Darsono: Dari Semarang Kembali ke Semarang!

Darsono: Dari Semarang Kembali ke Semarang!

Darsono memulai karier politiknya di Semarang setelah berkenalan dengan Semaoen dan Sneevliet tahun 1917 dan di kota itu juga pada tahun 1976 Darsono meninggal dunia.

Semaun (kiri) dan Darsono/ Suara Merdeka - 5 Februari 1955

Koran Sulindo –   “Mengapa CSI tidak punya uang sementara Tjokro kelimpahan? Kromo harus dipimpin oleh orang jujur dan unggul dengan keyakinan kuat, cita-cita luhur dan kelakuan tanpa cela.”

Kutipan artikel Kepemimpinan CSI dalam Pengamatan tulisan Darsono yang diterbitkan bersambung di Sinar Hindia tanggal 6, 7 dan 8 Oktober 1920 itu.

“Pergerakan bumiputra sekarang mengalami saat-saat sulit untuk melakukan pembersihan diri guna memperbaiki kesalahan-kesalahan kita,” lanjut Darsono dalam tulisannya itu.

Tjokro diserang Darsono karena pinjaman sebesar 2.000 gulden bagi CSI dengan jaminan mobil CSI yang dibeli Tjokro sebagai bendahara untuk kepentingan Tjokro ketika menjadi ketua.

Pengeluaran Tjokro yang ‘luar biasa’ juga tak luput dari kritik Darsnono yang mempersoalkan pembelian mobil seharga 3.000 gulden dan perhiasan untuk istri keduanya.

Dibongkarnya skandal yang coba ditutup rapat-rapat itu benar-benar menelanjangi Tjokroaminoto yang sebelumnya dicitrakan sebagai ‘satria’.  Ia runtuh dengan noda tak terhapuskan.

Dalam khazanah pergerakan saat itu, kata ‘meng-Tjokro’ lazim dimaknai berperilaku seperti Tjokro yang serta serta merta dimaknai ‘menggelapkan’.

Lebih lanjut dalam artikel itu, Darsono menunjukkan bagaimana uang bekerja mempengaruhi para pemimpin pergerakan. Betapa godaan uang dan ketamakan mengubah mereka yang semula  merupakan satria menjadi ‘racun’ yang menggerogoti organisasi.

Bukan tanpa alasan Darsono membongkar perilaku Tjokro pada waktu itu.

Serangannya bertepatan ketika Sarekat Islam mulai memperkenalkan gagasan disiplin partai untuk membersihkan unsur-unsur komunis di organisasi itu dengan larangan memiliki keanggotaan rangkap.

Sebagai organisasi yang menyatukan berbagai elemen pergerakan tanpa batasan ideologi, SI langsung terpecah begitu gagasan itu diperkenalkan. Mereka terbelah dalam faksi SI Yogyakarta yang ditopang Muhammadiyah melawan SI Semarang yang kiri.

Ide disiplin partai kali pertama dilontarkan pada pertemuan bestuur Centraal Sarekat Islam (CSI) tanggal 30 September 1920 di Yogyakarta yang membahas persoalan-persoalan terkait kongres CSI yang akan datang.

Pertemuan itu sebenarnya secara terselubung dimanfaatkan SI Yogyakarta mendongkel Tjokro yang kebetulan tak bisa hadir karena harus ke Ciamis menghadiri pengadilan kasus Afdeling B sebagai saksi.

Selain Tjokro, pemimpin CSI lain seperti Semaoen juga berhalangan dan hanya mengirim Darsono sebagai wakilnya. Belakangan, kehadiran Darsono ditolak karena sebagai propagandis CSI ia bukan anggota penuh.

Darsono dan Snevlieet

Rencana Berantakan

Dalam pertemuan itu, tanpa kehadiran penentang-penentangnya komite sentral dengan gampang mempreteli seluruh kekuasaan Tjokro. Hampir semua anak buah Tjokro didepak dari komite sentral sedangkan sebagai ‘ketua’ Tjokro cuma diserahi “tanggung jawab dan propaganda umum CSI.”

Setelah pertemuan itu, markas besar CSI segera diboyong dari Surabaya ke Yogyakarta dan dagelijk bestuur baru dibentuk dengan Soerjopranoto sebaga i wakil ketua dan Salim sebagai sekretaris sementara Fachrodin didapuk sebagai bendahara.

