Hari Kemenangan Rakyat Uni Soviet

Lewat keputusan memperingati Revolusi Oktober dengan parade militer dan pidato patriotik, Stalin menginspirasi kepercayaan dan antusiasme rakyat melawan fasisme Jerman pada 1941

Tentara Merah ketika memasuki Berlin setelah mengalahkan tentara fasis Nazi Jerman/CNN

Koran Sulindo – Pada 9 Mei 1945 di Moskow. Tepatnya 75 tahun yang lalu. Pemerintah Uni Soviet mengumumkan kemenangan rakyat dan Tentara Merah atas fasisme Jerman. Sejak itu, 9 Mei diperingati sebagai Hari Kemenangan. Kisah itu lalu dikenal sebagai “Perang Patriotik Raya”.

Sebelumnya, pada 22 Juni 1941, Hitler mengerahkan 3 juta tentara untuk menyerang Uni Soviet. “Operasi Barbarossa” – demikian nama serangan – itu diharapkan dapat menaklukkan rakyat Soviet hanya dalam beberapa bulan. Namun, 4 tahun lamanya tentara agresor harus menghadapi perlawanan sengit dan gagah berani rakyat Soviet dan akhirnya terpaksa mengakui keunggulan Tentara Merah yang dipimpin Partai Bolshevik dan Stalin.

Tujuan Jerman Nazi menyerang Uni Soviet bukan hanya untuk menghancurkan kekuasaan kaum proletar pertama di dunia, tapi juga melenyapkan orang-orang Slavia dan Bolshevik Yahudi dari muka bumi, karena dianggap sebagai jenis manusia yang lebih rendah (subhuman). Di situs Holocaust Encyclopedia, kita temukan angka 5,7 juta personel militer Soviet yang ditawan Jerman. Pandangan rasis Jerman Nazi telah mengakibatkan perlakuan khusus brutal tak berperikemanusiaan terhadap tahanan perang Soviet. Mereka yang mati karena sengaja dilaparkan dan perlakuan kejam Jerman Nazi mencapai kira-kira 3,3 juta. Artinya, setelah orang Yahudi, maka tahanan perang Soviet yang mati dibantai merupakan jumlah terbesar kedua. Di samping itu, kita tahu 26-27 juta rakyat Soviet membela tanah airnya dengan nyawanya.

Apakah kemenangan Uni Soviet yang telah membebaskan dan menyelamatkan dunia, terutama Eropa dari cengkeraman fasisme, merupakan suatu kebetulan? Mengapa justru Soviet yang berhasil mencegah negerinya diduduki kaum Nazi? Mengapa Prancis, misalnya, negeri yang perkembangan ekonomi dan industrinya lebih maju, dan pemenang Perang Dunia I, tidak mampu menghindari pendudukan Jerman?

Sudah tentu banyak faktor yang memungkinkan Uni Soviet mampu dan berhasil mengusir dan mengejar tentara fasis Jeman sampai ke sarangnya di Berlin.

Pertama, kemampuan itu tak mungkin tercipta seandainya Uni Soviet tidak berhasil menerapkan tesis Lenin “mata rantai imperialisme terlemah” dan “sosialisme di satu negeri”. Trotsky tidak percaya sosialisme dapat dibangun dan dipertahankan tanpa kemenangan revolusi sosialis di negeri-negeri kapitalis maju Eropa, seperti Jerman, Inggris dan Prancis.

Stalin membangun sosialisme dengan bersandar kepada kekuatan dan sumber negeri sendiri. Ini membuat Trotsky menuduh Stalin membangun autarki. Padahal kebijakan berdiri di atas kaki sendiri ini lahir dari kenyataan objektif Uni Soviet yang dikelilingi dunia kapitalis yang bermusuhan. Ekonomi Soviet yang independen dibuktikan sangat menguntungkan ketika dunia dilanda Depresi Besar pada 1930-an. Seandainya Trotsky yang memimpin, Uni Soviet akan turut menanggung dampak berat dari depresi itu, karena kebijakannya yang menginginkan ekonomi Soviet menjadi bagian dari ekonomi dunia yang didominasi kapitalisme monopoli dunia.

