Kerja Sama Polisi Tonggak Stabilitas Keamanan ASEAN

Kerja Sama Polisi Tonggak Stabilitas Keamanan ASEAN

Koran Sulindo – Kerja sama kepolisan antar negara-negara ASEAN merupakan tonggak untuk mewujudkan stabilitas keamanan di Kawasan Asia Tenggara.

Hal itu disampaikan Kapolri Jenderal Pol Tito Karnavian saat memimpin delegasi Polri dalam Konferensi Asean National Police (ASEANAPOL) ke-39 di Hanoi, Vietnam.

“Khususnya dalam penanggulangan kejahatan transnasional untuk mendukung terselenggaranya pembangunan ekonomi menuju kemajuan dan kesejahteraan bangsa,” kata Tito seperti dikutip dari keterangan tertulisnya, (18/9).

Menurut Tito, ketahanan dan pertumbuhan ekonomi negara-negara Asia Tenggara yang unggul telah menjadi perhatian utama dunia di tengah kemelut perdagangan dan ekonomi dunia.

“Keunggulan dan keberhasilan ekonomi negara-negara ASEAN hanya akan dapat terwujud dengan terpeliharanya stabilitas keamanan yang optimal,” kata Tito.

Kerja sama di antara kepolisian di negara-negara ASEAN, menurut Tito, memainkan peran penting dan sangat strategis dalam upaya mengoptimalkan kerja sama kepolisian di kawasan Asia Tenggara. Termasuk kerja sama dalam berbagai bentuk kegiatan bidang operasional.

“Seperti tukar menukar informasi dalam pencegahan kejahatan secara dini maupun penindakan, pencegahan dan penanganan kejahatan di kawasan perbatasan, serta berbagai bentuk komunikasi dan koordinasi dalam penegakan hukum,” jelasnya.

Tito dalam kesempatan itu juga menyampaikan dukungan secara terbuka terhadap upaya memperkuat aspek operasional Aseanapol melalui pembangunan pusat data yang kuat dan terintegrasi.

Hanya saja hal itu bisa terealisasi bila ada keinginan kuat dari seluruh institusi kepolisian anggota Aseanapol dan pemerintah negara-negara anggota.

Tantangan yang akan dihadapi dalam bidang operasional juga sangat besar, khususnya perbedaan sistem dan budaya hukum negara anggota.

Kejahatan di sebuah negara belum tentu menjadi rumusan kejahatan berdasarkan undang-undang negara lain.

“Jenis data yang dikumpulkan dan dibagikan juga harus diatur secara ketat. Keberhasilan dan kegagalan yang dialami oleh Europol dan Interpol dalam pengelolaan pusat data juga harus menjadi pelajaran untuk menentukan model terbaik bagi kepolisian negara-negara Asia Tenggara,” kata Tito.

Konferensi Aseanapol 2019 dihadiri oleh tujuh dari 10 kepala kepolisian negara Aseanapol sementara tiga negara yang mengirim wakil kepala kepolisian adalah Malaysia, Laos dan Thailand.

Konferensi juga dihadiri 10 delegasi mitra dialog yaitu Kepolisian Australia, China, Jepang, Korea, Selandia Baru, Rusia, Turki, Setjen Interpol dan Europol. Enam delegasi turut hadir sebagai peninjau, yaitu Kepolisian Timor Leste, Fiji, National Crime Agency Inggris, FBI, International Association of Chief of Police, serta Palang Merah Internasional.[YMA]