Presiden RI kelima Megawati Soekarnoputri saat bertemuPresiden Korea Selatan Moon Jae-in di Blue House, Korea Selatan Senin (29/5/2017)/DPP PDI Perjuangan

Koran Sulindo – Gubernur Provinsi Jeju, Korea Selatan, Won Hee Ryon, mengatakan Presiden RI kelima Megawati Soekarnoputri dipandang mampu meneruskan peran ayahnya, Presiden RI pertama Soekarno yang dulu getol membantu upaya perdamaian dua Korea.

“Dari zaman Presiden Soekarno hubungan Selatan dengan Utara sudah dibantu. Jadi kami berpikir Megawati adalah orang paling utama dan penting untuk bisa menjembatani kedua negara,” kata Won Hee Ryon, dalam jamuan makan malam menghormati Megawati, di Jeju, Selasa malam waktu setempat.

Won Hee Ryon juga mengatakan rakyat di Pulau Jeju sangat menyayangi Megawati. Bukan hanya karena tokoh dunia saja, melainkan karena Megawati konsisten menjaga hubungan baik dengan Korea Selatan.

Megawati disebutnya sudah mengunjungi ibukota dua Korea, baik Seoul maupun Pyongyang, sambil mengupayakan perdamaian semenanjung Korea.

“Ibu Mega sudah mengunjungi Seoul dan Pyongyang sambil mengupayakan perdamaian Semenanjung Korea. Kami harapkan sekali lagi peran Ibu,” kata Won Hee Ryon.

Selama 10 tahun terakhir, Jeju sebagai satu-satunya Provinsi berotonomi khusus di Korsel terus berupaya menjembatani persatuan Korea Utara dengan Selatan.

Dengan bantuan Megawati, Gubernur Jeju berharap dapat berbicara lebih detail mengenai upaya reunifikasi tersebut.

Jerman Bisa Bersatu

Dalam acara yang sama, Megawati mengatakan bersedia membujuk Korea Utara mau berdialog, dan mengusulkan agar pertemuan dalam kerangka reunifikasi itu berlangsung di Pulau Jeju.

“Semalam saya berpikir dan saya berandai, kalau sekiranya saya dapat menyampaikan suatu keinginan dari Korsel untuk bertemu dengan Korut, saya mencari tempat dan saya lalu berpikir alangkah baiknya jika pertemuan tersebut dapat dilakukan di Pulau Jeju,” kata Megawati. ¬†oleh Gubernur Jeju, Won Hee Ryon, di Jeju, Selasa.

Megawati juga mengusulkan agar dialog dalam kerangka reunifikasi dapat dilakukan di Pulau Jeju, yang dikenal sebagai pulau perdamaian.

Megawati mengaku tidak pernah melupakan pernyataan Gubernur Jeju Won Hee Ryon bahwa Jeju adalah pulau perdamaian.

Megawati juga menilai dengan keadaan situasional dunia yang penuh kecamuk, peperangan maupun kekerasan, maka dunia memang memerlukan adanya zona damai.

Megawati juga mengharapkan wakil bangsa Indonesia bersedia menjembatani pertemuan tersebut sesuai harapan dari Presiden Korea Selatan, Moon Jae-in.

“Tentu saja saya harus mendapatkan izin dari Gubernur Jeju dan Dewan Perwakilan Rakyat Jeju. Saya juga coba berhitung mudah-mudahan saya juga diberikan suatu hasil di dalam memperbaiki hubungan kedua negara ini,” kata Megawati.

Saat membahas perpecahan dua Korea, Megawati terlihat menahan terharu, nada bicaranya tiba-tiba berubah lirih.

“Sebagai manusia kita selalu berkeinginan bersatu,” katanya.

Selama ini, ia menilai, begitu lama kepahitan dirasakan pihak Korea Utara dan Korea Selatan yang terpisah.

“Saya teringat ayah saya. Saya bertanya pada beliau ketika persoalan Jerman, Pada waktu itu saya masih muda. Saya tanya bisakah sebuah bangsa yang dipisahkan itu bersatu kembali. Ayah saya katakan pasti bisa sepanjang darah bangsa itu masih ada, dan pada kenyataannya sekarang Jerman telah bersatu,” katanya.

Merujuk keyakinan Bung Karno bahwa Jerman Barat dan Jerman Timur bisa bersatu kembali, Megawati meyakini suatu saat dua Korea pasti bersatu. Namun semua itu bergantung pada rakyat Korea.

“Saya minta dengan sangat dukungan semua rakyat Jeju beserta pimpinannya untuk bisa membantu saya untuk sekiranya saya bisa menjalin hubungan atau datang ke Korea Utara pada waktu-waktu yang akan datang,” kata Megawati.

Dalam lawatannya ke Seoul Korea sejak Senin (29/5) lalu, Megawati diundang Presiden Korea Selatan Moon Jae-in di Blue House, dan secara khusus dimintai bantuan agar bersedia menjembatani upaya reunifikasi dua negara serumpun di Semenanjung Korea itu.

Permohonan itu ditegaskan kembali Gubernur Jeju Won Hee Ryon malam ini. [CHA/DAS]