Haji Sirajuddin Abbas: Ulama-Politisi Loyalis Bung Karno

Haji Sirajuddin Abbas: Ulama-Politisi Loyalis Bung Karno

224

Politisi Tangguh

Seperti disebutkan diatas, Sirajuddin Abbas terpilih sebagai Ketua Umum Perti, sebagai partai politik, dalam kongres di bulan Desember 1945. Sejak itu, ia menjadi figur sentral di Perti. Sirajuddin juga merupakan wakil Perti satu-satunya di parlemen hingga tahun 1955.

Di bawah kepemimpinaan Sirajuddin, Perti berkembang cukup pesat. Untuk keperluan kaderisasi maupun untuk menghimpun pengikut sebanyak-banyaknya, Perti menggalang pemuda dalam Persatuan Pemuda Islam Indonesia (PPII), Persatuan Murid-Murid Tarbiyah Islamiyah, dan kepanduan Al-Anshaar.

Meski mengusung bendera sebagai partai Islam, garis politik Perti selalu mendukung Presiden Soekarno. Dibanding kalangan modernis Islam dan tradisional Islam di Jawa– terutama di masa Demokrasi Terpimpin– garis politik Perti bergerak ke kiri. Dalam banyak kegiatan Perti bekerjasama dengan kalangan nasionalis-radikal. Karena kedekatannya dengan tokoh-tokoh politik nasionalis-radikal atau sosialis-kiri, Perti sempat dicap sebagai bagian dari kelompok kiri.

Meski masuk kategori partai kecil, tapi dibawah kepemimpinan Kiai Sirajuddin Abbas, partai ini tetap eksis dan diperhitungkan oleh kelompok Islam lainnya. Bahkan bersama NU dan PSII, di tahun 1952, Perti berhasil mendirikan Liga Muslim dengan tokoh-tokohnya Kiai Wahid Hasyim, Kiai Sirajuddin Abbas, dan Abi Kusno Cokrosuyoso. Sayang, Liga Muslim ini tidak dapat berjalan secara efektif dan akhirnya surut begitu saja.

Sebagai ulama dan politisi, KH Sirajuddin Abbas memiliki banyak pengalaman di bidang politik maupun keagamaan. Ia banyak berkunjung ke berbagai negara asing, baik melalui kunjungan resmi (kenegaraan) sebagai anggota lembaga legislatif (Dewan Perwakilan Rakyat) maupun kunjungan kerja lain dalam missi keagamaan. Di antara negara yang pernah dikunjunginya antara lain Arab Saudi, Mesir, Yaman, Libanon, Syiria, Irak, Iran, Pakistan, Kazakstan, Turkistan, Turkmenia, Sin Kiang, Aljazair, dan Maroko.

Menariknya, Sirajuddin Abbas tak segan berseberangan pendapat dengan partai-partai Islam lainnya. Pada awal 1956, Sirajuddin dengan nada provokatif mempertanyakan mengapa Masjumi—partai Islam terbesar di masa itu—lebih suka bekerjasama dengan Parkindo dan Partai Katolik daripada dengan partai-partai Islam lainnya, seperti NU, PSII, dan Perti. Pernyataan itu terkait dengan Perundingan   Jenewa yang berlarut-larut. Salah satu agenda penting Perundingan Jenewa itu adalah mengenai upaya pembebasan Irian Barat.

Presiden Soekarno dan partai-partai yang mendukungnya, menilai kabinet yang dipimpin Burhanudin Harahap (Masjumi) menilai Perundingan Jenewa terlalu berlama-lama. Perundingan Jenewa itu memang ditunda karena tidak berhasil menemukan kesepakatan dengan pihak Belanda.

Dua partai Islam, NU dan PSII, kemudian mengirimkan nota kepada pemerintah agar menarik delegasi Indonesia di Perundingan Jenewa. Suhu politik pun memanas. Selanjutnya NU dan PSII menarik menteri-menterinya dari kabinet. NU juga menyarankan agar pemerintah “demi keutuhan bersama… menyerahkan mandat kembali kepada Presiden”.

Perti juga menuntut hal yang sama. Dan Sirajuddin Abbas mengeluarkan komentar yang menyerang Masjumi. Pernyataan itu segera mendapat sambutan Mohammad Natsir, salah seorang pemimpin utama Masjumi, yang mengatakan bahwa masalahnya tidak sesederhana itu. Masalahnya, kata Natsir, bukan sekedar memilih kawan untuk bekerjasama, tapi pengakhiran perundingan Jenewa itu perlu dilakukan dengan prosedur biasa dan tertib, dan pada waktu yang menguntungkan Indonesia.

Karir politik Sirajuddin Abbas terbilang bagus. Sejak proklamasi kemerdekaan hingga pertengahan 1950-an, ia duduk sebagai anggota parlemen mewakili Perti. Puncak karir politiknya saat ia diserahi amanah sebagai Menteri Kesejahteraan Umum dalam Kabinet Ali Sastroamidjojo I, menggantikan Sudibjo yang mengundurkan diri.

Dan sepanjang masa pengabdian politiknya, Sirajuddin Abbas tidak pernah putus mendukung garis politik Bung Karno. Hampir dalam setiap ceramahnya dan pidatonya ia selalu membela dan menunjukkan kekagumannya kepada sosok dan pemikiran Bung Karno. Tak syak lagi, ia merupakan loyalis tulen Bung Karno, hingga akhirnya hayatnya. KH Sirajuddin Abbas wafat  5 Agustus 1980, di usia 75 tahun. [Satyadarma Hs.]