Ilustrasi: Presiden Joko Widodo saat berpidato di depan relawan dan masyarakat pada puncak acara Syukuran Rakyat di Silang Monas, Jakarta, Senin (20/10/2014)/ANTARA FOTO-Muhammad Adimaja

Setelah 4 tahun memerintah pencapaian Presiden Joko Widodo harus dicatat, semuanya dapat tempat. Masih ada masalah besar di depan.

Koran Sulindo – Tak lama setelah masuk waktu maghrib Joko Widodo akhirnya benar datang seperti yang dijanjikan. Sudah sejak sore hari ribuan orang menunggunya di depan pelataran monumen nasional (Monas), Jakarta, memenuhi area di depan panggung megah yang menghadap ke selatan dengan patung kapal Phinisi sebagai latar belakang.

Mengenakan kemeja lengan panjang berwarna putih, lelaki asal Solo, Jawa Tengah, yang hari itu baru saja dilantik menjadi Presiden ke-7 Republik Indonesia itu, langsung setengah berlari menyapa para penonton mulai dari ujung kiri, ke tengah, lalu ke kanan.

“Tadi saya mau ke sini Magriban dulu. Ini yang di sini semua, sudah salat Maghrib, belum?”

Presiden Jokowi memulai pidatonya dalam acara bertajuk Pesta Rakyat pada Senin, 20 Oktober 2014 itu dengan pernyataan seperti ditujukan kepada teman lama. Ia lalu mengucapkan terima kasih pada yang hadir dengan menyebut profesi-profesi sejak pedagang kaki lima, tukang kayu, sopir angkot, dokter, abang becak, sopir metro mini, perawat, bidan guru, TNI, hingga polisi.

“Tadi belum disebut petani, nelayan, wartawan, pemain sepakbola, olahragawan, penyanyi, pemusik, politisi, mahasiswa, pelajar, dan semua profesi yang ada di negara kita. Kita harus bangun bangsa ini. Kita harus sadar bangsa ini negara yang besar,” katanya setengah berteriak.

Monas yang menjulang di latar belakang berwarna ungu saat itu.

Malam itu Jokowi menyeru seluruh elemen masyarakat, baik di kota maupun di desa, bekerja bergerak bersama untuk Indonesia raya.

“Kalau tidak kita lakukan dengan bekerja keras, jangan berharap jadi negara makmur, sejahtera, dan besar,” katanya.

Setelah itu Jokowi memotong tumpeng sebagai wujud syukur suksesi kepemimpinan di tanah air berlangsung damai. Potongan tumpeng itu diberikan kepada seorang wanita sopir taksi, tiga perempuan asal Papua, dan seorang remaja putri peraih medali emas Olimpiade Fisika.

Hari pertamanya sebagai presiden itu mungkin hari tersibuk dalam hidup Jokowi. Pada pagi harinya ia mengucap sumpah dan janji pelantikan sebagai Presiden Republik Indonesia periode 2014-2019 di hadapan wakil rakyat di gedung DPR, Senayan.

“Pemerintahan yang saya pimpin akan bekerja untuk memastikan setiap rakyat di seluruh pelosok Tanah Air, merasakan kehadiran pelayanan pemerintahan. Saya juga mengajak seluruh lembaga negara untuk bekerja dengan semangat yang sama dalam menjalankan tugas dan fungsinya masing-masing,” kata Jokowi dalam pidato pertama sebagai presiden.

“Kepada para nelayan, buruh, petani, pedagang bakso, pedagang asongan, sopir, akademisi, guru, TNI, Polri, pengusaha dan kalangan profesional, saya menyerukan untuk bekerja keras, bahu membahu, bergotong rotong. Inilah, momen sejarah bagi kita semua untuk bergerak bersama untuk bekerja…bekerja… dan bekerja.”

Setelah itu bersama Wakil Presiden Jusuf Kalla melakukan kirab dari Senayan menuju Istana Negara yang berjarak sekitar 7 kilometer. Konon awalnya pasangan baru pemimpin Indonesia itu menggunakan mobil, namun berpindah menggunakan kereta kuda sejak dari simpang susun Semanggi di depan Universitas Atmajaya, karena sesaknya rakyat memenuhi kanan kiri jalan.

Di depan Patung Selamat Datang di depan Hotel Indonesia, kereta kuda itu bahkan sempat terhenti lama karena rangsekan penonton hingga menjepit kendaraan ala kerajaan yang dibawa dari Solo itu.