Selain memutuskan pemindahan markas CSI, pertemuan itu juga diputuskan untuk menggelar kongres CSI tanggal 16 Oktober di Surabaya dengan agenda utama yakni mengintrodusir gagasan disiplin partai.

Keputusan pertemuan Yogyakarta menggelar kongres SI jelas merupakan putusan buru-buru karena hanya menyisakan waktu dua minggu untuk persiapan.  Mengapa SI Yogyakarta begitu tergesa-gesa?

Di belakang semua tarik ulur dan pertentangan sengit kepemimpinan CSI, Soerjopranoto dan Agus Salim jauh-jauh hari sudah menjadwalkan pertemuan dengan Gubernur Jenderal Van Limburg Stirum pada tanggal 20 Oktober.

Kesuksesan penerapan disiplin partai di SI bakal menjadi hadiah mereka untuk sang gubernur jenderal.

Seperti tanpa cela di atas kertas, rencana Soerjopranoto dan Agus Salim itu rusak begitu saja ketika Darsono menerbitkan secara bersambung artikel Kepemimpinan CSI dalam Pengamatan di Sinar Hindia tanggal 6, 7 dan 8 Oktober 1920 itu.

Dalam tulisan itu Darsono menekankan ‘pemurnian’ dalam ide disiplin partai seharusnya ditujukan untuk menyembuhkan ‘kerusakan’ di tubuh SI. Gagasannya mendasarkan pada bagaimana seharusnya seorang pemimpin pergerakan seharusnya berlaku dan bertingkah.

Serangan itu juga membuat kacau agenda yang sudah disusun CSI untuk kongres tanggal 16 Oktober mendatang. Agenda segera diubah dari isu pemberlakuan disiplin partai menjadi manajemen Tojkro atas uang CSI.

Ketika Darsono mengakhiri artikel itu pada tanggal 9 Oktober dengan delegasi-delegasi SI sudah mulai hadir di Surabaya untuk mengikuti kongres, Soerjopranoto, Salim, Fachrodin, dan Hasan Djajadiningrat berunding di Yogyakarta sekaligus memerintahkan penundaan kongres CSI.

Dengan ditundanya kongres itu, rencana SI Yogyakarta mengintrodusir isu disiplin partai sekaligus persembahan hadiah pada gubernur jenderal itu gagal total.

Mereka berangkat ke Bogor tanggal 18 Oktober dengan tangan kosong dan pulang juga bertangan hampa tanpa memperoleh hal berarti dari Van Limburg Stirum.

Melihat hasilnya, serangan Darsono adalah taktik cemerlang menjegal hoofdbestuur CSI mengadopsi gagasan disiplin partai di SI.

Anak Bangsawan

Lahir tahun 1893 di Pati, Jawa Tengah, Darsono termasuk dalam golongan bangsawan Jawa. Ayahnya yang bertugas sebagai pejabat kepolisian setempat memberinya nama Raden Darsono Notosudirdjo.

Berhasil menamatkan sekolah dasar untuk anak-anak Eropa, Darsono melanjutkan  ke pendidikannya ke sekolah pertanian dan bekerja di perkebunan tebu.

Pergaulan yang intens dengan petani-petani tebu itulah yang belakangan menyadarkan Darsono bahwa hal satu-satunya hal yang bisa diberikan pemerintah kolonial adalah kemiskinan sekaligus sistem sosial yang buruk.

Gagal melanjutkan pendidikan sekolah dokter hewan, Darsono akhirnya meninggalkan pekerjaannya dan memutuskan kembali ke Semarang.

Di kota itulah ia mulai tertarik pada ide-ide sosialisme dan mulai berkenalan dengan dunia politik ketika hadir dalam persidangan Sneevliet tahun 1917. Darsono, segera terpikat dengan orang Belanda yang dianggapnya sangat memihak pribumi itu.

Di persidangan itu juga ia bertemu dengan Semaoen yang kemudian mengajaknya bergabung dengan SI Semarang. Ia juga sekaligus menempatkannya Darsono dalam redaksi Sinar Djawa. Darsono juga bergabung dengan ISDV yang secara klandestin  membentuk ‘blok dalam’ di SI.

Didukung oleh kemampuan teoritis dan kepemimpinannya tak butuh waktu lama bagi Darsono untuk menjadi sosok yang menonjol di organisasi itu.

