Catatan Cak AT:
Di Amerika, data sudah seperti ladang minyak baru. Bedanya, kalau minyak harus dibor ke perut bumi, data tinggal dibor ke kebiasaan manusia.
Orang batuk dicatat. Orang marah dianalisis. Orang belanja diamati. Orang insomnia dipetakan. Bahkan orang yang tiap malam stalking mantan pun, diam-diam sedang menyumbang miliaran dolar ke industri kecerdasan buatan.
Sementara di negeri kita, data masih diperlakukan seperti sandal jepit di depan masjid: berserakan, tercecer, kadang hilang sebelah. Elon Musk, manusia yang kalau ngomong kadang seperti nabi teknologi, kadang seperti admin grup WA yang baru putus cinta.
Tiga bulan lalu ia masih menyebut Anthropic sebagai perusahaan “jahat”, “misanthropic”, bahkan pembenci peradaban Barat.
Tapi dunia AI memang dunia yang lebih cepat berubah daripada janji kampanye. Minggu ini, Musk justru menyewakan superkomputer raksasanya kepada Anthropic dengan nilai bisnis sekitar tiga sampai empat miliar dolar per tahun.
Luar biasa. Kemarin musuhan. Hari ini mengontrakkan server, infrastruktur data akbar. Beginilah kapitalisme digital bekerja. Tak ada musuh abadi. Yang abadi hanyalah tagihan listrik data center.
Yang menarik bukan sekadar Musk berubah pikiran. Yang menarik adalah arah perubahan itu. Dulu orang berebut membuat model AI paling pintar. Sekarang orang mulai sadar: yang paling berkuasa bukan cuma pembuat AI, melainkan pemilik infrastruktur data.
Siapa menguasai pusat data, dia menguasai masa depan kecerdasan buatan. Maka Musk perlahan bergeser. Dari pemain AI menjadi tuan tanah AI. Dari pendekar gelanggang menjadi pemilik stadion. Dari penjual mie menjadi pemilik ruko dan parkiran sekaligus.
Dan itu lebih mengerikan. Karena AI modern bukan hidup dari udara dan doa orang saleh. Ia hidup dari tiga hal: data, listrik, dan GPU. Semuanya mahal. Semuanya rakus energi. Semuanya membutuhkan skala yang hampir tidak masuk akal.
Bayangkan satu pusat data berisi ratusan ribu GPU Nvidia bekerja siang malam seperti ribuan santri sedang menghafal kitab tanpa tidur. Panasnya luar biasa. Konsumsi listriknya bisa menyaingi kota kecil. Dan semua itu dibangun hanya untuk melatih mesin agar bisa menjawab pertanyaan seperti: “Apa tanda isteri masih sayang?”
Manusia memang spesies yang aneh. Tetapi di situlah nilai ekonomi terbesar abad ini lahir. Data bukan lagi sekadar arsip. Data telah menjadi bahan bakar geopolitik, ekonomi, militer, budaya, bahkan ideologi.
Amerika paham. China paham. Eropa mulai sadar. Kita? Kita masih sibuk berdebat soalnya haramnya fotokopi KTP.
Padahal Indonesia adalah surga data yang belum dipanen serius. Penduduk ratusan juta. Bahasa beragam. Tradisi kaya. Kebiasaan unik. Percakapan digital melimpah. Ceramah agama ribuan jam tiap hari. Manuskrip kuno bertumpuk. Budaya lokal berlapis-lapis.
Tapi semuanya tercerai-berai seperti gudang perpustakaan yang habis diterjang banjir.
Data kementerian tidak nyambung dengan data lembaga lain. Arsip budaya masih banyak jadi PDF mati. Manuskrip rusak dimakan rayap. Rekaman bahasa daerah hilang pelan-pelan bersama wafatnya generasi tua.
Bahkan kadang negara lebih cepat mendata pelanggaran warganya daripada mendata pengetahuan bangsanya sendiri.
Ironis sekali. Kita ini negeri besar yang hidup di atas gunung emas digital, tetapi sibuk menjual cangkul.
Lucunya lagi, banyak orang masih mengira data hanyalah urusan statistik dan administrasi. Padahal data adalah memori peradaban. Kalau data kita dikuasai pihak lain, lama-lama cara berpikir kita pun ikut dipetakan, diprediksi, lalu diarahkan.
Hari ini AI belajar dari bahasa manusia. Besok AI belajar dari budaya manusia. Lusa AI bisa menentukan budaya mana yang dianggap relevan dan mana yang perlahan dilupakan.
Maka jangan heran kalau nanti anak-anak lebih mengenal mitologi Marvel daripada hikayat Nusantara. Bukan karena budaya kita jelek, tetapi karena budaya kita tidak pernah benar-benar masuk ke mesin masa depan.
AI hanya bisa mengingat apa yang didigitalkan. Yang tidak terdokumentasi akan dianggap tidak pernah ada. Di sinilah tragedi besar kita.
Negara maju mengubah data menjadi tambang ekonomi raksasa. Kita justru membiarkan data budaya, data pendidikan, data sosial, data bahasa, bahkan data keagamaan berserakan seperti barang bekas di gudang proyek.
Kita punya ulama besar, tetapi ceramahnya hilang di harddisk rusak. Kita punya manuskrip kuno, tetapi belum selesai dipindai. Kita punya bahasa daerah ratusan, tetapi banyak belum punya korpus digital. Kita punya tradisi intelektual panjang, tetapi mesin AI global lebih mengenal meme TikTok daripada khazanah Nusantara.
Sementara itu dunia berlari seperti kereta peluru. Dan yang paling menyedihkan: kita sering merasa modern hanya karena ramai di media sosial, padahal data kita sendiri tidak pernah sungguh-sungguh kita kelola.
Akhirnya kita hanya menjadi pasar. Bukan pemain. Menjadi pengguna. Bukan pengendali.
Elon Musk mungkin berubah-ubah pendapat tentang AI. Hari ini bilang bahaya, besok bilang masa depan cerah. Tetapi satu hal yang dipahaminya tidak berubah: siapa menguasai data dan infrastrukturnya, dialah yang memegang tuas kekuasaan baru dunia.
Dan di tengah perebutan global itu, kita masih sering memperlakukan data seperti sampah administrasi.
Padahal mungkin, di tumpukan server yang berdebu, di harddisk kampus yang nyaris rusak, di arsip pesantren yang belum dipindai, di rekaman bahasa daerah yang belum pernah ditranskripsi, di situlah sesungguhnya harta karun peradaban kita sedang menunggu diselamatkan.
Kalau tidak, kelak AI dunia akan tahu segalanya tentang manusia, kecuali tentang kita sendiri.
Cak AT – Ahmadie Thaha | Kolumnis