Sesampai di Istana, Jokowi masih harus menghadapi upacara serah sambut dengan presiden sebelumnya, Susilo Bambang Yudhoyono, dalam upacara militer. Usai melepas Presiden SBY, Jokowi melakukan pembicaraan jarak jauh (teleconference) dengan perwakilan masyarakat dari berbagai kalangan di beberapa dari Aceh hingga Papua.

Di depan Istana Merdeka, dalam waktu hampir bersamaan, seperti dikomando, rakyat berbondong memasuki istana Merdeka. Dari yang perlente hingga yang hanya berkaos oblong dan bersandal jepit memenuhi tangga istana.

Setelah itu Jokowi mendatangi acara di Monas tadi, disusul menerima wawancara yang disiarkan langsung sebuah stasiun televisi, dan langsung rapat menggodok komposisi menteri-menteri yang akan dipilih untuk pemerintahannya 5 tahun ke depan. Konon rapat itu berlangsung hingga pukul 03.00 WIB dini hari.

Success Story

Pasangan Jokowi-Kalla memenangkan pemilihan presiden pada 9 Juli 2014 dengan meraih 53,15% suara, mengalahkan pasangan Prabowo Subianto dan Hatta Rajasa yang mendapat 46,85% suara.

Hasil resmi rekapitulasi suara Komisi Pemilihan Umum (KPU) menyatakan Jokowi-Kalla mendapat 70.997.85 suara, selisih 8.421.389 atau sekitar 6% total suara, sedang lawannya meraih 62.576.444 suara. Pertarungan ketat di tingkat nasional itu juga terjadi di hampir semua provinsi. Jokowi-Kalla hanya menang di 23 di provinsi.

Ilustrasi: Kirab Budaya setelah pelantikan Joko Widodo menjadi Presiden RI, 20 Oktober 2014/Flickr-Ahmad Syaikhu

Setelah 4 tahun berkuasa, Oktober ini, apa yang sudah dicapai presiden yang tak mempunyai akar di militer atau darah biru pendiri negeri itu?

“Kita memiliki banyak success story,” kata Menteri Koordinator Bidang Kemaritiman, Luhut Binsar Pandjaitan, usai menjadi pembicara di DPP PDIP, Jalan Raya Lenteng Agung, Jakarta Selatan, April lalu.

Luhut mengaku mengantongi data-data kesuksesan Jokowi selama memimpin Indonesia.

“Saya boleh bertanggung jawab dengan itu,” katanya.

Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan (PDIP) mengingatkan awal-awal pemerintahan Jokowi dibebani banyak sekali masalah. Masalah utama adalah melunturnya martabat dan kehormatan bangsa. Kedua, melemahnya sendi perekonomian nasional.

“Pak Jokowi mewarisi fiskal APBN kita yang mengalami defisit dalam 3 aspek fundamentalnya, termasuk keseimbangan primernya. Dari sisi neraca perdagangan juga mengalami defisit dalam APBN kita,” kata Sekretaris Jenderal PDI Perjuangan Hasto Kristiyanto, Agustus lalu.

Masalah terbesar yang diwarisi Jokowi adalah krisis toleransi dan kebangsaan.

Menurut Hasto, di tengah problematika itu sejarah mencatat tangan dingin kepemimpinan Megawati Soekarnoputri mampu melahirkan pemimpin baru.

“Pemimpin baru yang tumbuh dan menerima gemblengan dari bawah itu adalah Joko Widodo yang kemudian menjadi Presiden Republik Indonesia dan menjawab persoalan bangsa dengan Trisakti sebagai jawaban,” kata Hasto.

Bagaimana Jokowi menjawab persoalan bangsa tersebut?

Selama 4 tahun memimpin Indonesia, Jokowi mungkin sudah menyusuri seluruh wilayah Republik Indonesia, dari barat hingga ke timur, dari Sabang sampai Merauke. Jokowi juga pernah mengunjungi ujung utara Indonesia, Pulau Miangas hingga ujung Selatannya di Pulau Rote, Nusa Tenggara Timur.

Perjalanan fisikal Jokowi mengunjungi wilayahnya ini mungkin hanya bisa diperbandingkan dengan lawatan Presiden Soekarno sejak Indonesia merdeka pada 1945 hingga wafatnya.

Jokowi juga pernah hingga menginjakkan kaki di gigir gunung di Wamena Papua, menaiki sepeda motor trail menuruni sekitar 7 km jalan yang baru selesai dibangunnya di pojok negeri yang lama dianaktirikan sejak Indonesia ada itu.

