Pada 9 November 1979, sistem peringatan dini Amerika Serikat menampilkan indikasi serangan sekitar 1.400 rudal balistik antarbenua Soviet.
Informasi tersebut memicu prosedur penilaian ancaman dan pengerahan pesawat pertahanan udara di tengah ketegangan Perang Dingin.
Alarm itu ternyata palsu. Data simulasi yang digunakan untuk pengujian komputer masuk ke sistem operasional North American Air Defense Command (NORAD).
Kesalahan itu membuat skenario serangan ditampilkan sebagai ancaman nyata dan memicu respons militer sebelum akhirnya berhasil diidentifikasi.
Kronologi Alarm Rudal Palsu NORAD pada 1979
Pada 1979, NORAD bertanggung jawab memantau ancaman udara dan rudal terhadap Amerika Serikat dan Kanada.
Pusat operasi utamanya berada di kompleks Cheyenne Mountain, dekat Colorado Springs, Colorado.
Sistem peringatan dini NORAD mengolah informasi dari berbagai sumber, termasuk radar dan satelit peringatan.
Data tersebut membantu petugas menilai kemungkinan serangan rudal balistik, yang dapat memberikan waktu sangat terbatas bagi pihak yang menjadi sasaran untuk merespons.
Pada 9 November 1979, sekitar pukul 10.50 pagi waktu setempat, skenario simulasi serangan rudal digunakan dalam pengujian sistem.
Menurut catatan sejarah Aerospace Defense Command, rekaman dari perangkat Message/Generator Recorder masuk ke jalur pemrosesan komputer operasional di Cheyenne Mountain.
Komputer 427M memproses data tersebut sehingga muncul pada konsol peringatan sebagai informasi serangan nyata.
Informasi yang keliru itu diteruskan ke sejumlah pusat komando militer, termasuk Strategic Air Command (SAC) dan National Military Command Center (NMCC) di Pentagon.
Akibatnya, beberapa fasilitas menerima indikasi ancaman yang berasal dari skenario simulasi tersebut.
Komputer Menampilkan Sekitar 1.400 Rudal Balistik Soviet
Salah satu informasi yang tercatat dalam dokumen mengenai insiden ini adalah indikasi serangan sekitar 1.400 rudal balistik antarbenua atau intercontinental ballistic missiles (ICBM) Soviet.
Sistem juga menampilkan ancaman dari lebih dari 200 rudal balistik yang diluncurkan dari kapal selam atau submarine-launched ballistic missiles (SLBM).
Besarnya ancaman yang ditampilkan membuat pusat komando menjalankan prosedur penilaian serangan.
Petugas perlu memeriksa apakah indikasi pada layar komputer didukung oleh informasi dari radar, satelit, dan sistem pemantauan independen lainnya.
Pemeriksaan Radar dan Satelit Mengungkap Alarm Palsu
Setelah alarm muncul, National Military Command Center di Pentagon mengadakan Threat Assessment Conference (TAC) untuk menilai ancaman.
Strategic Air Command juga memeriksa informasi yang diterima.
Pemeriksaan silang menemukan bahwa indikasi serangan pada komputer tidak didukung oleh data sensor independen.
Satelit Defense Support Program tidak menunjukkan indikasi peluncuran yang sesuai dengan skenario tersebut.
Radar juga tidak mendeteksi aktivitas rudal balistik yang seharusnya menyertai ancaman yang ditampilkan.
Ketidaksesuaian antara tampilan komputer dan data sensor memungkinkan petugas mengidentifikasi bahwa peringatan tersebut palsu.
Dalam memorandum kepada Presiden Jimmy Carter tertanggal 20 November 1979, Menteri Pertahanan Harold Brown menyatakan indikasi serangan berhasil dipastikan palsu dalam waktu kurang dari enam menit sejak alarm awal.
Telegram Departemen Luar Negeri Amerika Serikat pada 28 November 1979 juga menyebutkan bahwa seluruh tingkat komando telah mengidentifikasi dan mengonfirmasi data tersebut sebagai palsu dalam kurang dari enam menit.
Pesawat Tempur Dikerahkan Saat Alarm Berlangsung
Meskipun pemeriksaan sedang dilakukan, respons pertahanan udara tetap berlangsung.
Catatan mengenai insiden tersebut menyebut enam pesawat tempur F-101 Kanada dan empat pesawat pencegat F-106 Amerika Serikat lepas landas untuk mengambil posisi siaga.
