Beragam jenis keju di dunia memiliki ciri khasnya masing-masing. Ada yang terkenal karena rasa lembut dan gurihnya seperti Mozzarella, ada pula yang harum tajam seperti Blue Cheese, bahkan ada keju yang diburu karena proses fermentasinya yang panjang seperti Parmesan.
Dari Eropa hingga Asia, keju telah menjadi bagian penting dari budaya kuliner yang terus berkembang.
Namun, di balik kelezatan dan kemewahan yang biasa melekat pada makanan ini, terselip satu jenis keju yang dianggap unik bahkan berbahaya.
Bukan karena rasa atau tampilannya yang istimewa, melainkan karena keberadaan makhluk hidup di dalamnya. Dalam keju ini terdapat larva lalat yang justru menjadi kunci utama proses pembuatannya.
Keju tersebut dikenal dengan nama Casu marzu, makanan tradisional asal Sardinia, Italia, yang dijuluki sebagai “the world’s most dangerous cheese.”
Di balik keunikannya, tersimpan kisah panjang tentang tradisi, keberanian, dan kontroversi yang membuat keju ini terkenal di seluruh dunia. Mari kita mengenal lebih dekat keju ekstrem ini melalui artikel berikut.
Asal Usul dan Proses Pembuatan
Casu marzu, adalah salah satu keju yang begitu ekstrem hingga dijuluki sebagai “keju paling berbahaya di dunia.” Keju ini bukan sembarang keju, karena di dalamnya hidup ratusan larva lalat yang menggeliat. Keju tradisional ini berasal dari Sardinia, Italia.
Keju ini dibuat dari susu domba dan merupakan turunan dari keju Pecorino, yang menjadi kebanggaan masyarakat Sardinia. Dalam bahasa Sardinia, casu marzu berarti “keju busuk.”
Julukan ini bukan tanpa alasan, sebab proses pembuatannya melibatkan larva lalat keju Piophila casei yang sengaja dibiarkan berkembang biak di dalam keju.
Larva inilah yang memproduksi enzim untuk memecah lemak, membuat keju terfermentasi hingga teksturnya berubah menjadi sangat lembut, bahkan hampir cair.
Pembuatan Casu marzu dimulai dari keju Pecorino yang sudah matang. Bagian luar keju yang keras dikupas sebagian untuk membuka permukaan dalamnya.
Keju kemudian dibiarkan di udara terbuka agar lalat keju datang dan bertelur di atasnya. Setelah telur menetas, ribuan larva kecil mulai menggali ke dalam keju, mencerna dan mengurai lemaknya selama dua hingga tiga minggu.
Proses inilah yang memberikan Casu marzu aroma tajam dan rasa yang sangat kuat. Namun, yang paling mengejutkan adalah cara penyajiannya, keju ini dimakan saat larvanya masih hidup.
Bagi masyarakat lokal, larva yang masih menggeliat justru menandakan bahwa keju masih segar dan aman dikonsumsi. Jika larva sudah mati, keju dianggap benar-benar busuk dan beracun.
Menariknya, larva Piophila casei dikenal sangat aktif; ia bisa meloncat hingga 15 sentimeter. Karena itu, penikmat Casu marzu biasanya menutup wajah mereka saat menyantapnya agar tidak terkena loncatan larva.
Antara Tradisi dan Bahaya
Meski dianggap sebagai keajaiban kuliner tradisional, Casu marzu menimbulkan kontroversi besar. Pemerintah Uni Eropa, termasuk Italia sendiri, melarang peredaran keju ini karena dianggap berbahaya bagi kesehatan.
Larva hidup yang tertelan berpotensi bertahan dari asam lambung manusia dan dapat menyebabkan luka serius di saluran pencernaan, kondisi yang dikenal sebagai intestinal myiasis. Gejalanya meliputi sakit perut hebat, muntah, hingga diare.
Larangan tersebut membuat Casu marzu hanya bisa ditemukan di pasar gelap atau diproduksi secara diam-diam oleh penduduk lokal Sardinia yang masih mempertahankan tradisi leluhur mereka.
Bagi mereka, keju ini bukan sekadar makanan, melainkan simbol identitas budaya dan warisan turun-temurun. Casu marzu bahkan kerap dihidangkan dalam acara-acara khusus, seperti pernikahan atau perayaan keluarga, sebagai bentuk kehormatan bagi tamu.
Casu marzu menggambarkan batas tipis antara keunikan kuliner dan risiko kesehatan. Di satu sisi, ia menjadi bukti kekayaan tradisi dan keberanian masyarakat Sardinia dalam menjaga warisan kuliner yang ekstrem. Namun di sisi lain, proses alami yang melibatkan larva hidup membuatnya menjadi salah satu makanan paling berisiko di dunia. [UN]