Koran Sulindo – Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Darmin Nasution melemparkan kritik ke industri kopi di Tanah Air. Menurut dia, industri kopi di Indonesia belum bisa maksimal. Padahal, nilai produksi kopi di dunia mencapai US$ 24 miliar (Rp 324 triliun) dan bisnis kopi siap minum mencapai US$ 240 miliar (Rp 3.240 triliun).

Dengan Vietnam saja, produktivitas kebun kopi di Indonesia masih tertinggal. Indonesia dengan luas lahan mencapai 1,2 juta hektare hanya dapat menghasilkan 500 kilogram per hektare, sementara produktivitas Vietnam mencapai 2,7 juta ton per hektare untuk luas lahan 630 hektare.

“Indonesia belum memaksimalkan produktivitas lahannya,” kata Darmin Nasution, Kamis (26/4), pada peluncuran buku peta jalan Arah Kebijakan Kopi Indonesia Menghadapi Tantangan Kompetisi, Perubahan Iklim, dan Kondisi Kopi Dunia: Strategi Kopi Indonesia Jangka Pendek, Jangka Menengah, dan Jangka Panjang. Buku ini dibuat mengumpulkan informasi yang komprehensif mengenai kondisi kopi domestik dan global.

Sementara itu, Asosiasi Eksportir dan Industri Kopi Indonesia (AEKI) mengatakan, impor kopi tahun 2018 berpotensi meningkat menjadi 60 ribu ton dari realisasi impor tahun lalu yang 20 ribu ton. Peningkatan impor terjadi karena kendala cuaca, yang mengganggu produksi kopi  tahun 2017 lalu.

Dijelaskan Ketua Kompartemen dan Industri Specialty Kopi AEKI Moelyono Soesilo, kondisi cuaca yang buruk karena el nino pada tahun 2015 menyebabkan pasokan kosong pada akhir tahun 2017. Adapun kebutuhan kopi nasional pada tahun 2015 dan 2016 masih bisa ditutupi pasokan tahun-tahun sebelumnya. “Ada kekurangan stok di akhir tahun, sedangkan kebutuhan bulanannya mencapai 25 ribu ton,” ungkap Moelyono. Sebagian besar impor kopi berasal dari  Vienam dengan jenis robusta.

Toh, Moelyono optimistis produksi kopi nasional akan kembali meningkat karena  sudah mulai mendekati musim panen. Juga sekarang cuaca yang lebih mendukung untuk musim tanam kopi tahun ini.

Namun, Indonesia bukan cuma mengimpor, tapijuga mengekspor komoditas kopi sebanyak 300 ribu ton ke Amerika Serikat, Uni-Eropa, dan Jepang. Total produksi kopi nasional pada 2017 mencapai 560 ribu ton.  Tahun 2018 ini, produksi kopi diprediksi meningkat menjadi sekitar 690 ribu ton. “Untuk konsumsinya, pada tahun ini diperkirakan stagnan di kisaran 300 ribu ton,” tutur Moelyono.

Sebagai upaya peningkatkan produksi, Direktur Jenderal Perkebunan Kementerian Pertanian Bambang mengatakan,  perkebunan kopi masih membutuhkan replanting  atau penanaman baru kurang-lebih 30% dari total  luas lahan kopi sebesar yang 1,2 juta hektare. Bila didukung dengan  penggunaan bibit yang lebih berkualitas, produksi dan produktivitas kopi diharapkan bisa semakin optimal

Rencananya, Kementerian Pertanian pada tahun ini akan melakukan replanting terhadap 16.400 hektare lahan. Dananya dari Anggaran Penerimaan dan Belanja Negara (APBN). “Tujuannya agar produktivitas meningkat hingga dua ton per hektare,” kata Bambang.

Produksinya sebanyak lebih dari 70% masih dalam bentuk kopi robusta, sisanya merupakan kopi arabika. Tapi, pemerintah berencana akan menggenjot produksi  kopi arabika. “Kami akan ganti kopi robusta di dataran ringgi dengan kopi arabika yang lebih cocok iklimnya,” ungkap Bambang lagi. [RAF]