Kita lihat sekarang bagaimana Tiongkok kapitalis, sejak ekonominya terintegrasi dalam sistem kapitalisme dunia, tidak terlindungi dari dampak semua krisis ekonomi dan finansial yang melanda dunia.

Kepercayaan besar Stalin kepada kemampuan kaum buruh, kaum tani, kaum pemuda, kaum wanita dan seluruh sektor rakyat Soviet adalah kapital moral yang tak terkalahkan. Stalin berpendapat kalau Partai Bolshevik tidak percaya akan kemampuannya membangun sosialisme dengan bersandar kepada kekuatannya sendiri, maka partai harus dengan jujur mengundurkan diri dan menyerahkan kekuasaan kepada kekuatan politik lain. Karena, menurut Stalin, sebuah partai kelas buruh tidak berhak menipu kelasnya. Jelas, dari Trotsky tak dapat diharapkan kepercayaan itu.

Kedua, keberhasilan pembangunan ekonomi sosialis memungkinkan Uni Soviet memiliki industri berat termasuk persenjataan dan berangsur-angsur mengejar ketertinggalannya. Menjelang serangan Jerman Nazi, Uni Soviet memiliki 23.000 tank. Hitler pernah berkata kepada para jenderalnya, kalau dia tahu Uni Soviet punya begitu banyak tank, dia tak akan menyerangnya (Kenneth Macksey: Guderian).

Duta Besar AS, J.E. Davis di Moskow dari November 1936 sampai 1938, ketika berjumpa dengan Stalin, menyatakan bahwa dia sudah mengunjungi hampir semua pabrik industri berat dan juga perkembangan hydraulic. Ia kagum karena semua hasil luar biasa itu dicapai hanya dalam waktu 10 tahun.

Pada tahun 1943, “Warner Brothers” membuat film berdasarkan buku J.E. Davis yang berjudul Mission to Moscow dan tayang pada 1941. Davis berusaha meyakinkan kalangan pengusaha yang tidak percaya akan kemampuan Soviet mengalahkan Jerman Nazi. Sebagai film sejarah, barangkali Mission to Moscow merupakan satu-satunya film Hollywood yang mengungkapkan kebenaran tentang Uni Soviet. Di youtube bisa dilihat beberapa klip dari film tersebut. Salah satu klip diakhiri dengan kata-kata “Dalam Perang Dunia II kaum komunis benar! Uni Soviet menyelamatkan dunia dari fasisme!”

Ketiga, emansipasi kaum wanita telah menyalurkan energi dan kreativitasnya yang mendorong maju pembangunan sosialis. Selama perang patriotik membela tanah air, tanpa kaum wanita yang bekerja siang malam di pabrik-pabrik senjata, tak mungkin kemenangan tercapai. Begitu juga peran besarnya sebagai prajurit di darat dan di udara, personel kesehatan, gerilya partisan dan dalam menunaikan tugas-tugas penting lainnya.

Keempat, terbongkarnya grup-grup kontra-revolusioner di dalam partai, negara dan militer yang berkomplot untuk menjatuhkan pemerintahan Soviet melalui kolaborasi dengan kekuatan imperialis Jerman dan Jepang telah melenyapkan kemungkinan pembentukan kolone kelima.

Pengadilan Moskow pertama diselenggarakan pada Agustus 1936. Sebanyak 16 orang anggota “Pusat Teroris Trotsky-Kamenev-Zinoviev” harus mempertanggungjawabkan keterlibatannya dalam pembunuhan Sergey Kirov, anggota Politbiro dan Sekretaris Partai Leningrad, pada 1934, dan rencana pembunuhan terhadap Stalin. Para sejarawan, media borjuis dan kaum Trotskis menuduh Stalin yang membunuh Kirov dalam rangka mengeliminasi saingan-saingan yang membahayakan kekuasaannya.

