Saat sebagian orang bersiap mengakhiri hari dan beristirahat, 61 tahun lalu malam justru menjadi awal dari rangkaian peristiwa berdarah yang kemudian dikenal sebagai Gerakan 30 September atau G30S/PKI.
Peristiwa itu berlangsung pada malam 30 September 1965 hingga dini hari 1 Oktober 1965. Enam jenderal dan satu perwira TNI Angkatan Darat menjadi korban. Mereka kemudian dibawa dan jasadnya dibuang ke dalam sumur di kawasan Lubang Buaya, Jakarta Timur.
Malam yang semestinya menjadi waktu untuk beristirahat berubah menjadi malam terakhir bagi sejumlah perwira. Mereka yang berpangkat tinggi menjadi sasaran penculikan dan pembunuhan dalam sebuah gerakan yang meninggalkan luka panjang bagi bangsa Indonesia.
Peristiwa tersebut didasari keinginan PKI untuk mengubah ideologi Indonesia menjadi komunis. Salah satu langkah yang kemudian diambil adalah melakukan pemberontakan yang dikenal sebagai G30S PKI.
Berawal dari Kekhawatiran terhadap Kondisi Soekarno
Dikutip dari buku Sjam: Lelaki dengan Lima Alias, gerakan tersebut diinisiasi Ketua Umum PKI, Dipa Nusantara Aidit, setelah mengetahui kondisi kesehatan Presiden Soekarno yang memburuk.
Aidit menganggap Soekarno tidak akan berumur panjang. Ia khawatir kematian Soekarno akan dimanfaatkan pimpinan TNI Angkatan Darat untuk merebut kekuasaan sekaligus menyingkirkan PKI.
Kekhawatiran tersebut kemudian menjadi dasar Aidit merencanakan gerakan.
Ia memerintahkan Sjam, Ketua Biro Khusus PKI, untuk memeriksa barisan Biro Khusus dan merancang konsep gerakan yang bersifat terbatas. Sjam kemudian menggerakkan jaringan Biro Khusus di berbagai daerah untuk mendukung gerakan tersebut.
Sasaran operasi terbatas itu baru ditentukan pada 26 September 1965.
Awalnya, tim pelaksana menentukan 10 tokoh anti-komunis yang harus diamankan. Namun, Aidit kemudian memutuskan tujuh nama jenderal TNI Angkatan Darat menjadi target gerakan.
Operasi itu akhirnya dilancarkan pada 30 September 1965.
Dikutip dari buku Dalih Pembunuhan Massal Gerakan 30 September dan Kudeta Soeharto karya John Roosa, aksi Gerakan 30 September dimulai pada malam 30 September 1965 hingga dini hari 1 Oktober 1965.
Pada malam tersebut, para anggota gerakan berkumpul di kawasan Lubang Buaya, Kelurahan Lubang Buaya, Kecamatan Cipayung, Jakarta Timur.
Mereka menerima perintah untuk menculik tujuh jenderal yang dianggap bagian dari Dewan Jenderal.
Pasukan kemudian dibagi menjadi tujuh kelompok. Masing-masing kelompok mendapat tugas menangkap satu jenderal dari rumahnya dan membawanya ke Lubang Buaya.
Sekitar pukul 03.15 dini hari, kelompok-kelompok tersebut naik truk menuju pusat kota. Perjalanan memakan waktu sekitar 30 hingga 45 menit.
Banyak di antara mereka bergerak menuju kawasan Menteng, tempat tinggal sejumlah pejabat tinggi negara.
Target mereka adalah Jenderal A.H. Nasution, Letnan Jenderal Achmad Yani, serta lima pejabat tinggi Angkatan Darat, yakni Mayor Jenderal S. Parman, Mayor Jenderal Mas Tirtodarmo Harjono, Mayor Jenderal R. Suprapto, Brigadir Jenderal Soetojo Siswomihardjo, dan Brigadir Jenderal Donald Ishak Pandjaitan.
Dalam penggerebekan tersebut, anak perempuan Jenderal Nasution yang berusia lima tahun serta seorang prajurit penjaga di rumah sebelahnya, milik Wakil Perdana Menteri II Johannes Leimena, turut menjadi korban penembakan.
Nasution berhasil melarikan diri dengan melompati tembok belakang rumahnya dan bersembunyi di rumah tetangganya, Duta Besar Irak.
