanita yang dihukum secara tragis dan menjadi roh pendendam setelah kematiannya, terkenal karena menghitung piring yang hilang dari dasar sumur. Meskipun kisah boneka ini tidak berhubungan langsung, kemiripan nama tersebut menyulut spekulasi adanya keterkaitan tentang ketidakadilan, roh terperangkap, dan penderitaan perempuan.

Boneka Okiku telah menjadi simbol horor Jepang yang menonjol dalam budaya populer. Penampilannya yang menyeramkan dan kisah di baliknya telah menginspirasi banyak manga, film, podcast, hingga acara dokumenter. Elemen-elemen dari ceritanya dapat ditemukan pada tokoh-tokoh ikonik seperti Sadako dalam The Ring gadis berambut panjang yang menjadi lambang kengerian dalam horor Jepang modern.

Bahkan dalam karya sastra seperti The Girl from the Well karya Rin Chupeco, tema serupa tentang roh yang terikat pada benda atau tempat tertentu sering muncul, menunjukkan bagaimana legenda Okiku tetap relevan dalam dunia fiksi kontemporer.

Kini, boneka Okiku disimpan dalam kotak kaca di Kuil Mannenji, Iwamizawa, Hokkaido. Tempat ini bukan hanya menjadi rumah bagi boneka tersebut, tetapi juga tempat ibadah dan refleksi spiritual. Pengambilan foto dilarang—bukan hanya karena alasan sopan santun, tetapi karena kepercayaan bahwa memotret boneka ini dapat membangkitkan atau mengganggu energi rohnya.

Rambut boneka itu masih tumbuh, meski lebih lambat dari sebelumnya. Dan meskipun dunia telah banyak berubah sejak tahun 1918, kisah boneka ini tetap mengundang rasa penasaran, spekulasi, dan rasa hormat.

Sebuah Misteri yang Tak Pernah Usai

Apakah benar roh Kikuko masih bersemayam di dalam boneka itu? Atau semuanya hanya ilusi yang dihidupkan oleh kesedihan keluarga dan imajinasi publik? Boneka Okiku tetap tak tergoyahkan di antara batas realitas dan kepercayaan, menjadi cermin dari bagaimana manusia mencoba memahami duka, kenangan, dan misteri hidup setelah mati.

Dalam dunia yang semakin rasional, kisah boneka ini adalah pengingat bahwa sebagian dari kita masih percaya atau mungkin ingin percaya bahwa cinta dan kehilangan bisa hidup abadi, bahkan dalam wujud sebuah boneka porselen. [UN]