Ketika Komunis Internasional menganjurkan ISDV bergabung dengannya, kongres ISDV pada tanggal 20 Mei 1920 menyepakati perubahan ISDV menjadi Perserikatan Komunis Indonesia sekaligus menjadi partai komunis Asia pertama yang menjadi bagian dari Komintern.

Semaoen ditunjuk sebagai ketua dan Darsono sebagai wakilnya.

Di titik inilah pergerakan di Hindia mengalami transformasi yang mendalam yang dimulai sejak Kongres CSI pada 1919 yang mulai menyuarakan ‘pemurnian’.

Bermula dari pemberontakan petani di Garut dan terbongkarnya kasus Afdeling B yang memicu ketakutan saudagar Arab dan muslim putihan penyokong utama SI, basis pendukung Tjokro segera runtuh karena sumber keuangannya menipis.

Di sisi yang lain, Tjokro juga dianggap kehilangan simpati dan restu dari golongan etisi Belanda.

Gawatnya keuangan SI digambarkan dengan gamblang ketika pada bulan Mei 1920 Tjokro ‘terpaksa’ meminjamkan uang sebesar 2.000 gulden kepada SI. Ajaib, karena yang menjadi jaminan utang itu adalah mobil yang dibeli Tjokro seharga 2.800 gulden sebagai bendahara untuk ketua yang ‘kebetulan’ dijabat dirinya sendiri.

‘Sulap’ inilah yang kemudian digunakan Darsono sebagai bahan serangan SI Semarang saat menulis Kepemimpinan CSI dalam Pengamatan itu.

Darsono dan Tan Malaka.

Tipis Telinga

Meski serangan itu dilakukan Darsono tanpa berkonsultasi dengan Semaoen, Piet Bergsma dan pemimpin SI di Semarang, serangan itu dianggap sebagai serangan komunis terhadap pemimpin SI.

Pertikaian itu membawa perselisihan ke tingkat yang lebih sengit antara Semaoen, Bersgma, SI Semarang, Vereeninging voor Spoor en Tramwegpersoneel atau VSTP, sayap kiri PPKB di satu sisi melawan Soerjopranoto, Salim, dan Fachrodin yang menguasai CSI, SI Yogyakarta, PFB, PPPB, dan faksi-faksi non komunis di PPKB.

Menanggapi serangan itu, Soerjopranoto menuduh PKI ‘mencoba membubarkan CSI’ dan segera memerintahkan untuk mengakhiri semua hubungan PFB dengan faksi komunis di PPKB.

Tak cuma Soerjopranoto, Fachrodin juga segera menyerang komunisme sebagai gagasan yang bertentangan dengan Islam dengan mengaitkan serangan Darsono kepada Tjokro dengan tesis Lenin tentang gerakan Pan-Islamisme dan Pan-Asia yang terbit di Het Wrije Woord,organ PKI berbahasa Belanda pada tanggal 20 November.

Pada artikelnya yang bertajuk Awas, Fachrodin yang menginterprestasikan pan-Islamisme sebagai ‘pergerakan persatuan Islam’ menyerang komunis sebagai musuh sajeroning cangklakan dan weri sajeroning wangon yang bermakna tunggal, musuh dalam selimut!

Lebih jauh, bahkan Fachrodin menuding Darsono berniat “merobohkan agama kita Islam dan bermaksud memecah SI dengan sengaja menaburi mata segenap lid SI supaya jangan sampai percaya lagi pada Tjokro.”

Diserang secara membabi-buta, Semaoen, Bergsma segera memukul balik. Mereka membalas kepada Soerjopranoto dengan mengatakan bahwa pemimpin pergerakan seharusnya menjadi ‘budak’ dan bukan ‘raja’nya rakyat sembari mengingatkan julukan si ‘raja mogok’ yang disandang Soerjopranoto.

Di saat yang sama Arjo Troenodjojo mencap Fachrodin sebagai ‘tukang fitnah’ dan ‘munafik’.

Sebenarnya, nyaris seluruh pertikaian itu sedikit kaitannya dengan perbedaan ideologis antara kepemimpinan PKI dan CSI.

Kedua belah pihak saling lempar kata-kata celaan seperti racun, jahat, penjual bangsa, pembantu kapitalis, pengecut, tukang fitnah, munafik, penyakit, tukang cuci tangan, dan banyak lagi. Seperti disesalkan Semaoen, “pemimpin-pemimpin SI, besar dan kecil, berdarah panas dan tipis telinga.”

