(foto: goodnewsfromindonesia.id)

Koran Sulindo – Tahukah anda bahwa permainan tradisional congklak yang dikenal masyarakat hampir di seluruh pelosok tanah air ternyata bukan asli Indonesia. Berdasarkan hasil penelitian, para ahli percaya bahwa permainan ini berasal dari Timur Tengah yang kemudian menyebar ke Afrika dan Asia.

Masuknya para pedagang dari negara lain ke Indonesia, tidak bisa tidak, menyebabkan pertukaran budaya antara para pendatang dengan penduduk pribumi. Pertukaran tidak hanya terjadi di bidang perdagangan, tetapi juga dalam bidang lainnya seperti bahasa, ilmu pengetahuan, dan budaya.

Pada sebuah penggalian arkeologi di wilayah Yordania pernah ditemukan sebuah lempengan yang terbuat dari batu kapur, dengan bentuk memanjang dan terdapat beberapa cekungan berderet secara paralel. Para ahli menyimpulkan bahwa benda itu adalah sebuah papan permainan tradisional congklak yang berasal dari sekitar  7000 – 5000 tahun Sebelum Masehi.

Menurut beberapa ahli, hasil penelitian yang mengatakan bahwa asal permainan tradisional congklak dari negara Arab, bisa jadi benar. Karena di daerah Timur Tengah memang permainan tradisional congklak ini telah lama dikenal dengan nama mancala. Mancala sendiri berasal dari bahasa Arab, Naqala yang artinya bergerak.

5.000 tahun Sebelum Masehi konon merupakan waktu dimana diyakini sebagai asal permainan tradisional congklak ini. Berasal dari kebudayaan yang sangat kuno dan kemungkinan besar merupakan salah satu permainan tertua yang dikenal manusia modern. Catatan tertulis pertama mengenai permainan tradisional congklak ada pada tulisan-tulisan keagamaan tradisional di Arab. Beberapa ahli berpendapat bahwa permainan tradisional congklak dibawa dari Timur Tengah ke daratan Afrika. Dari Afrika kemudian menyebar ke Asia melalui perdagangan budak yang dilakukan oleh pedagang Afrika di kepulauan Karibia pada sekitar abad ke-17.

Disinyalir pada zaman dahulu permainan tradisional congklak di Indonesia hanya dimainkan oleh kalangan bangsawan, terutama oleh para anak-anak dan remaja putri. Cukup beralasan, karena permainan congklak yang masuk ke Indonesia dibawa oleh para pedagang yang kemungkinan besar lebih banyak berinteraksi dengan para pejabat, pengusaha, dan para bangsawan. Banyak dari para pedagang ini saling memberi buah tangan untuk para penguasa setempat. Papan congklak bisa saja merupakan salah satunya. Dari sinilah permainan ini mulai dikenal oleh para anak bangsawan, terutama anak gadis. Oleh sebab itu permainan tradisional congklak juga sering disebut sebagai “permainan gadis”.

(foto : Pinterest)

 

Namun seiring berjalannya waktu, permainan tradisional congklak semakin dikenal luas oleh penduduk dan orang awam dari berbagai strata dan mulai banyak dimainkan oleh masyarakat luas di Indonesia. Di beberapa tempat, permainan tradisional congklak hanya dimainkan pada saat-saat tertentu saja. Seperti di daerah Sulawesi yang hanya memainkan congklak pada saat ada kerabat yang meninggal dunia. Bermain congklak dianggap tabu jika dilakukan pada waktu selain saat berkabung. Sedangkan masyarakat Jawa Kuno menggunakan congklak untuk menghitung musim tanam dan musim panen.

Jika semua asumsi itu benar, bahwa congklak berasal dari ribuan tahun sebelum masehi, maka congklak adalah salah satu warisan budaya yang sangat kuno.

Baca juga Permainan Kelereng : Berlayar Menembus Masa

Di daerah Sumatera permainan ini dikenal dengan nama congkak. Sedangkan di Jawa, lebih dikenal dengan nama congklak, dakon, dhakon atau dhakonan. Warga Lampung menyebutnya dentuman lamban dan di daerah Sulawesi penamaan untuk permainan ini adalah mokaotan, maggaleceng, aggalacang dan nogarata.

Dalam bahasa arab dinamakan mancala. Di Afrika, permainan tradisional congklak disebut “wari”. Malaysia seperti juga di Sumatera mengenalnya dengan nama congkak. Sedangkan masyarakat Filipina menamainya sungka.

Dibalik sebuah permainan ternyata congklak mengandung filosofi dari nilai-nilai kebudayaan bangsa Indonesia. Biji congklak yang dikumpulkan dari lubang-lubang kecil ke lubang yang lebih besar adalah simbolisasi dari padi atau hasil tanam penduduk desa yang kemudian dipanen dan disimpan kedalam lumbung untuk persediaan bahan pangan penduduk.

Sedangkan bagi anak-anak, permainan congklak dapat dijadikan media pendidikan matematika transisi dari TK ke SD. Karena dapat memperkenalkan metode berhitung. Selain juga dapat memberikan pendidikan saling menghargai sesama teman karena bergantian mengisi lubang congklak. Mereka juga dilatih sabar mengisi biji-biji congklak dengan hati-hati dan satu per satu. Congklak membawa nilai-nilai kebijaksanaan yang bermanfaat bagi psikologis anak. [Nora E]