Pesawat-pesawat tersebut ditarik kembali setelah ancaman dinyatakan palsu.
Pesawat komando darurat nasional, National Emergency Airborne Command Post (NEACP), juga dilaporkan diluncurkan.
Pesawat ini dirancang untuk mempertahankan kemampuan komando dan kendali militer dalam keadaan darurat.
Dalam memorandum kepada Presiden Carter, Harold Brown menegaskan bahwa tidak ada kekuatan nuklir strategis Amerika Serikat yang diaktifkan dan tidak ada perintah untuk meningkatkan status siaga akibat alarm tersebut.
Dokumen diplomatik juga menyebut pesawat yang lepas landas tidak membawa senjata nuklir.
Presiden Carter tidak menerima pemberitahuan ketika alarm berlangsung.
Menteri Pertahanan Brown dan Ketua Kepala Staf Gabungan Jenderal David C. Jones juga tidak menerima pemberitahuan awal sebelum kesalahan berhasil ditangani.
Penyebab Alarm Rudal Palsu NORAD
Penyebab langsung insiden 9 November 1979 adalah masuknya rekaman simulasi serangan ke jalur pemrosesan komputer operasional.
Data yang semestinya digunakan untuk pengujian diproses sebagai informasi ancaman nyata dan ditampilkan pada konsol peringatan.
Evaluasi setelah kejadian menyoroti persoalan dalam pemisahan sistem pengujian dan sistem operasional, serta koordinasi penggunaan peralatan komputer.
Pemerintah Amerika Serikat juga meninjau prosedur pengujian dan aturan pengerahan pesawat pertahanan udara serta pesawat komando.
Setelah kejadian ini, NORAD memperketat prosedur penggunaan komputer pengujian yang terhubung dengan sistem utama.
Pengujian harus dikoordinasikan dan diberitahukan kepada pihak terkait.
Pengembangan fasilitas terpisah untuk pengujian perangkat keras, perangkat lunak, dan latihan juga menjadi bagian dari upaya mencegah data simulasi masuk kembali ke sistem operasional.
Reaksi Uni Soviet terhadap Insiden NORAD 1979
Insiden alarm palsu tersebut turut mendapat perhatian pemerintah Uni Soviet.
Pada 13 November 1979, Duta Besar Soviet untuk Amerika Serikat, Anatoly Dobrynin, menyampaikan pesan dari pemimpin Soviet Leonid Brezhnev kepada Presiden Carter.
Dalam pesannya, Brezhnev menyampaikan kekhawatiran mengenai bahaya yang dapat muncul akibat kesalahan dalam sistem peringatan serangan nuklir.
Pemerintah Amerika Serikat mengedarkan penjelasan kepada perwakilannya di NATO mengenai kejadian tersebut untuk memberikan informasi yang akurat kepada negara-negara sekutu.
Dokumen diplomatik Amerika Serikat juga menunjukkan kekhawatiran Washington mengenai dampak insiden ini terhadap kepercayaan sekutu pada keandalan sistem peringatan dan pengendalian senjata nuklir Amerika.
Alarm Palsu Kembali Terjadi pada 1980
Masalah pada sistem peringatan rudal Amerika Serikat kembali muncul pada 1980.
Pada 28 Mei, 3 Juni, dan 6 Juni, terjadi rangkaian indikasi peringatan palsu yang melibatkan sistem komputer dan komunikasi data.
Penyebab teknis kejadian pada Juni 1980 berbeda dari insiden November 1979.
Dalam memorandum tertanggal 2 Juli 1980, Harold Brown menjelaskan bahwa alarm palsu pada Juni berkaitan dengan kegagalan sirkuit terpadu seharga 46 sen dalam perangkat komunikasi data.
Kerusakan tersebut menyebabkan sistem menghasilkan indikasi serangan rudal yang keliru.
Rangkaian insiden pada 1979 dan 1980 tercatat dalam evaluasi sistem peringatan strategis Amerika Serikat.
Insiden 9 November 1979 menunjukkan bagaimana kesalahan dalam pengujian komputer dapat memicu respons nyata dari sistem pertahanan udara. [BP]
Follow channel WhatsApp Koran Suluh Indonesia dan temukan artikel sejarah dunia lainnya.
https://whatsapp.com/channel/0029VbByPYj3WHTNpxLmO93I