Pengadilan Moskow kedua berlangsung dari 23 hingga 30 Januari 1937 untuk mengadili 17 orang anggota “Pusat Trotskys anti-Soviet”.

Kesaksian dan pengakuan dari para terdakwa dalam Pengadilan Moskow pertama telah membongkar konspirasi di kalangan para pejabat tinggi militer, termasuk Marsekal Tukhachevsky yang diadili pada 11 Juni 1937.

Yang menarik dari kasus Marsekal Tukhachevsky adalah wawancara peneliti Vladimir L. Bobrov, pada 2000, dengan Kolonel Victor Alksnis, anggota Duma (parlemen) dan cucu dari Letnan Jenderal Iakov I. Alksnis yang merupakan salah satu hakim di pengadilan militer yang mengadili Tukhachevsky dan petinggi militer lainnya. Tapi beberapa bulan kemudian dia sendiri ditangkap dan diadili sebagai konspirator dan dijatuhi hukuman mati.

Konspirasi
Kolonel Victor Alksnis, pada 1990, diberi izin oleh KGB untuk membaca transkrip pengadilan Tukhachevsky dan 7 pejabat militer tinggi yang tidak pernah dipublikasi. Mungkin KGB berpikir, Alksnis akan bersimpati dan menerima cerita versi Khrushchov, pentolan revisionisme modern Soviet, bahwa orang-orang militer itu tidak bersalah dan menjadi “korban jebakan dan kekejaman” Stalin. Karena kakeknya sendiri adalah salah satu dari “korban”.

Berikut ini petikan dari wawancara di jurnal Elementy pada 2000:

“Kakek saya berteman dengan Tukhachevsky. Dan kakek menjadi anggota panel pengadilan yang mengadili Tukhachevsky dan Eideman. Minat saya dalam hal ini menjadi lebih besar setelah tulisan [mantan] Jaksa Viktorov dipublikasi. Ia menulis bahwa Iakov Alksnis sangat aktif di persidangan, mengganggu dan meletihkan terdakwa. . . Namun dalam transkrip persidangan, semuanya justru sebaliknya. Kakek hanya mengajukan 2 atau 3 pertanyaan selama seluruh pengadilan. Dan hal yang paling aneh adalah perilaku terdakwa. Berita koran [zaman Gorbachev] mengklaim bahwa semua terdakwa sepenuhnya membantah kesalahan mereka. Tetapi menurut transkrip, mereka sepenuhnya mengakui kesalahannya. Saya sadar bahwa pengakuan bersalah itu sendiri dapat merupakan hasil dari penyiksaan. Tapi dalam transkrip itu terdapat sesuatu yang lain sama sekali, yaitu sejumlah besar detail, dialog yang panjang, tuduhan satu sama lain, presisi yang amat besar. Tidak mungkin mengatur di belakang layar sesuatu seperti itu. . . . Saya tidak tahu tentang sifat konspirasi. Tapi fakta bahwa konspirasi benar-benar ada dalam Tentara Merah dan Tukhachevsky berpartisipasi di dalamnya, sekarang saya benar-benar yakin akan hal itu.”

Ini hanya secuil bukti pemutarbalikan dan penyembunyian fakta sejarah untuk membentuk legenda hitam tentang Stalin yang difitnah sebagai seorang psikopat yang melihat musuhnya ada di mana-mana alias “paranoia”. Yang jelas Stalin tahu adanya grup oposisi dan sadar bahwa negerinya tidak dikelilingi negara-negara bersahabat yang siap mengulurkan tangannya ketika ia mengalami bencana. Namun kekhawatiran akan agresi asing dan oposisi tidak membuat Stalin menjadi “penjahat” dan “pembunuh”!

Sejarawan, media borjuis dan pengikut Trotsky menamakan pengadilan Moskow “sandiwara” yang dipentaskan Stalin untuk melenyapkan kaum oposisi terhadap kekuasaan dirinya sendiri. Stalin dituduh telah mengeliminasi pemimpin militer terbaik Tentara Merah dan semua Bolshevik tua. Ia tinggal sendirian.