Kekacauan akibat tembak-menembak terjadi di Menteng. Namun, kelompok penculik berhasil kembali ke Lubang Buaya tanpa diketahui atau dikejar.
Sekitar pukul 05.30 pagi, G30S telah menahan enam jenderal dan seorang letnan di lokasi terpencil di Jakarta.
Para perwira kemudian ditembak berkali-kali. Jenazah mereka dilemparkan ke dalam sumur sedalam 36 kaki, lalu ditimbun menggunakan batu, tanah, dan dedaunan untuk menyembunyikan jejak.
Setelah membunuh para pejabat tinggi militer, pelaku gerakan juga menduduki stasiun pusat Radio Republik Indonesia atau RRI pada pagi harinya.
Melalui siaran radio, mereka menyatakan diri sebagai pasukan yang setia kepada Presiden Soekarno.
G30S disebut sebagai upaya menyelamatkan negara dari Dewan Jenderal yang disebut ingin mengambil alih negara.
Tujuan utama G30S PKI adalah menciptakan situasi politik yang lebih kondusif bagi kemajuan PKI.
Melalui gerakan tersebut, PKI ingin menyingkirkan jenderal-jenderal Angkatan Darat yang anti-komunis dan dianggap sebagai ancaman bagi PKI.
Gerakan tersebut juga menjadi upaya memperoleh dukungan rakyat dengan melawan militer sayap kanan serta menekan lembaga pemerintah agar tetap sejalan dengan kebijakan Soekarno, yang saat itu mendukung koalisi yang memberi PKI ruang gerak lebih besar.
1 Oktober 1965, Gerakan Berakhir
Peristiwa G30S berakhir pada 1 Oktober 1965 setelah Jenderal Soeharto berhasil menguasai situasi.
Soeharto mengambil langkah tegas dengan menuntut dua batalyon di Lapangan Merdeka untuk menyerah.
Komandan batalyon, Kapten Sukirno dan Mayor Supeno, yang berada di istana bersama Supardjo dari Halim, diberi ultimatum oleh Soeharto untuk menyerah sebelum pukul 18.00. Jika tidak, pasukan mereka akan diserang.
Pasukan Soeharto kemudian merebut stasiun RRI sekitar pukul 18.00. Mereka menghadapi sedikit perlawanan dari sukarelawan sipil G30S di gedung telekomunikasi, yang kemudian dengan cepat dikalahkan.
Dengan demikian, G30S tidak lagi memiliki kekuatan di Jakarta. Sisa kekuatannya mundur ke Lubang Buaya.
Antara pukul 19.00 dan 20.30, Soeharto menyampaikan pesan melalui siaran radio yang menandai berakhirnya G30S secara simbolis.
Melalui kurir, Soeharto juga meminta Presiden Soekarno meninggalkan Halim sekitar pukul 20.00 untuk menghindari bahaya dalam pertempuran yang akan terjadi.
Menyadari situasi tidak bisa dikendalikan, Soekarno berdiskusi dengan penasihatnya. Ia kemudian memutuskan pergi ke Istana Bogor dan tiba sekitar pukul 22.00.
Namun, rangkaian peristiwa belum sepenuhnya berhenti.
Pada pagi 2 Oktober, pimpinan inti G30S, termasuk Sjam, Latief, dan Supardjo, meninggalkan persembunyian di Halim dan menuju Lubang Buaya untuk bertemu dengan perwira Batalyon 454 serta anggota PKI yang ikut serta dalam G30S.
Setelah melihat situasi yang tidak menguntungkan, seluruh kekuatan G30S membubarkan diri.
Keputusan itu juga diambil karena kedatangan RPKAD atau Resimen Para Komando Angkatan Darat ke Lubang Buaya.
Aidit terbang ke Yogyakarta, Omar Dani menuju Jawa Timur, sementara kelompok lainnya mencoba menyelinap keluar dari Jakarta.
Kepergian mereka menandai berakhirnya peristiwa G30S PKI di Jakarta.
Kini, meski peristiwa itu telah menjadi bagian dari sejarah, dini hari 1 Oktober 1965 tetap menyisakan ingatan tentang penculikan, pembunuhan, dan kekacauan politik yang turut mengubah perjalanan sejarah Indonesia. [UN]





