Karpet Manusia dari Ketua Mao untuk Bung Karno

Karpet Manusia dari Ketua Mao untuk Bung Karno

Kunjungan ke Cina membekas dalam sanubari Soekarno. “Bangga karena bangsa kami yang dulu tertindas mendapat tempat di antara bangsa-bangsa besar.”

Ilustrasi: Mao Zedong tertawa mendengar lelucon Bung Karno, sewaktu melihat buku koleksi seni Bung Karno yang diterbitkan di Cina, 30 September 1956.

Koran Sulindo – Air mata Bung Karno berlinang-linang. Bapak Bangsa itu memang jarang menyembunyikan perasaannya. Lahir dan besar di Jawa Timur, yang sering dikatakan sebagai bagian wilayah orang-orang Jawa yang terbuka, Soekarno tak malu menangis terisak-isak ketika ziarah ke kubur jenderal yang sangat disayanginya yang dibunuh sewaktu peristiwa 1 Oktober 1965, Ahmad Yani. Bung Karno juga pernag berlinang air mata ketika menerima delegasi anak-anak muda Aljazair yang berkunjung ke istana meminta dukungan Indonesia memerdekakan negara mereka dari kolonialis Perancis.

Pada awal 1950-an itu Bung Karno juga menangis tak lama setelah mendarat di Moskow, ibukota (saat itu) Uni Soviet. Mengapa? Karena sebanyak 150 orang Rusia berbaris menyanyikan lagu “Indonesia Raya” sebagai penyambutan terhadap kedatangannya.

Demikianlah juga wajah Bung Karno terlihat sembab ketika pertama melangkahkan kaki ke Cina pada 1956. Di Beijing, ratusan ribu rakyat Cina mengadakan arak-arakan pawai raksasa dan tembakan penghormatan.

Kunjungan setengah bulan dari 30 September hingga 14 Oktober 1956 itu membekas dalam pada Soekarno. Di bandar udara tak jauh dari pesawat yang ditumpangi delegasi Indonesia, berjajar Ketua Partai Komunis Cina, Mao Zedong, orang tertinggi di negeri berpenduduk terbesar di dunia itu. Juga Perdana Menteri Zhou Enlai; Wakil Ketua Komisi Militer Pusat Marsekal Zhu De; isteri Presiden Republik Tiongkok Pertama Dr. Sun Yatsen, Song Qingling…

“Indonesia Raya” dan “Barisan Para Sukarelawan” yang dimainkan Tentara Pembebasan Rakyat berkumandang.

Bung Karno tersenyum. Dengan pakaian kebesarannya sebagai pemimpin tertinggi angkatan perang Indonesia, serta kopiah hitam ciri bangsa Indonesia, setelah itu ia berpidato.

“Setelah saya mengunjungi Uni Soviet, Yugoslavia, Austria, Czekoslovakia dan Mongolia, hari ini saya tiba di Peking, disambut dengan meriah dan hangat. Saya mengucapkan terima kasih banyak kepada saudara-saudara sekalian.

Ucapan terima kasih ini bukan hanya dari diri pribadi saya saja tetapi ucapan terima kasih dari 82 juta rakyat Indonesia. Rasa hormat saudara-saudara sebenarnya adalah ditujukan untuk menghormati rakyat Indonesia. Tanpa rakyat, saya ini hanyalah orang biasa. Tanpa rakyat, saya ini bukan apa-apa. Saya ini bukanlah pemberi kemerdekaan rakyat Indonesia, tetapi kemerdekaan Indonesia itu berasal dari perjuangan rakyat Indonesia.

Saya ini  bukanlah bapak rakyat Indonesia, tetapi saya adalah putera rakyat Indonesia. Oleh karena itu, rasa hormat saudara-saudara kepada saya, akan saya tujukan kepada seluruh rakyat Indonesia. Saat ini saya bersama dengan rakyat Tiongkok. Bersama dengan 600 juta rakyat Tiongkok yang tiada henti-hentinya berjuang mencapai cita-cita.