Bolshevik lama yang berkomplot adalah Zinoviev, Kamenev, Bukharin, Karl Radek. Zinoviev dan Kamenev menentang rencana Lenin mencetuskan Revolusi Oktober. Kamenev membocorkan rencana pemberontakan kepada media reaksioner. Lenin pernah mengusulkan pemecatan Kamenev dari partai.

Sedangkan Bolshevik lama yang setia kepada sosialisme: Kaganovich, Molotov, Malenkov, Kalinin, Voroshilov, Ordjonikidze. Stalin tidak sendirian.

Winston Churchill, seorang anti-komunis kawakan, dalam memoirnya The Gathering Storm, menulis tentang Presiden Benes dari Cekoslovakia yang cerita bahwa dalam komunikasinya dengan Hitler, ia menjadi sadar bahwa ada hubungan melalui kedutaan Soviet di Praha antara orang-orang penting di Rusia dan pemerintah Jerman. Churchill melanjutkan “Ini merupakan satu bagian dari apa yang dinamakan konspirasi militer dan komunis generasi lama untuk menggulingkan Stalin dan mendirikan sebuah rezim baru berdasarkan kepada politik pro-Jerman”. Komentar ditutup Churchill dengan kata-kata “Setelah itu terjadi pembersihan militer dan politik tak kenal ampun, tapi mungkin memang diperlukan di Soviet Rusia, dan serangkaian pengadilan pada Januari 1937, di mana Jaksa Vyshinsky memainkan peran begitu baik”.

Pernyataan Churchill di atas sangat dibenci oleh kaum Trotskis, karena telah memojokkan fitnah dan tuduhannya berkaitan dengan pengadilan Moskow 1930-an.

Kelima, kepemimpinan Stalin yang didukung oleh partai dan Tentara Merah. Faktor kepemimpinan Stalin ini pasti dicemooh dan ditolak oleh kaum Trotskis, sejarawan dan media borjuis.

Geoffrey Roberts, profesor sejarah di University College Cork, Ireland, adalah penulis Stalin’s Wars: From World War to Cold War, 1939-1953. Di satu pihak, ia mengaanggap Stalin sebagai “diktator”, “pembunuh”, “raja perang”. Namun, di pihak lain ia mengakui pemerintahan Stalin mendapat dukungan besar rakyat, mampu memobilisasi sumber daya dan penduduknya dalam sebuah perang total yang menuntut pengorbanan luar biasa, dan membangkitkan antusiasme besar di kalangan rakyat yang akhirnya membawa kemenangan militer terbesar dalam sejarah. Kekerasan dan teror saja tidak cukup untuk menjelaskan bertahannya sistem Soviet, begitu kata Roberts.

Roberts menolak banyak kritik terhadap kepemimpinan Stalin, karena ia lihat kritik –kritik itu berakar, di satu pihak, pada polemik perang dingin Barat dan di pihak lain, pada kampanye de-Stalinisasi di Uni Soviet.

Roberts membuktikan peran menentukan Stalin pada periode Oktober-November 1941 di Moskow. Ketika Jerman mendekati pintu masuk kota, Stalin tetap tenang dan komandonya juga tetap logis, tidak kacau. Ia mengambil keputusan yang baik ketika memanggil Zhukov supaya memimpin pertahanan kota. Melalui keputusan memperingati Revolusi Oktober dengan parade militer, tetap berada di Moskow, dan membuat pidato patriotik, Stalin menginspirasi kepercayaan dan antusiasme rakyat. Tanpa merasa panik ia mengerahkan kekuatan yang ada untuk pertahanan dan mengijinkan Tentara Merah membangun kekuatan di garis belakang untuk mempersiapkan kontra-ofensif yang berhasil pada awal Desember 1941.

Akhir Perang Dunia II membuktikan tanpa para jenderal konspirator, Uni Soviet menyelamatkan dunia dari fasisme. [Tatiana Lukman].