Dalam lawatan yang diberi nama Lintas Nusantara itu, Jokowi memulai dari ujung barat, Aceh. Di serambi Mekah itu ia menghadiri Pekan Nasional Petani Nelayan ke-15 di Stadion Harapan Bangsa, Gampong Lhong Raya, Banda Aceh, Sabtu 6 Mei 2017. Di hadapan sekitar 35 ribu petani dan nelayan, Presiden mengatakan pemerintah terus membangun infrastruktur pertanian, mulai dari waduk, embung, hingga irigasi sekunder dan tersier. Sehari kemudian Jokowi melanjutkan perjalanan ke Kalimantan Selatan, mengunjungi Puncak Budaya Maritim Pesta Laut Mappanretasi 2017 di Pantai Pagatan, Tanah Bumbu, Kalimantan Selatan.

Lalu ia terbang ke Maluku Utara, meresmikan fasilitas Pelabuhan Tapaleo, Pelabuhan Wayabula dan Pelabuhan Bicoli di Kabupaten Halmahera Tengah, Senin 8 Mei. Jokowi adalah presiden kedua yang pernah menginjakkan kakinya di situ setelah Presiden Soekarno pada 1957.

Sudah sejak awal dengan konsep Nawacita-nya, Jokowi ingin mengubah orientasi pembangunan dari Jawa sentris ke Indonesia sentris. Pada 2 tahun usia pemerintahan Oktober 2016 lalu, Jokowi menunjukkan pembangunan fisik di pelosok dan pulau-pulau terluar. Contoh terbaik adalah diresmikannya Bandara Miangas, di Kabupaten Kepualauan Talaud Sulawesi Utara yang hanya berpenduduk 750 orang dan ribuan burung. Lalu harga premium di Papua sama dengan harga di Jawa, dan seterusnya, dan sebagainya.

Selama 2 tahun awal itu pemerintah menggelontorkan Rp 313.5 triliun untuk membangun infrastruktur, termasuk waduk-waduk, jalan, jembatan, dan pelabuhan perintis. Pada 2015 Jokowi telah membangun jalur rel kereta api sepanjang 179,33 km dan 271,5 km tahun berikutnya. Selama 2016 ia membangun 8 waduk baru, 22 sedang dibangun, 387 situ baru, dan rehabilitasi 71 situ. Seperti dikutip kerjanyata.id, sampai Oktober 2016, 170 juta rakyat Indonesia telah terdaftar menjadi peserta BPJS Kesehatan, termasuk didalamnya 91 juta penerima bantuan iuran Kartu Indonesia sehat (KIS). Selama itu juga ia telah memangkas 3.032 Peraturan Daerah (Perda).

Jumlah itu terus bertambah setelah 4 tahun kini.

Jokowi menepati janjinya untuk memotong subsidi bahan bakar pada 2015 dan mengalihkan Rp 230 triliun ke kas pemerintah.

Menurut situs sekertaris kabinet, setkab.go.id, hingga awal 2016 telah selesai dibangun 27 pelabuhan laut. Pemerintah juga telah selesai membangun 4 Pelabuhan Penyeberangan, 7 Bandara Baru, dan 12 Bandara Pemugaran. Selain itu juga 68 pelabuhan laut yang tersebar di Maluku, Papua, NTT, dan Sulawesi.

Dan jumlah itu terus bertambah kini.

Program tol laut untuk transportasi juga sudah memiliki jadwal yang tetap dengan armada yang terus ditambah. Tol laut mempermudah perpindahan individu serta pengiriman logistik sehingga dapat menurunkan harga-harga sembako. Dan memang sudah terjadi penurunan harga beberapa sembako karena program tol laut tersebut.

Selain itu, pencurian ikan ilegal juga sudah jauh berkurang setelah program pemberantasan penangkapan ikan ilegal yang dilakukan Kementerian Kelautan dan Perikanan. Kini kapal asing pencuri ikan tak mudah lagi melenggang masuk Indonesia. Kekuatan Angkatan Laut Indonesia memang pas-pasan, dan tak mampu keluar lebih jauh dari batas-batas laut terluar Indonesia, tapi untuk menyerang kapal negara lain yang masuk tanpa izin ke wilayah tanah air, selama ini terbukti berhasil.

