Leimena

Siapakah politisi paling jujur di mata Bung Karno? Dalam buku Cindy Adams, Bung Karno: Penyambung Lidah Rakyat Indonesia, Bung Karno mengatakan bahwa Johannes Leimena adalah seorang yang paling jujur yang pernah ia temui. Bung Karno juga selalu memanggil Leimena dengan panggilan ‘Domine’, yang artinya pendeta. Panggilan ini kan secara tersirat membuktikan kepercayaan Bung Karno. Ini terbukti, Bung Karno tujuh kali mengangkat Leimena sebagai pejabat presiden setiap kali Bung Karno melawat ke luar negeri.

Pendapat Bung Karno itu tidaklah berlebihan. Politik, dalam pandangan Leimena, pertama-tama bukanlah sebagai alat kekuasaan, tapi sebagai suatu etika untuk melayani. Jadi, tak heran bila Leimena dikenal sebagai politisi jujur dan berintegritas.

Meski begitu, di saat-saat tertentu Leimena juga menganjurkan untuk “berbohong”. Seperti dituturkan Sabam Sirait– politisi yang pernah sangat dekat dengannya– Leimena mengartikan “berbohong” dalam kaitan itu sebagai “menunda menyatakan kebenaran”. Kebenaran tetap harus disampaikan kepada publik, tapi tidak harus saat itu juga.

“Tidak semua yang kita tahu harus kita tulis atau katakan. Karena kalau kita tulis atau katakan, mungkin maksud kita berbuat baik: agar rakyat tahu, agar rakyat menjadi pintar. Tapi kebenaran itu punya akibat lain juga, kemungkinan akan menyebabkan perpecahan bangsa dan rakyat,” kata Leimena, seperti dituturkan Sabam Sirait.

Jadi, ada saatnya kebenaran itu jika disampaikan suatu waktu, ia tidak akan menguntungkan atau merugikan kepentingan negara yang lebih luas.

Johannes Leimena lahir di Ambon, Maluku, 6 Maret 1905. Dalam usia belia, di tahun 1914, Leimena hijrah ke Batavia (Jakarta) untuk meneruskan studinya di Europeesch Lagere School (ELS) selama beberapa bulan, lalu pindah ke sekolah menengah Paul Krugerschool. Ia kemudian melanjutkan pendidikannya ke MULO Kristen. Setamat dari MULO, ia menempuh pendidikan kedokterannya STOVIA (School Tot Opleiding Van Indische Artsen) — cikal bakal Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia.

Selama masa mahasiswanya di STOVIA, Leimena aktif dalam organisasi mahasiswa Maluku, Jong Ambon (didirikan tahun 1917), danVereeniging Ambonsche Studenten (VAS, 1924). Kegiatan organisasi itu menyangkut juga politik. Wawasan politik pergerakan diperolehnya dalam organisasi kedaerahan itu. Sebagai aktivis Jong Ambon, Leimena ikut mempersiapkan Kongres Pemuda Indonesia, 28 Oktober 1928, yang menghasilkan Sumpah Pemuda. Sejak momen itulah Leimena tertarik untuk terlibat lebih jauh dalam pergerakan nasional kebangsaan.

Leimena/leimenainstitute.org
Leimena/leimenainstitute.org

Salah satu tulisan Leimena di masa pergerakan kebangsaan (di majalah Zaman Baroe, edisi tahun 1928), membicarakan hubungan antara gerakan pemuda Kristen dengan nasionalisme. Jalan pemikiran Leimena sebagai berikut: “Nasionalisme bersumber pada keadilan yang sama diperjuangkan bangsa-bangsa. Perkembangan pada bangsa-bangsa Asia seperti Cina, Jepang, India menunjukan pentingnya pengaruh Kristen. Diantara tokoh-tokoh nasional mereka terdapat orang-orang Kristen. Itu suatu petunjuk supaya juga di Indonesia orang-orang Kristen mengambil bahagian dalam memajukan bangsa.”