Saya berada di sini demi untuk menguatkan hubungan persahabatan diantara rakyat Indonesia dan Tiongkok. Saya sangat percaya bahwa kerjasama persahabatan yang baik ini sangat mudah untuk dilaksanakan karena cita-cita rakyat Tiongkok dan Indonesia begitu banyak persamaannya. Mari kita bersama-sama untuk maju, wujudkan kemerdekaan yang seutuhnya, dan wujudkan dunia yang damai abadi. Terima kasih!”

Selama pidato pendek itu tidak henti-hentinya rakyat negeri tirai bambu itu bertepuk tangan. “Hidup Persahabatan Rakyat Tiongkok dan Indonesia”, “Hidup Presiden Sukarno”, “Merdeka Bung.”

Setelah pidato usai, mereka menjulur-julurkan tangan, berusaha menggapai tangan Bung Karno.

Kurang 1 jam kemudian, Bung Karno dan Mao satu mobil, melewati jalanan sepanjang 20 km dari Bandara Beijing menuju tempat kediaman para pemimpin Republik Rakyat Cina di Zhongnanhai.

Dan setelah itu, ratusan warga Cina, ada yang menyebut 300 ribu-an orang, berjajar di pinggir jalan yang dilewati 2 pemimpin negara itu. Saking banyaknya orang, Bung Karno suatu ketika menyebut jajaran rakyat Cina itu sebagai karpet manusia.

Mereka mengibarkan bendera 2 negara, ribuan rakyat itu meneriakkan “Hidup Bung Karno! Hidup Bung Karno!”

“Beijing menyambut kedatanganku dengan pawai hebat sekali…Orang-orang yang bersamaku juga merasa bangga terhadapku, bangga karena bangsa kami yang dulu tertindas mendapat tempat di antara bangsa-bangsa besar,” kata Bung Karno, seperti dikutip buku Cindy Adams (Sukarno: Penyambung Lidah Rakyat Indonesia; 1967).

Di tempat lain, Bung Karno mengaku meneteskan air mata saat menerima sambutan rakyat Cina yang luar biasa itu. Penyambutan itu lebih megah dibandingkan penyambutan yang pernah diterimanya di Amerika  Serikat dan Uni Soviet. Setelah berpelukan dengan Mao di Bandara itu, Bung Karno mengenangnya dalam kalimat singkat: “Indonesia dan Tiongkok adalah dua sahabat karib. Rakyat Indonesia merasa bahwa kemenangan rakyat Tiongkok adalah kemenangan mereka juga,” kata Bung Karno, seperti dikutip Ganis Harsono (Cakrawala Politik Era Sukarno; 1985).

Persamaan Cita-cita

Sebelum ke Cina, Bung Karno mengunjungi Yugoslavia, Cekoslowakia, Uni Soviet, dan Mongolia. Kunjungan yang dilakukan setelah Konferensi Asia Afrika di Bandung pada 1955 itu adalah misi penting Soekarno memperkenalkan negara yang belum 10 tahun itu: Republik Indonesia.

Dinas Intelijen AS, CIA, tentu saja mencatat lawatan pimpinan negara baru itu. Dalam dokumen yang dibuka pada 27 Februari 2003, CIA menyebut kunjungan itu disambut hangat Cina, dan Indonesia mendukung Cina dalam soal Taiwan, CIA mengfokuskan pada undangan Indonesia pada Mao.

Yang jelas, Mao memperlakukan Soekarno sebagai pemimpin negara besar. Pada 1 Oktober 1956, Mao menjamu Bung Karno di balkon pintu gerbang Istana Terlarang. Di situ mereka menyaksikan parade militer yang diikuti 1 juta tentara Merah.

Bung Karno terkagum-kagum melihat megahnya tentara rakyat Cina itu, dan juga senjata-senjata yang dipamerkan pada parade itu. Selain tentara, parade itu juga diikuti mahasiswa, dan lain-lain. Seperi lautan manusia yang tak habis-habis.

