Modus lain yang ditemukan Kopbumi pada waktu itu: dari Jakarta, mereka diberangkatkan berkelompok dengan pesawat terbang. Sesampai di Bandara Supadio, Pontianak, mereka dijemput oleh sopir taksi yang sudah dipesan oleh sindikat penjualan di Jakarta, untuk dibawa ke tempat penampungan, lalu ke Entikong. Jadi, sindikatnya memang bermain di Jakarta.

Kopbumi menelusuri, setidaknya ada tiga sindikat besar yang melakukan perdagangan manusia—yang sebagian besar adalah perempuan—ke luar negeri. Kopbumi menyebutnya sebagai sindikat Condet, Jakarta Timur, karena di sana ada banyak perusahaan jasa pengiriman tenaga kerja Indonesia sekelas kaki lima. Korbannya dari berbagai daerah di Indonesia. Sindikat ini biasanya mengirim buruh ilegal ke Timur Tengah dan Asia Timur, seperti Arab Saudi, Hong Kong, Korea, dan Jepang.

Sindikat yang kedua adalah sindikat sindikat Entikong. Umumnya, perempuan yang diperdagangkan berasal dari Jawa dan Nusa Tenggara Barat. Yang ketiga adalah sindikat Nunukan. Yang paling banyak direkrut adalah perempuan dari Makassar dan Nusa Tenggara Timur.

Dari ketiga sindikat itu diperkirakan sedikitnya 3.000 orang Indonesia dijual ke luar negeri setiap harinya. Dan, 77% dari mereka adalah perempuan.

Pada awal tahun 2000-an itu, Kopbumi mengaku sudah membeberkan fakta-fakta tersebut di depan anggota DPR, yang waktu akan membahas rancangan undang-undang antiperdagangan manusia.

Dari hasil penelusuran Kopbumi, sindikat-sindikat itu memiliki hubungan dengan sindikat-sindikat lain di luar negeri. Sindikat Condet punya hubungan dengan sindikat di Timur Tengah dan Asia Timur. Dan yang paling miris adalah buruh migran di Arab Saudi dan Kuwait, karena paling banyak mengalami pemerkosaan dan pelecehan seksual. Bahkan, dalam satu pekan saja di Bandara Soekarno-Hatta ketika itu ada 5-7 buruh perempuan yang baru pulang bekerja dari Arab Saudi dan Kuwait dalam keadaan hamil atau membawa anak.