Makin banyak celaan dan cacian dilemparkan, sementara makin marah dan panas para pemimpin SI, banyak anggota-anggota biasa justru menjadi terasing. Banyak dari mereka menyadari, serangan yang dimulai Darsono telah menjadi berlarut-larut dan menggerogoti keperkasaan SI.

Kedua belah pihak ingin segera mengakhiri perselisihan itu.

Di sisi lain, meski banyak pihak mencela cara Darsono menyerang Tjokro terutama karena waktunya yang tidak tepat. Mereka tetap menuntut penyelidikan penuh atas manajemen Tjokro atas uang CSI.

Supaya masalah segera tuntas dan tak berlarut-larut, CSI akhirnya sepakat menggelar pertemuan bestuur CSI tanggal 17 Januari 1921 di Yogyakarta khusus menyelesaikan masalah itu.

Dari faksi Yogyakarta hadir Soerjopranoto, Salim, Facrodin, Marco, Reksodipoetro, Tedjomartojo dan Soemodirhardjo. Sedangkan dari faksi  Semarang hadir Semaoen, Darsono, dan Bergsma. Pertemuan juga menyepakati kongres CSI bakal digelar pada bulan Maret 1921.

Darsono dan putranya Alam Darsono (foto/search.socialhistory.org)

Perdamaian

Ketika kongres akhirnya digelar, Darsono mengkritik diri sendiri atas caranya menyerang Tjokro. Di sisi lain, meski kepercayaan untuk memimpin SI kembali diberikan kepadanya sebuah komite dibentuk untuk menyelidiki penggunaan uang CSI. Tentu saja komisi ini cuma formalitas.

Hasil terpenting dari kongres adalah sebuah deklarasi baru CSI yang disusun bersama antara Semaoen dan Salim. Dalam deklarasi itu disebut bahwa SI berdasarkan pada prinsip-prinsip Islam.

Di lain pihak dengan jelas juga dinyatakan, “SI percaya bahwa kejahatan dominasi penguasa dan ekonomi itu semata akibat kapitalisme.”

“Oleh karena itu rakyat di koloni harus dibebaskan dari kejahatan dan harus berjuang melawan kapitalisme. Jika perlu, dengan seluruh tenaga dan kemampuan terutama oleh persatuan serikat buruh dan petani.”

Meski tak benar-benar mereda untuk sementara deklarasi itu memuaskan kedua belah pihak.

Usai kongres SI, Darsono mewakili PKI pada Kongres ke-III Komintern 22 Juni-12 Juli 1921 di Moskow dan tinggal selama dua tahun di luar negeri. Selama waktu itu, ia bekerja pada biro Komitern di Berlin dan berbicara pada kongres Partai Komunis Belanda di Groningen lalu kembali ke Moskow tahun 1922.

Ia baru kembali ke Indonesia tahun 1923 dan secara ekstensif memimpin kembali PKI di jalur persaingan sengit dengan SI.

Pada akhirnya, dalam kongres PKI pada bulan Juni 1924 dengan penuh kemenangan Darsono menyatakan bahwa PKI dan SI Merah/Sarekat Rakyat menang atas PSI/CSI dalam perebutan hegemoni pergerakan.

Di sisi lain, perkembangan itu justru membawa pergerakan ke dalam sebuah kontek politik yang benar-benar baru. Pemerintah kolonial menggeneralisir bahwa pergerakan sama dengan gerakan komunis.

Kekhawatiran utama mereka terletak pada dua asumsi; menganggap komunisme sebagai sesuatu yang asing bagi pribumi dan PKI berada di bawah komando Komintern. Sejalan dengan tindakan itu, agen-agen dan informan dari Algemeene Recherchedienst lebih dalam lagi menelusup dalam PKI dan SR.

Darsono pada akhirnya ditangkap tahun pada tahun 1925 dan dibuang ke luar Hindia setahun berikutnya dan menuju Moskow melalu Singapura dan Cina. Menggunakan nama samaran Samin, Darsono bekerja di Komintern dan terpilih sebagai anggota alternative Komite Eksekutif Komintern pada tahun 1928.

Pada tahun 1935, Darsono pindah ke Belanda dan baru pulang ke Indonesia tahun 1950 di mana ia mengundurkan diri dari gerakan komunis dan bekerja di Kementerian Luar Negeri sebagai penasihat dan pensiun pada tahun 1960.

Darsono meninggal tahun 1976 di tempat di mana ia memulai kegiatan politiknya, Semarang! [Teguh Nugroho]