Hari Ke-5 Jatuhnya Lion Air, Kotak Hitam Percakapan Kokpit Belum Juga Ditemukan

Hari Ke-5 Jatuhnya Lion Air, Kotak Hitam Percakapan Kokpit Belum Juga Ditemukan

Anggota Tim SAR Gabungan sedang mencari kotak hitam pesawat Lion Air yang jatuh di perairan Karawang, Jawa Barat.

Koran Sulindo – Dalam pesawat terbang ada dua kotak hitam atau black box, yakni yang merekam data penerbangan (flight data recorder, FDR) dan yang merekamapercakapan di kokpit (cokcpit voice recorder, CVR). Kotak hitam FDR dari pesawat Lion Air PK-LQP yang jatuh di perairan Karawang-Jawa Barat pada 29 Oktober 2018 lalu telah ditemukan.

Yang menemukan adalah penyelam dari Korps Marinir, Sersan Satu Hendra Syahputra pada 1 November 2018 lalu. Lokasinya berada 500 meter dari koordinat hilang kontaknya Lion Air tujuan Pangkalpinang itu.

Namun, untuk kotak hitam CVR sampai sekarang belum ditemukan. Hari kelima setelah kecelakaan itu, Tim SAR Gabungan baru saja selesai melakukan pencarian, dengan menelusuri area koordinat dugaan keberadaan kotak hitam tersebut..

Diungkapkan Deputi Teknologi Pengembangan Sumberdaya Alam Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi (BPPT) Hammam Riza, tim Komite Nasional Keselamatan Transportasi (KNKT), tim Kapal Baruna Jaya I BPPT, dan dibantu tim dari Singapura dan Amerika Serikat serta tim Boeing melakukan pencarian CVR dengan alat pinger locator. Juga didukung perahu karet (rubber boat).

“Tim sudah kembali dan hasilnya nihil sebab CVR sudah tidak lagi mengirim sinyal atau ping ke alat pinger locator. Asumsi kami, mungkin CVR dan beacon-nya masuk ke dalam lumpur dan tertutup reruntuhan pesawat yang lebar sehingga tidak dapat mengirim secara vertikal atau omni sebagaimana FDR,” kata Hamman, Sabtu (3/11), sebagaimana dikutip dari situs resmi BPPT.

Ia juga mengungkapkan, hasil video dari para penyelam akan dievaluasi untuk menyeleksi serpihan yang harus menjadi perhatian para penyelam. “Untuk diikat dan diangkat ke permukaan atau pun disingkirkan dari lokasi, sehingga  beacon dapat merilis gelombang akustik ke pinger locator dan transponder,” tutur Hammam.

Sementara itu, Kepala Balai Teknologi Survei Kelautan BPPT M. Ilyas dari atas Kapal mengatakan, jika peralatan transponder tidak lagi menerima respons dari beacon CVR, pencarian akan dilakukan ke area lain. “Jika USBL transponder di Kapal Baruna Jaya I tidak dapat sinyal, kami sarankan untuk melakukan pencarian di luar area prioritas saat ini,” katanya. [RAF]