Jokowi juga tak harus menyembunyikan di tengah-tengah “kerja kerja kerja” itu, Indonesia memiliki tantangan besar di tengah pertumbuhan ekonomi yang stabil itu; Walau ada kegembiraan sedikit, yaitu tingkat kemiskinan berkurang dari 13,3 persen pada 2013 menjadi 10,7 persen pada 2016, dan di bawah 2 digit pada 2017. Tingkat pengangguran pada 5,33 persen adalah titik terendah sejak 1999.

Proyek Indonesia

Jokowi memang sangat populer terlihat dalam berbagai kunjungannya ke berbagai daerah, dan ia pintar mendayagunakannya. Kelemahan Jokowi yang mencolok, terutama dalam 2 tahun awal sebagai presiden, adalah ia tak tampak menawan jika harus tampil dalam acara formal bahkan acara kepresidenan. Umat media sosial seperti Facebook, Twitter, atau Instagram tahu betul soal itu.

Tampaknya Jokowi juga tahu itu dan tetap tampil di habitatnya. Ia bukan seorang pemimpin dengan retorika menggelegar seperti Presiden RI pertama, Ir Soekarno. Insinyur kehutanan lulusan UGM Yogyakarta itu lebih menampilkan diri sebagai pemimpin praktis yang fokus mencoba menyelesaikan masalah.

Pencapaian terpenting Jokowi di bidang politik adalah konsolidasi basis kekuasaan. Jokowo sukses merangkul sebagian besar pendukung Koalisi Indonesia Hebat (KIH) dengan memberikan kursi kabinet bagi Partai Golkar dan PAN. Sebelumnya kabinet hanya diisi wakil PDI-P, PKB, Nasdem, Hanura. Hanya tinggal Gerindra dan PKS yang di luar. Belakangan PAN dicoret dan bergabung dengan oposisi.

Masih ada sekitar setengah tahun lagi buat Jokowi untuk membuktikan janji-janjinya untuk Indonesia ini, sebuah komunitas abstrak yang mengikat semua penduduknya, mengutip almarhum Benedict Anderson dalam bukunya “Imagined Community”, yang bukan muncul karena kesamaan ras atau agama. Indonesia dibentuk rasa persaudaraan antar manusia yang tak saling kenal satu sama lain tapi berimajinasi sama: bersama-sama bagian dari sebuah proyek bernama Indonesia.

Pada 1 Juni 1945, ketika negara Indonesia masih maya, Soekarno berpidato di hadapan BPUPKI yang bersidang tiga hari berturut mencari dasar negara. “Kita tidak mendirikan negara buat satu orang, satu golongan, tetapi buat semua sehingga dasar pertama untuk negara Indonesia adalah dasar Kebangsaan. Kita mendirikan suatu negara kebangsaan Indonesia. Kita bukan hanya membicarakan bangsa, melainkan juga tanah airnya. Rakyat Minangkabau yang ada dimana-mana merasakan “kehendak akan bersatu” walaupun Minangkabau hanya sebagian kecil dari nusantara, demikian juga masyarakat Jogja, Sunda dan Bugis. Nationale staat meliputi seluruh wilayah Indonesia yang merupakan wilayah kesatuan.”

Tujuan didirikan Indonesia, lebih presisi, terletak di alinea IV Pembukaan Undang-undang Dasar 1945. “Kemudian daripada itu untuk membentuk suatu pemerintah negara Indonesia yang melindungi segenap bangsa Indonesia dan seluruh tumpah darah Indonesia dan untuk memajukan kesejahteraan umum, mencerdaskan kehidupan bangsa, dan ikut melaksanakan ketertiban dunia yang berdasarkan kemerdekaan, perdamaian abadi dan keadilan sosial.”

Garis bawah terletak di kalimat “melindungi segenap bangsa Indonesia”. Indonesia itu segenap suku, agama, dan ras, yang bersatu dalam ikatan sama. Tak ada yang lebih besar, tak ada yang lebih benar.

Dan tepat di situlah masalah terbesar Indonesia hari-hari ini berpangkal: ketika makna segenap bangsa Indonesia mulai mau diiris kecil-kecil menjadi tak berarti. Dan Jokowi tahu persis itu karena 4 tahun terakhir inilah imajinasi untuk bersama-sama menjadi bagian dari sebuah proyek bernama Indonesia itu coba dikoyak. Inilah masalah besar yang tetap harus dihadapi selama sisa pemerintahannya; selain ekonomi, ekonomi, dan ekonomi, tentu saja. [Didit Sidarta]