Tahu Bung Karno terkesan, Mao berbisik pada sejawatnya itu,”Bung Karno, peralatan militer  itu kami buat sendiri. Beritahu saya jika Anda membutuhkannya.”

Keesokan harinya, pada 2 oktober berlangsung pertemuan resmi dua pimpinan negara itu. Mao memuji Bung Karno karena berhasil meraih kemerdekaan setelah dijajah 350 tahun. Ketua Mao juga memuji politik Indonesia yang bebas aktif. Mao mengatakan Indonesia dan Cina memiliki satu kepentingan bersama, yaitu cita-cita kemerdekaan, perdamaian, dan atatanan dunia baru. Sedangkan Bung Karno mengatakan cita-cita bersama itu terekspresikan dengan baik dalam kesamaan cita-cita membangun dunia baru yang terbebas dari eksploitasi, penderitaan, dan penindasan.

Peramal dan yang diramal
Peramal dan yang diramal

Foto-foto yang diambil dari kunjungan itu memperlihat keakraban dua orang besar itu. Satu foto memperlihatkan Bung Karno memegang tangan kanan Mao dan seolah mau meramalkan nasibnya.

“Tangan ini adalah tangan orang besar dari Timur”.

Bung Karno melihat Ketua Mao sangat menikmati rokok yang dihisapnya, lalu mencandai, “Kalau aku lihat, Ketua Mao dalam hal merokok adalah tidak ada duanya. Asap rokok yang mengepul tinggi bagaikan sepercik api yang dapat membakar ladang ilalang”. Semua yang mendengar tertawa.

Di foto lain terlihat Mao terbahak-bahak mendengar lelucon Bung Karno yang hanya tersenyum simpul.

Selama di Cina, para pemimpin negara maupun petinggi partai sering mengunjungi Bung Karno. Wakil Ketua Zhu De dan PM Zhou Enlai terkadang dengan keluarga mereka berkunjung seharian penuh.

Ketua Mao juga sering menemui Bung Karno. Seperti yang diceritakan oleh para pegawai Hotel Beijing, tempat delegasi Indonesia menginap, pemimpin tertinggi di Cina tidak pernah menunjukkan di depan Bung Karno dirinya adalah ketua partai. Mereka berdua seakan-akan dua orang yang sudah bersahabat sejak lama.

Mao memanggil Soekarno dengan Bung Karno; sedang Bung Karno memanggil sejawatnya itu dengan Ketua Mao seperti rakyatnya memanggil.

Mao sangat menghormati Bung Karno karena berani melawan kolonialisme dan imperialisme. Pada saat Konferensi Asia Afrika, Bung Karno dengan lantang mengatakan bahwa dengan diselenggarakannya KAA di Bandung maka Asia dan Afrika baru telah lahir. Pidato tersebut sampai kepada telinga Mao.

“Konferensi Bandung adalah konferensi yang sangat menggemparkan seluruh dunia. Dalam beberapa tahun ini, dunia telah berubah sangat banyak. Apakah Bung tidak merasakan itu semua?” tanya Mao.

“Itu betul sekali. Di manapun aku berada, semua orang membicarakan tentang Konferensi Bandung”.

Selama di Beijing Bung Karno sempat mengunjungi Istana Terlarang, Taman Beihai, Kuil Surga, Istana Musim Panas. Sebanyak 10 kota dikunjungi dan 14 kali ia berpidato.

6 Oktober 1956, Bung Karno meninggalkan Beijing ditemani oleh Ketua Mao dan pemimpin Tiongkok lainnya. Mereka berjabat tangan. Bung Karno di depan 10 ribu warga yang mengantar mengucapkan terima kasih.

“Saya mengundang saudara-saudara sekalian dan Ketua Mao untuk mengunjungi Indonesia. Saya harap saya bisa bertemu kembali dengan Ketua Mao di Indonesia. Rakyat Indonesia menanti Saudara.”

Pada 1961 dan 1964 Bung Karno kembali lagi ke Cina tapi untuk berobat, dan disambut sahabat lamanya itu. [Didit Sidarta]