Menteri Koordinator Bidang Infrastruktur dan Pembangunan Kewilayahan, Agus Harimurti Yudhoyono. (Foto: Sulindo)

BEKASI – Menteri Koordinator Bidang Infrastruktur dan Pembangunan Kewilayahan, Agus Harimurti Yudhoyono (AHY), meninjau langsung kondisi para korban kecelakaan maut yang melibatkan KRL dan kereta api di Stasiun Bekasi Timur. Dalam tinjauannya di RSUD Kota Bekasi, AHY mengungkapkan data terbaru terkait jumlah korban jiwa.

“Per siang tadi, 15 orang dinyatakan meninggal dunia. Tentu ini adalah kehilangan besar dan duka cita terdalam kita haturkan kepada keluarga korban. Semoga semua husnul khotimah,” ujar AHY saat memberikan keterangan pers didampingi Wali Kota Bekasi Tri Adhianto dan jajaran direksi PT KAI, Selasa (28/4).

AHY menjelaskan bahwa evakuasi dilakukan secara masif dengan mengerahkan 163 unit ambulans untuk membawa korban ke 10 rumah sakit di kawasan Bekasi. Berdasarkan dialog langsung dengan pasien, mayoritas korban luka mengalami patah tulang dan dislokasi akibat benturan keras.

Terkait langkah strategis ke depan, AHY menegaskan telah berkomunikasi dengan Menteri Perhubungan dan Menteri Pekerjaan Umum guna membenahi sistem perlintasan sebidang. Menurutnya, perlintasan sebidang yang sangat padat harus segera diberikan solusi infrastruktur permanen.

“Kita ingin memastikan hadirnya solusi infrastruktur. Misalnya, perlintasan sebidang yang sangat padat perlu dibangun flyover atau underpass. Perlu integrasi yang baik antara pengelola jalan darat dengan pengelola rel kereta untuk mengedepankan faktor keselamatan,” tegasnya.

Selain infrastruktur fisik, AHY juga menyoroti aspek operasional, termasuk usulan kajian ulang mengenai penempatan gerbong khusus wanita. Hal ini dikarenakan posisi gerbong wanita yang berada di bagian paling belakang menjadi titik paling rentan saat terjadi tabrakan dari arah belakang.

“Ini menjadi bagian yang akan terus kita evaluasi. Fokus utama kita adalah bagaimana sistem transportasi publik ini benar-benar aman. Safety first tidak boleh hanya menjadi jargon, tapi benar-benar diterapkan,” imbuhnya.

Mengenai penyebab pasti kecelakaan, AHY meminta Komite Nasional Keselamatan Transportasi (KNKT) untuk bekerja cepat dan transparan dalam melakukan investigasi, termasuk menyelidiki dugaan gangguan sistem persinyalan.

“Saya minta (investigasi) transparan, terbuka, dan dijelaskan kepada publik. Ada aspek edukasi juga di sini, jangan sampai ada kendaraan macet di tengah rel yang mengakibatkan kecelakaan maut. Tidak ada yang lebih berharga dari nyawa manusia,” kata AHY.

Pemerintah juga memastikan bahwa seluruh penanganan medis akan dikawal melalui kerja sama antara KAI, Jasa Raharja, dan BPJS Kesehatan guna menjamin seluruh korban mendapatkan perawatan terbaik hingga pulih. [IQT]